Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 59 POV REVAN 2 [ teror ]


__ADS_3

"sayang, apa nggak nunggu pagi aja baru kita hubungi polisi?"tanya Kiara kemudian.


"kenapa nggak sekarang aja?"aku masih berusaha menguasai diri dan meredam debaran keras di dada.


"yank, ini udah hampir tengah malam, bisa-bisa nggak tidur kita malam ini kalau bikin laporan sekarang, introgasinya pasti panjang, soalnya ini berhubungan dengan kasus pembunuhan.


aku mengangkut pada Tiara terserah dia saja.


"tapi.. malam ini... kamu temani aku tidur di sini, ya, sayang!"aku nggak berani kalau tidur sendirian, tinggal berdua ama mayat bayi seram..."aku mulai memanfaatkan kesempatan sambil memeluk tubuh ramping Kiara.


"hmm.... Kiara tersenyum malu-malu.


tanpa menunggu lama lagi, langsung kugendong dia ke kamar, akan tetapi, baru saja hendak pemanasan, terdengar suara benda jatuh di ruang tamu, sangat keras seperti barang pecah belah.


"suara apa itu yank?"Tiara membenarkan bajunya yang sudah acak-acakan karena ulahku,"nggak tahu! ya udah ah, lanjut lagi kita!"aku kembali mendorong tubuhnya ke tempat tidur dan kembali beraksi.


tiba-tiba, di telinga Kumala terdengar suara tangisan bayi, mau tak mau, ku hentikan kembali adegan yang baru saja mulai memanas ini.


"kenapa yank?"tanya Tiara dengan raut kecewa.


"owee...owee....owee..."suara tangisan bayi itu terdengar sangat jelas, aku sampai menutup telinga karenanya.


"sayang, kamu kenapa?"Tiara bangkit dari tempat tidur.


"ada suara tangisan bayi, sayang. apa mayat bayi di dalam kotak kado itu hidup kembali?"tanya aku dengan ketakutan.

__ADS_1


"enggak ada suara tangisan bayi kok, aku nggak dengar apa-apa,"ujar Kiara sambil mendekat ke arahku.


aku menautkan alis,suara tangisan itu masih terdengar lantang di telingaku tapi Kiara malah tak mendengarnya, apa telinganya bermasalah! aku menatapnya jengkel.


"sayang, kamu kenapa sih?"nggak ada suara tangisan bayi kok."Tiara menarik tanganku yang menutupi telinga.


ketika aku membuka tutup telinga, tangisan itu malah tak terdengar lagi, aneh sekali! segera ku pasang kembali pakaian, hasrat untuk bercinta hilang sudah, aku malah penasaran akan mayat bayi itu, jangan-jangan dia bangkit kembali.


melihatku yang sudah memasang pakaian tanpa sempat melakukan ritual kami, Tiara ikutan memasang kembali pakaiannya.


"ayo, kita lihat mayat bayi itu, tadi itu aku jelas sekali mendengar suara tangisan."kutarik tangan Kiara untuk keluar dari kamar.


sesampai di ruang tamu, kotak kado yang berisi mayat bayi itu masih tetap berada di atas meja, kusuruh Kiara untuk melihat isinya, dia merengut, namun menuruti juga perintahku.


"apa bayi itu hidup kembali?"tanyaku sambil memegang pundaknya.


"nggak, sayang. dia masih tetap mayat bayi serem lihatnya.... Tiara mengelap keringat di dahinya.


"ya sudah, kita akan di ruang tamu ini sampai pagi, sampai polisi datang."aku berkata mantap, lalu duduk di sofa sambil menata pengaruh kotak kado itu.


Tiara mengangguk dan duduk di sampingku.


ntar jam berapa tadi malam kami tertidur, yang jelas saat kami membuka mata, jam dinding sudah menunjuk ke arah 10.15,langsung ku suruh Tiara untuk menghubungi polisi dan menyelesaikan masalah mayat bayi yang tak ada sangkut pautnya dengan kami berdua itu. ku sumpahi ibu sang bayi itu cepat mati kaya bayinya ini!"seenak jidatnya saja membuang mayat bayi ke mobilku dan pakai dibungkus seperti kado pula.


***

__ADS_1


aku kembali ke rumah setelah urusan mayat bayi dalam kotak kado itu selesai, semuanya telah ditangani polisi dan akan diusut siapa pelakunya, menurut hasil otopsi, baju itu sudah meninggal sejak dari dalam perut kandungan. cuman yang membuat heran itu, kenapa harus dibuang ke mobilku dan dibungkus seperti kado? polisi akan mencari tahu motif pelaku melakukan semua ini. syukurlah aku dan Kiara hanya dijadikan saksi, walau introgasinya membutuhkan waktu seharian.


"ku hembuskan nafas kasar lalu menjatuhkan diri ke sofa ruang tamu, entah kenapa? dipikiran ini masih selalu terbayang sosok pucat di dalam kantong plastik merah itu, kurang asam sekali ibu bayi itu, kalau dia memang raina sakit jiwa dia.


berkali-kali ku usap wajah ini agar bayangan isi kado itu tak kembali lagi tergian,dia tak ada hubungannya denganku, jadi untuk apa aku memikirkannya?ah, tak mungkin ini ulah Raina, dia pasti sudah putus kuliah dan pulang kampung atau juga.... dia sudah masuk rumah sakit jiwa karena depresi, peristiwa malam tahun baru itu kembali berputar di kepalanya.


Sebenarnya,aku tak bermaksud menggilir dia dengan teman-teman andai dia tak melakukan perlawanan malam itu, andai dia menuruti kemauanku dengan senang hati, pasti cerita nyatakan mengenaskan. aku sakit hati saja, jadi cewek kosong jual mahal sekali, padahal semua kebutuhan dia sudah ku penuhi, aku cuman minta yang satu itu saja, susah banget ngasihnya.


aku beranjak dari sofa lalu menuju kamar kemudian mengambil kertas bertulisan happy new years yang kusembunyikan di bawah tempat tidur. ku amati kembali tulisan berwarna merah seperti bercak darah itu, bulu kuduk jadi merinding padahal hari masih siang juga.


agghhh... kulepaskan kertas yang terlihat ada bayangan mayat bayi di kantong plastik tadi, lalu berlari ke pojok kamar.


"drrrrrttttt"


getaran ponsel di saku celana juga membuatku terkejut, ah ada telepon dari nomor baru, siapa ini? aku menautkan alis sambil menggeser tombol hijaunya.


belum sempat aku mengatakan hello, tangisan seorang bayi langsung mengaung dari dalam ponsel.


"agghhh."ku jatuhkan ponsel itu dengan kaget, ya Tuhan, kenapa aku?"tubuh ini jadi gemetar, dengan nafas yang tersengal-sengal, dengan cepat,aku berlari naik ke atas tempat tidur lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh, aku takut sekali!"kenapa semua ini seperti di film-film?"kenapa aku seperti sedang diteror? kenapa hidupku jadi tak tenang begini?"agghhh.


******


"sejak penemuan mayat bayi di dalam kotak kado itu, hidupku semakin tenang saja, padahal mayat sang bayi sudah dikubur dengan layak, jadi aku tak ada lagi hubungan dengannya, akan tetapi, teror teror semakin berdatangan setiap hari, apa salahku?"jika ini memang ulah Raina, aku takkan memberinya ampun,akan kubuat dia mengalami nasib lebih mengenaskan lagi daripada malam petaka di malam tahun baru itu. jangan main-main dengan Revan Raina? semuanya bisa kulakukan, mengganti nama dan data diri saja aku bisa, apalagi hanya memberi pelajaran kepada gadis kampung seperti.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2