Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 74 POV Denny 2( berjuang)


__ADS_3

(Reyna, bisakah kita bertemu sore ini? ada hal yang penting ingin kau bicarakan.)


segera kau kirim pesan itu kepada Reyna dan berharap ya Sudi membalasnya, yeah,, jangankan dibalas, dibaca juga nggak. beginilah kalau seorang wanita yang hatinya sudah terlanjur sakit oleh ulah pria, ya akan sadis ke pria lainnya juga.oke, lebih baik tidur siang yang saja dulu, siapa tahu pas bangun tidur pas nanti pesanku sudah dibalas.


entah sudah berapa lama aku tertidur, perut terasa melilit cacing-cacing di perut ini seakan berdemo saja, bergegas aku bangkit dari tempat tidur lalu menuruni anak tangga dan menuju dapur, kubuka turun saji, hmmmmm.... slafnya menu kesukaan Mama semua ini. ada rendang jengkol, pepes ikan nila, asam pedas cumi, sambal udang campur pete. semua menu ini tak ada yang kusuka, mamaku yang orang Cina itu penghilang masakan ala Melayu, tiap hari di suruh bik ijah masak jengkol dan pete melulu, aku dan papa kadang lebih memilih lauk telur dada atau juga masak mie instan.


''pa,nin bixu shi,yige gongzheng,de faguan!xianran,tou,cuole shijian?xianran,tou cuo,ji de ren,waisheme yoo,dui ji de ren,jinxing,chengfa?"(kamu itu harus jadi hakimnya adil,pa! masa yang salah kamu menangin? udah jelas yang nyuri ayam yang salah, kenapa mesti yang punya ayam yang kamu hukum?!)


"Yen, sampeyan ora ngerti apa masalah, aja mung dibahas, ma!"papa mutusake kabeh, andedasar,nedha,lan saksi,oke,papa luwe!(kamu itu kalau nggak tahu duduk permasalahannya jangan asal cincang saja mah, papa memutuskan semuanya juga sudah berdasarkan bukti dan saksi ya sudah, siapkan makan malam saja papa lapar ini!.


aku yang sedang menikmati mie instan di ruang tengah sedikit terus dengan suara berisik dari arah ruang tamu, suasana seperti ini sudah tak heran lagi, bahasa Cina dan Jawa memang kental di rumah ini dan anehnya aku masih tak bisa mencerna dua bahasa itu sebab aku dibesarkan oleh seorang pengasuh, dulu mama adalah seorang pengacara juga, tapi memutuskan riset setelah aku lulus, katanya gantian. dia capek belain kasus orang melulu dan ingin jadi ibu rumah tangga saja yang seharian hanya dihabiskan dengan nonton sinetron atau juga shopping dengan teman-teman arisannya.


******


beberapa hari berlalu, aku masih bimbang dengan permintaan Rheina dengan menyuruhku untuk membuka kah khusus petaka malam tahun baru yang telah menimpanya, aku dilema saat ini, rasanya tak sampai hati untuk menyeret teman-temanku itu ke penjara.


tiba-tiba, sebuah motif pesan muncul di ponselku, segera kubuka dan berharap ini dari Reyna ahh.... benar-benar sangat mustahil dia mengirimkanku pesan. dari Revan rupanya.


(pukul 10.00 nanti jemput aku di bandara, aku pulang ke Indonesia hari ini.)


aku mengerutkan dahi, ternyata Evan pulang hari ini, mobilku masih di bengkel dan kata orang bengkelnya pukul 08 30 baru bisa diambil, tunggu bengkelnya buka.

__ADS_1


Mama terlihat sudah keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi, setiap hari Minggu Dia memang ada arisan katanya dan jatah aku dan papa lagi yang di rumah, eh,, gimana kalau aku nebeng Mama buat antar ke bengkel?.


"ma, jangan bergerak dulu di situ! Deni mau nebeng ke bengkel, buat ambil mobil,"ujarku kepada Mama sambil berlari menaiki anak tangga.


dengar ocehan dalam bahasa Cina lagi ya mungkin ngomel karena aku menghentikan langkahnya.


berapa saat kemudian, aku sudah berada di dalam mobil Mama serta sopir yang kini membawakan ke arah jalan menuju bengkel, saat melewati sebuah pelabuhan kapal-kapal besar, aku melihat Reyna baru saja turun dari taksi, eh, benar itu dia, mau ke mana kalau teman hidupku itu?"apa pulang kampung.


"pak stop dulu!"perintahku kepada sopir sambil menggapai bahunya.


mobil kami berhenti, aku masih meyakinkan penglihatanku.


"kenapa berhenti di sini Deni ? bukankah bukannya Kamu mau nebeng ke bengkel?"tanya Mama.


"gimana? gimana maksudnya?"tanya Mama dengan menarik ujung jaketku.


"nanti saja ceritanya, Deni mau ngejar calon mantu Mama yang udah keburu naik kapal, jangan khawatir Denny mama, nanti Deni telepon kalau sudah sampai."jawabku sambil setengah berlari memasuki kawasan pelabuhan.


(oh Tuhan, punya putra cuma satu tapi anehnya minta ampun! bilangnya mau nebeng ke bengkel, tahunya malah ke pelabuhan, mau ke mana dia?"kan bikin bimbang saja!"ya udah hati-hati aja deh, teriak Mama di belakang yang ku balas hanya dengan melambaikan tangan.


dengan tergesa-gesa, aku segera membeli sebuah tiket kapal yang untungnya tinggal cuman satu itu saja, sepertinya Tuhan memang menghendaki aku berjuang untuk meluluhkan hati Reynara.

__ADS_1


kapan mulai menarik jangkarnya, sirine keberangkatan berbunyi nyaring, sedangkan aku masih mencari kursi tempat duduk sepertinya aku sudah tak kebagian tempat duduk, alhasil aku hanya bisa berdiri saja di luar ruangan kelas VII saat itu, kelas ekonomi yang di lantai bawah juga sudah penuh. dari arah sini, aku bisa melihat Raina yang sedang duduk di kursi bagian Simpang kanan dengan posisi di dekat jendela, duduk bersampingan dengan seorang remaja tanggung dan juga sebuah ibu-ibu. kursi penumpang kapal ini masing-masing berjajar tiga.


ku raih masker di saku jaket lalu memasangnya, kemudian mendekat ke arah kursi yang diduduki Raina dengan dua penumpang lainnya, beri isyarat kepada anak laki-laki itu untuk bangkit dari kursinya dan ku ajak dia ke barisan belakang kursi."dek bolehkah aku membeli kursi yang kamu duduki itu?"tanyaku kepada anak itu.


"terus saya duduk di mana lagi dong?"kalau Abang nggak kebagian kursi, kenapa nggak nyewa kamar saja yang ada di lantai paling atas kapal ini, di sana enak bisa tiduran, biasanya masih banyak yang kosong karena biaya sewanya tiga kali lipat dengan harga tiket kapal."ujarnya seolah mengerti keadaanku sekarang.


"berapa sewa kamar itu?"tanyaku.


"satu jutaan biasanya,"jawab anak itu lagi.


segera ku keluarkan uang dari dompet yang kebetulan sempat ku ambil dari ATM dengan maksud untuk membayar biaya bengkel,


"ini, saya ada uang satu juta untuk kamu nyewa kamar dan sebagian sebagai gantinya.... saya bisa duduk di kursi kamu, masalahnya itu wanita yang sedang duduk di samping kiri kamu itu, istri saya yang sedang ngambek dan hendak melarikan diri, Saya harap kamu mau berbaik hati memberikan kursi itu kepada saya."aku memberikan uang satu juta itu ke tanah si anak remaja.


"seriusan ini bang?"makasih ya, Saya doakan semoga cepat baikan dengan istrinya,"ujar anak remaja itu dengan senyum semeringah.


beberapa saat kemudian, aku sudah duduk di tengah-tengah di antara Reyna dan seorang ibu-ibu yang mungkin usianya seusia dengan Mama, dan aku tersenyum puas bisa duduk bersampingan dengannya seperti sekarang ini, ku lirik dia yang terlihat sedang asyik membaca sebuah novel di tangannya. ku miringkan kepala untuk mengintip judul novel yang sedang ia baca saat ini,"rekaman CCTV hantu"karya evhae naffae, itulah judul dari nama penggemar novel dengan cover aneka CCTV itu.


"suka cerita horor ya mbak?"tanyaku kepadanya dengan wajah masih memakai masker.


Reyna menoleh ke samping dan mengerutkan dahi, mungkin dia bingung karena anak remaja yang duduk di sampingnya kini sudah berganti dengan pria dewasa.

__ADS_1


tanpa menjawab pertanyaanku, dia kembali fokus kepada bacaannya...hmmm.... susah juga ya mendekati wanita yang hatinya kelewat dingin, apalagi bagiku yang memang belum pernah berpacaran, aneh bukan?"karena sepanjang hayat hanya ku habiskan dengan belajar, bukan berarti aku tak normal, itu salah besar buktinya sekarang aku semakin jatuh cinta kepada Reyna, dan berkeinginan untuk menikahinya.


bersambung


__ADS_2