Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 65 dilema


__ADS_3

sore ini, aku sedang nyantai di cafe pinggir sungai sambil menikmati jus mangga dan kentang goreng, tadi aku baru saja habis ketemu klien dan mencatat permasalahannya, pak Nandar pengacara yang membimbingku dalam kegiatan magang ini menugaskanku untuk menganalisa permasalahan yang dialami kliennya tentang sengketa perebutan harta peninggalan orang tua mereka yang belum sempat dibagi dan kini tiga orang anaknya memperkarakannya karena masing-masing merasa paling berhak. pak Nandar ingin kliennya bisa menang, dan ini adalah tantangan pertama karir yang akan kujalani nanti.


dari arah pintu masuk cafe, aku melihat dua orang teman Revan lagi, yaitu Robi dan Andre sepertinya Tuhan memang mempertemukan kami agar aku bisa mengerjai mereka, tinggal mereka berdua saja yang belum mendapatkan pembalasan part awal, mungkin inilah saatnya, segera kunaikan masker wajah dan memasang kacamata serta menguncir rambut panjangku ke belakang.


segera aku kau masih buku kecil dan pulpenku lalu memasukkan ke dalam tas, kemudian melangkah menuju meja kasir, membayar bill makananku juga memesan kopi ekstra panas.


dengan senyum sinis kutatap dua kopi panas yang sudah ku campur saus cabe extra pedas, lalu melangkah ke dekat meja Robi dan Andre yang terlihat sedang sibuk dengan ponsel.


"eh, kami belum pesan, mbak,"ujar Robby saat aku meletakkan nampan kopi di hadapan mereka.


"ini bonus dari cafe kami,"jawabku sambil meraih kopi itu dan berpura-pura tersandung sehingga kopi tersiram ke arah anu si Robby.


"agghhh !!"jerit robby kaget.


"oh... maaf"jawabku sambil meraih segelas kopi yang satunya lagi lalu menyeramkan ke arah anunya si Andre.


"eh, sial ! Kamu sengaja ya!"jerit Andre dengan kesal sambil memegangi bagian celananya yang ketumpakan kopi panas.


"mana pemilik cafe ini? pelayannya sungguh kurang ajar!"teriak robby sambil memegangi anunya yang mungkin terasa panas dan juga pedas.


pemilik cafe langsung berlari mendekat ke arah kami.


"ada apa ini?"kamu siapa? perasaan saya tidak punya karyawan baru....."sang pemilik cafe menatapku heran dan menyentuhkan kedua tangan kepada Andre dan Robi.


"Saya memang bukan pelayan kok,"jawabku sambil membuka masker di wajah ini menatap Andre dan Robi bergantian.

__ADS_1


"Reyna,"robby terlihat terkejut ketakutan.


"panggil polisi saja kalau Anda berdua tidak terima,"ujarku kepada Andre dan Robi.


"eh,tidak.... ya sudah tidak apa-apa,"jawab Andre dan Robby dengan wajah ketakutan sambil memegangi anunya juga.


"aku tersenyum sinis dan langsung melangkah pergi meninggalkan tiga pria yang terlihat kebingungan, iya ini baru permulaan, Andre dan Robi, barang kotor itu baru tersiram kopi panas+cabe saja, besok-besok bisa jadi kalian kusunat dua kali.


****


hari terus berlalu, kegiatan magang ku berjalan lancar, kasus yang ku analisa selalu bisa ku pecahkan dan menuai kemenangan.


"kamu memang hebat Reyna, dua kasus yang saya limpahkan ke kamu menang, Saya bangga bisa menjadi pembimbing calon advokat secerdas kamu,"ujar pak Nandar dengan bangganya.


"oke,, nah, ini kasus terakhir, untuk kamu dan saya harap kamu juga bisa menyelesaikannya! saya tunggu analisa dan pemecahan kasusnya,"ujar pak Nandar sambil meletakkan satu berkas di hadapanku.


biar aku buka berkas itu dan membaca nama kliennya lalu mempelajari kasus hukumannya, David Permadi fitnah (pencemaran nama baik). aku menautkan alis, jangan-jangan David ini Revan? aku hanya tak tahu nama lengkap pergantian nama itu.


"jadi, pencemaran nama baik yang seperti apa yang dialami klien Pak Nandar ini?"tanyaku.


"hmm..... bagaimana kalau kamu ketemu langsung sama dia? saya akan suruh dia ke sini,"ujar pak Nandar yang membuat perasaanku jadi tak enak, kalau dia beneran Revan, aku akan dilema hal ini, satu sisi dia musuh bebuyutan sedang di satu lainnya, aku tetap harus memberi analisa pemecahan kasus ini agar menang demi kelancaran tugas terakhir ini, kalau aku bisa memenangkan kasus ini, aku juga akan mendapatkan rekomendasi dari pak Nandar untuk langsung bisa bekerja di PN ini.


"jangan deh, pak! Saya mau dengar cerita dari pak Nandar saja!"jawabku dengan berusaha tenang.


"begini, klien saya yang bernama David ini sedang mengalami perselisihan dengan mantan pacarnya yang bernama Kiara, dia dituntut atas tindakan penganiayaan yang sebenarnya tak sengaja ia lakukan kepada korban dan usaha damai ditolak, beliau dituntut dengan pasal 351 ayat 2 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun, kasus ini lumayan berat, sebab hasil visum sudah jelas terbukti kalau ini kasus penganiayaan berat karena korban mengalami luka lebam di wajahnya, akan tetapi, di sinilah tantangan untuk mencari cela dan memenangkan klien kita. Saya yakin, Kamu pasti bisa mencari jalan pemecahan masalah ini,"jelas pak Nandar.

__ADS_1


aku terdiam sesaat.


"setiap akibat, pasti ada sebabnya, alasan saudara David melakukan penganiayaan ini apa?"tanyaku dengan menautkan alis.


"klien saya khilafah Rena sang pacar berselingkuh dengan sahabatnya sendiri dan tak sengaja memukul wajahnya hingga,"jawab pak Nandar.


"kasus ini berat, pak, clean anda sudah jelas salah, tidak ada harapan bisa menang,"jawabku tak bersemangat.


Reyna,, inilah tantangan kita sebagai pengacara, kita harus bisa mempermainkan kata-kata dan membolak-balikkan fakta, saya tahu, dalam kasus ini klien saya memang salah, akan tetapi, perlu kamu pahami bahwa dalam pasal 8 ayat 1 undang-undang nomor 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman (UU kekuasaan hakim) terhadap asas praduga tak bersalah, yang dirumuskan: setiap orang yang disangka ditangkap, ditahan, dituntut, atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan hak pengadilan yang mengatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. artinya meskipun masyarakat menganggap klien (tersangka dan terdakwa) dari advokat bersalah, namun pada intinya yang menentukan seseorang bersalah atau tidak adalah hakim berdasarkan putusannya,"pria paruh baya itu menjelaskan dengan detail.


aku masih diam sambil mengingat semua ucapan tentang profesi kami.


ketika membela seseorang klien yang telah nyata-nyata bersalah, maksud advokat bukan semata-mata agar klien dibebaskan dari semua tuntutan, tetapi advokat menjadi penasihat atau pendamping tersangka dan terdakwa di muka pengadilan, mendampingi maksudnya agar hak-hak yang dimiliki tersangka atau terdakwa tidak dilanggar karena tidak jarang seorang tersangka atau terdakwa diperlakukan semena-mena oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,"sambung pak Nanda dengan membenarkan letak kecamatannya.


"baiklah pak, saya akan coba analisis kasus ini, nanti hasilnya saya akan serahkan kepada bapak,"jawabku akhirnya.


"saya juga kamu membuat laporan persidangan nanti, jadi kamu harus selalu hadir dalam sidangnya, besok sidang pertamanya, Saya tunggu kamu di pengadilan,"ujar pak Nandar lagi sambil mengemasi tasnya, lalu menyeruput kopinya dan bersiap pergi dari hadapanku.


*****


aku kembali ke rumah kost dan membaringkan diri di tempat tidur, sedikit bimbang juga dengan besok, aku akan bertemu David kliennya Nandar, aku sangat yakin kalau dia David alias Revan. aku tak bisa menolak tugas dari dia,sebab Dia advokat yang memang sudah ditugaskan untuk membimbingku.


Revan, inginku dia dinyatakan bersalah dan mendekam di jeruji besi itu tapi kini aku malah disuruh menganalisa kasusnya agar bisa ku garuk kepala yang tidak gatal, membuat rambut panjang ini menjadi acak-acakan.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2