
Revan alias Davin dibebaskan dari segala tuntutan di muka pengadilan, proses damai berjalan lancar dan semua ini karena aku, pak Nandar tak henti-hentinya memujiku, namun aku tak ingin musuh bebuyutanku itu sampai tahu, kalau akulah yang berada di balik kebebasannya, biarlah keberuntungan sedikit berpihak kepadanya, anggap saja ini hadiah untuk menuju ke sialan kembali, tak lama lagi, dia juga bakal kembaliku hempaskan, ah, Revan, aku takkan bahagia jika melihat senyum, aku akan lebih suka jika melihatmu menderita.
hari ini, semua keinginanku telah tercapai, aku baru saja menyelesaikan proses pengangkatan dan sumpah advokat, kini gelar pengacara resmi kusandang, terima kasih Tuhan, cita-cita yang kuimpikan akhirnya bisa ku raih juga. terima kasih ayah dan ibu berkat doa dan dukungan kalian, profesi yang hanya menjadi mimpi selama ini akhirnya bisa menjadi kenyataan juga.
"selamat ya Reyna, selamat bergabung, semoga karirmu bersinar!"pak Nandar menyalamiku.
"terima kasih, pak Nandar, semua tak lepas dari bimbingan bapak,"kuterima jabatan tangan advokat yang telah membimbingku selama kurang lebih dua tahun ini. dia memang pengacara yang handal, semoga aku bisa menerapkan semua ilmunya.
dari jauh, Deni terlihat, memperhatikanku dia juga disumpah jabatan sama sepertiku, rasanya sial saja, aku selalu bertemu dengannya, semoga setelah ini aku takkan bertemu dengannya lagi, walau dia belum mendapatkan pembalasan dariku.
setelah acara selesai, aku bergegas keluar, tiba-tiba ada yang menarik tanganku dari belakang.ah, lagi-lagi dia Daniel, kutarik tanganku dengan kasar dan melototinya dengan keram.
"Rey, selamat ya,"mengeluarkan tangan di hadapanku,cih ingin kuludahi saja wajah lugunya, seolah tanpa dosa ingin mengalami ku, sungguh aku jijik dengan teman-teman Revan apalagi jika teringat malam petaka itu.
ku Hela nafas panjang, lalu melangkah meninggalkan tanpa mau menerima aluran tangannya dan sialnya, Deni malam mengajarku dan kini malah kembali berdiri di hadapanku.
"jangan sampai aku menghajarmu disini Daniel !"ancaman kupelan, karena di sini masih ramai teman-teman kami juga yang baru selesai sumpah jabatan.
Reyna, aku hanya ingin kamu tahu... kalau aku tak terlibat dalam malam petaka itu... maafkan aku karena tak bisa menghalangi teman-temanku untuk tak mengerjai mu, aku salah, karena tak mampu menolong mu, maafkan aku Rey,, karena semua masalah ini kumohon, buka bukalah pintu maafmu untukku, Deni berkata pelan, raut wajahnya terlihat penuh penyesalan. aku terdiam dengan sorotan mata tajam ke arah pria berwajah putih pucat seperti mayat itu.
"Rey,, Revan kini juga sedang menuai karmanya, aku tak berharap kamu bisa memaafkannya, aku hanya ingin kamu memaafkanku saja,"Dia berkata lagi.
__ADS_1
"sudah?"kuangkat sebelah alis dengan senyum kecut.
"iya, aku hanya mau mengatakan ini saja, semoga kamu tak menyamakan aku dengan kelima temanku lainnya, aku memang berteman dengan mereka, tapi aku tak sama seperti mereka.
tanpa menghiraukan ocehannya, aku berlalu dari hadapannya percuma saja dia mengatakan apapun, aku takkan bisa mempercayainya, semua ucapan Deni hanya kalikan dengan angka 0 saja, tak ada arti dan takkan terpengaruh apapun, dan dia tetap target kujuga.
*****
aku kembali ke rumah kost, lalu meraih ponsel untuk menelepon ibu dan ayah di kampung saja, mereka tak bisa hadir pada hari ini karena adikku yang SMP sedang ujian nasional, ibu juga sedang sibuk dengan les anak didiknya, ayah juga sedang menghadapi masa panen yang tak dapat untuk ditinggalkan, aku juga tak mengharuskan mereka hadir, aku hanya butuh doa saja.
"assalamualaikum,,,Reyna,"ucap ibu dari seberang sana.
"waalaikumsalam, Bu,"jawabku senang.
"alhamdulillah lancar bu, hari ini, Rheina telah sah menjadi seorang pengacara, doakan agar karir Raina lancar ya Bu, kataku kepada ibu.
"iya nak,, ibu dan ayah selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, ngomong-ngomong Kamu nggak pulang setelah lulus ini?"nada bicara ibu berubah bimbang.
"bu,, kalau di kampung, karir Raina takkan bisa berkembang, biarlah Raina tinggal di sini dulu untuk merintis karir ini, nanti kalau Raina sudah sukses, Reyna akan pulang kok Bu,, aku berusaha meyakinkan ibuku.
aku bisa mengerti perasaan ibu, dia pasti menginginkan aku pulang dan berkumpul di kampung sana tapi misi balas dendam ku harus terlaksana, jika Revan dan teman-temannya sudah hancur berkeping-keping, barulah aku dapat pulang kampung dengan tenang.
__ADS_1
"jadi,,setelah lulus jadi pengacara pun kamu akan tetap tinggal di kota, reyna?"tanya ibu lagi nada-nadanya terdengar sedih.
"Reyna, akan pulang nanti Bu untuk saat ini, biarkan Raina mengembangkan karir di sini dulu, ibu dan ayah selalu doakan Reyna ya.
"nak,, jangan sibuk akan karir saja, kamu juga harus sambil nyari jodoh juga, usiamu sekarang sudah pantas untuk berumah tangga, semoga kamu menemukan jodoh yang terbaik ya nak?"ujar sang ibu lagi.
hah,jodoh, aku tak mau menikah! hati ini telah mati tak ada keinginan untuk berumah tangga, bulshit, semua itu hanya semu! aku tak perlu suami aku bisa hidup mandiri tanpa laki-laki, makhluk yang namanya laki-laki itu tak ada yang benar mereka semua setan. hanya ayahku saja yang baik, selain dari itu buaya. aku takkan mau menghabiskan waktu untuk hal yang tak penting. aku bisa hidup sendiri tanpa suami dan anak, aku tak butuh semua itu.
setelah mendengarkan bermacam-macam nasehat dari ibu,ku akhiri teleponku lalu ku baringkan tubuhku di atas tempat tidur sambil memikirkan keadaan Revan setelah bebas dari tuntutan Kiara. aku takkan senang jika melihatnya bahagia, kupejamkan mata sejenak untuk melepas penat, dan menepis bayangan pria blasteran Indon Jerman itu.
*****
setelah makan malam di kamar kos, pura bahkan kembali tubuh ke tempat tidur sambil berselancar di dunia maya, di Instagram terlihat revan mengupload fotonya bersama teman-temannya di sebuah cafe. sepertinya mereka sedang berpesta untuk memenangkannya dalam sidang melawan Kiara, juga keberhasilan Deni mendapatkan gelar advokat.
aku segera bangkit, lalu bersiap untuk pergi ke lokasi cafe di mana Revan berpesta, masker kacamata dan topi, juga jaket tebal tak luput dari tubuh ini lalu bersiap pergi.
"setengah jam kemudian, aku sudah berada di cafe. di ujung sana terlihat Revan masih berkumpul bersama teman-temannya, hanya Andre saja yang tak ada di sana. seperti biasanya, minuman keras terlihat di atas meja mereka, Deni terlihat hanya melipat sebelah tangan di dada sambil sibuk bermain ponsel.
negaraku ganti nomor ponsel dan akun google-nya, lalu mengamati kembali video Revan diperkosa para banci ketika di pantai, aku tersenyum miring saat melihat wajah Revan waktu itu, dan pintarnya aku, wajah enam banci tak terlihat sama sekali, hanya wajah pria mesum itu saja yang kurekam serta adegan demi adegan, segera ku upload video itu ke youtube dan caption, bercinta dengan enam dencis bikin auww....auwww,,,, baru satu jam pertama saja, video itu sudah ditonton 1k orang,hahaha selamat viral, Revan. aku keluar dari cafe dan kembali ke kost, kemudian ku hancurkan ponselku dan menguburnya di halaman belakang, ponsel lama memang saudara ada error jadi tak apa jika dia ku korbankan demi viralnya Revan, mantan cowok populer di kampus yang kini juga akan populer di dunia benci alias waria.
beberapa hari berlalu, saat membaca koran online, berita Revan diperkosa enam menjadi trending topic sudah tiga hari ini, aku tersenyum puas, masakan itu Revan. kamu memang tak melapor ke polisi, tapi berita ini malah muncul setelah beberapa bulan setelah kejadian, aku yakin, kini Kamu takkan berani untuk keluar rumah dan jika keluar rumah pun, jadi cibiran akan menyakitimu. ini belum seberapa dengan rasa sakit yang kurasakan dulu, ini baru pembalasan part 3, masih akan ada part selanjutnya. tinggal tunggu tanggal mainnya saja.
__ADS_1
Revan, sungguh miris nasibmu, baru saja kamu ku terbangkan ke awang-awang, namun kini sudah kembali kehempaskan ke jurang terdalam. aku tersenyum penuh kemenangan, aku sungguh berbahagia atas penderitaan mantan pacar sialan itu.
bersambung