Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 64 bertemu dua setan


__ADS_3

aku sedang duduk disebuah rumah yang terasa sangat asing. rumah ini tak terlalu besar namun terlihat megah, aku celingukan, heran akan sebab keberadaanku di sini. tak lama berselang, muncullah beberapa orang wanita berpakaian serba putih dengan dandanan ala princess sambil menggendong seorang bocah laki-laki.


mereka membawa sang bocah keluar dari rumah itu dan bermain di halaman, aku mengekor di belakang, meski tak disapa, ini kulihat empat orang wanita itu sedang berlari-lari dengan anak sang bocah yang tawanya terdengar begitu renyah, aku seperti mengenal bocah yang asalnya mungkin dua tahunan itu, tapi di mana dan siapa, aku tak bisa mengingatnya.


kuamati mereka yang sedang bermain dengan sangat setia dan tanpa beban itu, aku ingin bergabung, mereka tak mengajakku, eh,, aku mulai ingat dia mirip siapa, dia mirip denganku. siapa dia? mengapa dia bisa mirip denganku?


Karena penasaran, aku mencoba mendekat dan bergabung bersama mereka, namun sang bocah langsung berlari ketakutan dan memeluk salah satu wanita itu, dia tak mau menatapku dan menusukkan kepalanya di dekatkan wanita yang mungkin itu adalah ibunya.


"Hay,, aku tak jahat, aku hanya ingin ikut bermain bersama kalian,"ucapkan.


aku berusaha tersenyum, tapi mereka semua malam mengacuhkanku dan menggendong bocah yang wajahnya mirip denganku itu pergi, entah kenapa?"aku merasa sangat sedih, air mata meleleh begitu saja, aku bukan Monster tapi mengapa bocah itu takut denganku.


"kubuka mata perlahan dan mengedarkan pandangan ke segala arah, ternyata barusan aku mimpi tapi anehnya beneran aku nangis dan perasaan sedih itu masih sangat membekas kenapa aku? ku usap wajah yang basah ini dan menyeka air mata, baru kali ini aku bermimpi sedih begini, biasanya mimpi serem didatangi arwah bayi terkutuk itu, aku termenung untuk beberapa saat, berusaha menguasai kesedihan yang tak beralasan ini.


kurebahkan kembali tubuh ke tempat tidur dan mencoba memejamkan mata lagi, walau rasa kantuk seakan sudah tak ada lagi, setengah jam berlalu, tapi aku tak bisa tidur juga. aku kembali duduk lalu meraih gelas air putih di atas meja dan meneguknya hingga habis, setelah minum, aku jadi ingin pipis, mau tak mau aku bangkit dari tempat tidur.


agghhh !!!! aku menjerit histeris saat membuka pintu kamar mandi sebab melihat sosok bayi bersimpah darah di sana, segera ku tutup kembali pintu itu dengan lebaran jantung tak karuan.


ya Tuhan, bagaimana mungkin? aku berusaha meredam ketakutan, sambil memegangi dada, tak mungkin ada bayi itu di sini, ya sudah kuberikan kepada Revan, aku pasti hanya berhalusinasi saja, kutarik nafas panjang dan membuka kembali pintu kamar mandi secara perlahan, lalu melebarkan dan tak ada apapun di dalam sana, ku hembuskan dengan kasar nafas yang ku tahan tadi, aku lega ternyata yang tadi itu hanya kehaluanku saja.


*****"

__ADS_1


hari terus berlalu, aku selalu disibukkan dengan kuliah profesi aku belajar siang dan malam, berharap lulus upa (ujian profesi advokat) dengan nilai yang baik. setelah ini, aku harus lebih serius lagi menjalani magang yang sangat menentukan karirku di depannya, saat magang nanti, kami akan terjun langsung menangani suatu masalah yang tentunya dengan bimbingan seorang pengacara yang memang sudah berpengalaman di bidangnya.


Revan, bagaimana kabarnya sekarang? apa anunya masih normal setelah dikerubuti enam banci itu? aku cekikikan, hmmm... untuk saat ini akan kubiarkan kamu bernapas tenang sedikit, nanti baru ku lancarkan balas dendam part 3-nya.


pagi ini, aku sudah bersiap menjalani upa dan sialnya, aku malah duduk bersebelahan dengan Deni, aku muak melihat wajah putih pucat seperti mayat itu, cih,, ingin rasanya kuludahi wajahnya!.


UPA berjalan lancar dan nilainya langsung sudah keluar, tiada usaha yang menghianati hasil, aku mendapatkan nilai yang sempurna. minggu depan, kegiatan magang akan dimulai, dengan langkah cepat, aku menuju parkiran lalu berjalan menuju jalan Raya untuk mencari tukang ojek, eh,, yang di depan itu seperti mobil Revan, semakin ku percepat langkah untuk menghindar bertemu dengan b******* itu, mungkin dia hendak menjemput Deny, atau bisa juga Deni meminjam mobilnya.


ku lambaikan tangan pada tukang ojek yang kebetulan lewat, lalu memintanya untuk mengantarku ke sebuah supermarket, aku mau belanja kebutuhan bulanan.


"itu Reyna !"


"eh, masa iya sih,dia Reyna ?"


"habislah kita, ayo cepat pergi!"


suara bisikan di belakang, membuatku harus membalikkan tubuh, sedikit penasaran juga, dua orang pria, yang satu berwajah agak kebule-bulean dan yang satunya berwajah ala Indonesia menatapku dengan terkejut, seperti sedang bertemu setan saja.iya mereka teman-temannya Revan, Amran dan Ferdi.


"rey_reyna...."Amran tergagap, wajahnya memuja.


"eh, Ferdi jadi salah tingkah sambil menggenggam tangan Amran, dengan langkah yang mundur ke belakang.

__ADS_1


"ada apa?"tanyaku dengan sini langkah maju ke depan, menatap mereka dengan tatapan bengis.


keduanya semakin mundur ke belakang dan tak menyadari kalau di belakang mereka adalah rak susunan pernak-pernik berbahan kaca.


"ma_maaf... Reyna..."Ferdi menyimpuhkan kedua tangannya di depan wajah.


"maaf untuk apa?"tanyaku sinis dan semakin mendekat ke arah mereka dan membuatnya terpojok.


aku tersenyum sinis, kini keduanya berdiri mepet dengan rak yang terdapat aneka vas bunga berbahan kaca dan keramik, jika tertimpa kepala, mungkin bisa benjol. kotak jahatku mulai merencanakan sesuatu untuk dua anak buah Revan ini.


"apa,maaf?!. jangan mimpi, maaf ku untuk kalian itu adalah mustahil!!"kudaratkan tamparan keras di wajah keduanya.


"awww!! Ferdi dan Amrul memegangi pipinya namun mereka takkan berani membalas.


ku pelototi atau mereka dan tak lupa menendang barang pusaka yang telah membuatku kritis di rumah sakit itu.


"agghhh!!!"cerita mereka sambil berhayung ke belakang, membuat rak kaca di belakang mereka tumbang isinya meningkat mereka.


brakkk


aku langsung melangkah pergi, saat terlihat beberapa karyawan supermarket ini berlari menghampiri dua korban yang terlihat sudah teler, kepala Barbie terlihat berdarah karena tertimpa vas bunga, namun ia malah meringkuk memegangi anunya yang mungkin lebih terasa sakit dari kepalanya yang bocor.

__ADS_1


Amran juga terlihat berdarah-darah karena tubuhnya menimpa serpihan kaca rak yang pecah di lantai, semoga matanya buta karena kemasukan beling kaca itu, ini belum seberapa, akan masih ada pembalasan yang lebih dahsyat ini untuk kalian, Revan cs.


aku tak jadi belanja di sini, lebih baik pindah ke supermarket depan saja, tadi aku ketemu Amran dan Ferdi, bisa jadi Revan juga ada di sini, aku malas ketemu cowok mesum itu.


__ADS_2