
Saat Ricky dan Carolina kembali ke meja mereka, ada seorang pria yang duduk di sana, bersama Elsa.
"nah ini dia Carolina, mas Rehan, bagaimana, iya cantik' kan? Cocok'kan dia kerja sama mas Rehan?"Elsa menyunggingkan senyum sambil menunjuk ke arah sang madu yang terlihat sedang kesal itu.
"hmm.... sangat cocok, mana berkas yang saya suruh siapkan kemarin? saya akan urus paspor juga kelengkapan lainnya,"jawab Raihan, yang bekerja sebagai agen TKW untuk dikirim ke Hongkong, tatapan matanya menatap Carolina dari atas hingga bawah, iya terpesona akan kecantikan wanita basteran Jerman itu.
"kalian sedang membicarakan apa ini,el? siapa dia?"Ricky menatap sang istri dan pria di hadapan.
"ini berkasnya sudah saya siapkan, mas Raihan, semoga prosesnya cepat."Elsa segera menyerahkan berkas yang ia keluarkan dari dalam tasnya, iya tak menghiraukan pertanyaan ricky suaminya.
Raihan membuka berkas di dalam map berwarna merah itu lalu menutupnya dengan cepat, iya menginginkan senyum sembari mengusap brewok tebalnya.
"oke, saya pergi dulu, nanti akan saya kabari berita selanjutnya."Raihan bangkit dari kursinya dan tersenyum ke arah Ricky juga Caroline.
Rehan melangkah menjauh, sedangkan Ricky masih mengarahkan tatapan tajamnya kepada Elsa, iya sedang menunggu penjelasannya.
"siapa pria asing itu Elsa?"tanya Ricky.
"hmm... Namanya Raihan,mas, dia agen TKW Hongkong, ayo cepat habiskan makanan kamu mas!"Elsa menjawab dengan Santai.
"agen TKW?"Ricky mengharapkan dahinya.
Carolina yang terlihat kesal karena ditinggal Irfan dan Margaretha, menarik nafas panjang mendengar siapa pria yang tadi berbicara dengan Elsa, iya tak terlalu peduli,walau ia sudah bisa menduga rencana madunya itu yang begitu menginginkan dirinya jadi TKW.
"apa urusan kamu dengan agen TKW itu?"apa kamu serius mau mengirim Carolina ke Hongkong?"Ricky mengepalkan tangan makanannya, sedangkan tangan kirinya mencengkram pundak sang istri keduanya.
"mas, aku setuju dengan rencana Elsa, aku udah capek jadi pembantu di rumah kalian, aku mau jadi pembantu di luar negeri saja, biar sekalian jual diri!"status Carolina sambil beranjak dari kursinya.
Elsa memungkinkan senyum, sedangkan Ricky terlihat sangat kesal dengan rencana Elsa juga jawaban Caroline.
"aku tunggu kalian di mobil, aku udah nggak selera makan."Carolina meninggalkan suami dan madunya yang terlihat masih bersitegang itu.
"buruan bayar El, ayo anak-anak! kami tunggu kamu di mobil saja."Ricky bangkit dari kursinya dan mengajak anak-anaknya meninggalkan meja mereka, mengekor di belakang Carolina yang berjalan setengah berlari.
Elsa segera melambaikan tangannya kepada waiters dan membayar bill makanan mereka, setelah itu, iya segera berlari kecil keluar dari restoran karena tak ingin membiarkan suami dan madunya ngobrol berdua.
*******
carolina masuk ke kamarnya dan langsung menguncinya, Ricky yang mengekor di belakangnya, tak bisa ikut masuk. dia mengusap jidat yang terbentur pintu kamar yang ditutup dengan kencang itu.
"mas, ayo ke kamar kita!"Elsa menarik tangan Ricky untuk segera pergi dari depan kamar madunya itu, sebelum sang suami menutup pintu kamar carolina.
Ricky yang sedang tak kuasa ribut saat ini,memilih menunda dulu aksi protesnya atas tindakan Elsa yang mau mengirim ke laluna dari TKW ke Hongkong itu. iya melangkah cepat masuk ke dalam kamar mereka lalu naik ke tempat tidur, kepalanya pusing sekali, iya memilih tidur agar suasana hatinya membaik saat bangun nanti.
sedangkan di kamarnya, carolina sedang berpikir keras atas jalan hidupnya sekarang, Elsa sudah mengurus tentang keberangkatannya jadi TKW, jadi madunya itu sangat serius untuk bisa menyingkirkan.
jika mengingat kebahagiaan akan keluarga Irfan dan Margaretha, iya jika ingin mengacaukannya apalagi aksi part 1 nya tidak cukup mengesankan, sangat puas jika teringat ekspresi Margaretha tadi.
"daripada jadi TKW, kayaknya.... lebih baik jadi pelakor deh."Carolina membatin dengan susunan rencana di kepalanya, senyum sinis terukir di bibir tipisnya.
iya mulai berbaring dengan menatap langit-langit kamar, sambil tersenyum sendiri diraihnya ponsel lalu menatap hasil jepretannya bersama carnaval, anak laki-laki yang sangat ia yakini adalah putranya itu.
"aku sangat yakin dia putraku,"gumam Carolina sambil mengusap layar ponsel.
"kamu tampan, nak, Mama akan merebutmu dari Margaretha."ia membatin.
*****
"ma,pa, apa maksud pembicaraan tante di restoran tadi?"tanya karnaval saat mereka sudah kembali ke hotel karena keluarga mereka hanya sedang liburan saja berada di kota ini.
Margaretha membuang nafas kasar,iya sedih atas pertanyaan ini dan sebenarnya tak ingin putranya itu tahu akan kebenaran keberadaan Carolina.
"nak, duduklah dulu. kita akan membicarakan semuanya, kamu sudah besar dan memang harus tahu akan hal ini. Arga nggak apa kamu tinggal sendiri di kamarnya?"tanya Irfan sambil menuntun putranya itu ke sofa yang berada di sebelah kanan tempat tidur, yang berdekatan dengan jendela.
"argan tidur,pa, kayaknya dia kecapean,"jawab karnaval.
"sini sayang, kita bicara dari hati ke hati atas kebenaran ini."Irfan melambaikan tangannya pada sang istri, yang terlihat sedang merenung di atas tempat tidur.
tak lama berselang, ketiganya sudah duduk berhadapan di sofa, Irfan pun mulai menceritakan kisah masa lalunya walau tak mendetail, hanya intinya saja, mengingat usia putranya baru 10 tahun itu, menyatakan ceritakan masalah pelik itu.
__ADS_1
."jadi, wanita yang tadi itu namanya Carolina, dia mama kandungmu..... yang telah mengandung juga melahirkan, setelah tahu akan hal itu, kamu tetap harus menyayangi mamamu yang ini.... Margaretha, sebab..... dialah yang mengurusmu sejak dari bayi, itulah kebenarannya, mama dan papa takkan menyembunyikannya lagi."Irfan berkata dengan menata putranya yang terlihat sangat terkejut.
"kalau Argan, ya anak siapa?"siapa yang melahirkannya?"tanya karnaval tiba-tiba.
"argan adikmu,nak, putra papa juga, walaupun dia lahir dari rahim yang berbeda dengan, dia anak kandung Mama Margaretha."jawab Irfan sambil merangkul bahu Margaretha.
"jadi,Naval,dan argan beda mama ya?"tapi sama-sama anak papa?"tanya karnaval dengan dahi yang masih merekrut, iya sedang berusaha mencerna semua ini.
"tapi mama menganggap kamu sebagai anak kandung,nak, sebab kita sudah bersama saja kamu baru dilahirkan,"Margaretha memeluk Naval, iya tak dapat menahan air matanya lagi."Mama sayang kamu sama argan, nak, kalian berdua anak mama, setelah tahu hal ini, kamu tetap harus bersikap seperti biasanya, Carolina hanya Mama kandungmu saja, dan mama tak keberatan kamu tahu hal itu. iya tapi mamamu yang sesungguhnya hanya Mama nak."
"iya, mamanya Naval....ya... tetap sama Areta,naval sayang sangat sama mama."naval membenamkan kepala di dada wanita yang amat ya sayangi itu.
Irfan memeluk anak dan istrinya itu, ya sangat terharu saat ini.
"semoga keluarga kita akan terus bahagia seperti ini sayang."Irfan mendaratkan ciumannya pada akhir sang istri juga pipi anaknya.
"amin,"Margaretha tersenyum melihat sikap putranya itu, ia telah mendidiknya dengan sangat baik selama ini.
****
Ketika Ricky dan Elsa sedang menikmati makan malamnya di dapur, Carolina mencuri kunci mobil madunya itu yang terletak di laci kamar,iya juga sudah memberi obat tidur kepada makanan yang sedang dicipi suami dan madunya itu, kunci kamar keduanya juga sudah ditonton, sebuah rencana akan ia jalankan malam nanti.
"mas, aku kok jadi ngantuk banget ya, padahal masih mau nonton sinetron juga."Elsa mengepal mulutnya yang menguap berkali-kali itu.
"sama dek, mas juga ngantuk benget ini, ayo tidur! Carolina juga sudah masuk kamar, anak-anak juga,"Ricky menggandeng istri keduanya itu menuju kamar mereka.
pukul 21:00, suasana rumah keluarga Ricky sudah hening, keduanya sudah tertidur, anak kembarnya juga sudah terlenap,Carolina yang sudah mengemaskan pakaiannya ke dalam tas akan segera melancarkan aksi.
setelah berhasil membobol perangkat milik Elsa, Carolina segera memindahkan uang dan perhiasan itu ke dalam tas,senyum mengembang sambil menatap suami dan madunya yang tertidur dengan pulas karena tidur racikannya, mantan dokter ahli kandungan,iya tak menyangka kalau madunya itu menyimpan uang di rumah dan kodenya berangkat itu tanggal lahir Ricky suami mereka.
lama kemudian,Carolina sudah berada di dalam mobil Elsa dan memacu peran untuk keluar dari perkarakan rumah bertingkat dua itu, tak lupa iya tutup kembali pintu, lalu kemudian menuju mobil hitam itu membela jalanan,hatinya begitu puas karena sudah berhasil merampok seluruh uang dan perhiasan memiliki elsa, madunya yang tak dirintirnamen pelit itu.
"selamat tinggal Elsa, mas Ricky,berikan kepadamu. milikilah dia seutuhnya, sedangkan aku akan memiliki uang, periksa juga mobilmu,"lirik Carolina senang dengan tak berhenti disini.
karena sudah tengah malam, memutuskan untuk mencari hotel sambil memikirkan tujuan setelah ini, yang jelas iya akan meninggalkan kota ini kembali ke kota xxx, sebab ia ayah yakin kalau materi itu dan Irfan tinggal di kota xx xkarena ia dengar ketika Irfan menyebut mereka mau kembali ke hotel dan itu artinya mereka hanya liburan saja di kota ini, Carolina menyentuhkan.
"hmm.... aku sangat yakin, kalau mereka pasti tinggal di rumah Margaretha,hahaha.... Irfan Irfan sepertinya... tujuan kamu menikahi wanita itu hanya karena ingin menumpang hidup, yakin kamu mencintai dia sebab yang ku tahu..... kamu itu Cinta mati kepadaku...."Carolina membatik sambil membelok ke arah hotel tujuannya.
*****
Carolina membuka matanya pagi ini, sambil mengedarkan pandanganku sekeliling kamar hotel sewaannya,dia merasakan tidurnya sangat enak tadi malam karena biasanya ia hanya tidur di kasur lepek ke rumah Elsa, cukup sudah ia menderita selama 5 tahun ini, kini sudah saatnya ia berontak.
setelah mandi dan berganti pakaian, Carolina langsung menikmati sarapannya yang diantar waiters di kamarnya, rute perjalanannya, ia akan bertemu seorang yang akan membeli mobilnya lalu ke bandara, ia akan pulang ke kota xxx, kota penuh kenangan pahit yang sebenarnya ingin ia lupakan itu.
Carolina langsung check out karena tak ingin Elsa dan Ricky menemukan keberadaannya, iya bisa membayangkan kepanikan Elsa pagi ini di rumah mereka, iya menahan tawas saat membayangkannya.
"eh, itu Irfan dan Margaretha,"Carolina melihat keluarga Irfan yang ternyata juga menginap di hotel yang sama dengan.
"ayo sayang, taksinya sudah menunggu di depan."Irfan menggandeng anak dan istrinya menuju pintu keluar setelah check out.
Carolina mengamati keluarga Irfan, dan ia akan mengikuti mereka.
"astaga,terus.... janji ketemuan sama orang yang mau mobil ini gimana?"ia membatin karena baru mengingat jadwalnya hari ini.
dengan berdesak kesal, Carolina jadi dilema mau ke mana dulu akan tetapi, akan melewatkan kesempatan untuk mengikuti taksi yang membawa keluarga Irfan, iya harus tahu mantan kekasihnya itu mau ke mana.
Carolina memukul setir dengan kesal, dan memutuskan untuk membuntuti taksi di depannya, kotak jahatnya mulai memikirkan, andai dia menabrak mobil itu, iya jadi keringat berita viral beberapa hari ini yang film mudik di stasiun televisi, yaitu tentang artis yang meninggal tabrakan.
"tabrak nggak ya?"kota Carolina mulai tak beres,
dipersimpangan, saat taksi di depannya belok ke kanan, sedangkan mobil Carolina malas berbelok ke kiri.iya bertekad kesal sambil melihat sekeliling jalanan untuk bisa berputar balik.
karena jalan sepi menurut wanita berpakaian serba hitam itu,dia langsung memutar mobilnya balap dia tahu sedang berlawanan arah dengan jalur yang semestinya.
"sebuah truk yang sedang melaju, tak melihat kalau ada mobil yang hendak melintas itu sebab ini satu arah.
"braaaaaakk"
tabrakan ke atas pun terjadi, antara mobil yang dikemudikan oleh Carolina melawan truk besar itu, Carolina yang sempat mengerem mendadak, membuat mobil yang ia bawa itu terbalik lalu terpental ke pembatas jalan.
__ADS_1
*****
sedangkan di rumah Ricky, Elsa sedang kelabakan saat mengetahui Carolina telah merampoknya semalam,iya yang selalu membuka berkasnya tiap pagi itu sangat terkejut saat mendapati tempat penyimpanan uang dan perhiasan itu kosong melompong, mobil yang baru ia beli sebulan yang lalu juga hilang.
"mas, aku akan ke kantor polisi! istri polisi, istri tuamu itu sungguh kurang ajar!"Elsa kesal dengan memakai jaket."kamu jagain anak-anak!"
"El, jangan gegabah dulu, bisa jadi tadi malam rumah kita kemasukan maling, kamu jangan langsung menuduh Caroline!Ricky menarik tangan istrinya itu, iya sedikit tak percaya jika Carolina berani melakukan hal segila ini.
"gegabah apanya?"buktinya Mbak Carolina juga menghilang, beberapa pakaian juga tidak ada, aku yakin, tadi malam ia memberikan obat tidur dalam makanan kita, jadi makanya kita cepat banget ngantuk,kali tak sadar saat ia mengurus habis isi brankasku juga melatihkan mobil kita, istri pertamanya itu sungguh bejat, aku akan membuatnya membusuk di penjara!"Elsa sambil menaruh tangannya dari Ricky lalu bergegas menuju garasi untuk mengeluarkan sepeda motornya.
Ricky tak dapat berkata apa-apa lagi iya benar-benar tak menyangka saja Carolina so nekat itu, diharuskan nafas dengan kasar sambil mengusap wajahnya.
"agghhh.... sial!"umpat Ricky kesal.
diraih kembali ponselnya di atas meja,iya kembali mencoba untuk menghubungi istri pertamanya itu dan masih berharap Carolina tak melakukan pencurian ini.
Ricky menggeleng lemas karena panggilan telepon juga chat tak terkirim pada Caroline, iya jadi cemas juga, tak ingin hal buruk terjadi pada istrinya itu.
Tiba-tiba,sebuah nomor baru terlihat terpampang di layar ponsel Ricky dan ia langsung menggeser tombol hijaunya untuk menerima panggilan telepon tersebut.
"selamat pagi, kami dari kepolisian, benar ini dengan saudara Ricky, suami dari saudari Carolina?"putar suara dari ujung telepon.
"selamat pagi juga, iya, benar saya Ricky suaminya Carolina, ada apa dengan istri saya?"perasaan tak tenang langsung menyusup di hati Ricky.
"kami ingin mengabarkan kalau istri anda.... Caroline sedang mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat kejadian, ada di rumah sakit xxx, kami harap anda bisa segera ke sini!"ujar sang polisi.
"a...pa..."Ricky tergugu.
untuk beberapa saat tricky terdiam, iya berharap ini hanya mimpi sebab ia tak mau kehilangan istri pertamanya itu.
"halo, pak ricky, Anda masih di sana?hmm.... kami tunggu kedatangannya di rumah sakit."
"iya...pak.... saya segera ke sana...."jawab Ricky lemas.
panggilan telepon terputus, Ricky mengusap kepala hingga wajahnya, air matanya luruh juga, dia menangis karena berita meninggalnya Carolina.
"ya Tuhan, car, kamu kok tega ninggalin aku.... kamu tahu kan, kalau aku cuma cinta dan sayang sama kamu saja. teganya kamu pergi duluan, lalu aku bagaimana?"Ricky berciuman dengan kesedihan yang begitu mendalam.
"kenapa kamu tak sabar untuk menungguku memikirkan Elsa?"aku juga takut membiarkan Elsa mengirimmu dari, sayang.... kenapa kamu pergi ninggalin aku....."Ricky menatap sedih hingga ia tak sadar kalau Elsa kini sudah pulang dari kantor polisi dan menatap aneh kepadanya.
"kamu kenapa mas?"tanya Elsa sambil mendekat.
"El, kamu sudah pulang, El.... Carolina, El, Carolina..."Ricky memegangi dadanya yang terasa sesak.
"mbak car kenapa?"aku sudah laporin dia kepolisian sebentar lagi ia akan membusuk di penjara"Elsa tersenyum sinis.
Rick membuang nafas kasar sambil mengusap wajahnya untuk menghapus air matanya.
"karena kecelakaan, Elsa.... dia meninggal...."Ricky berkata sambil menghapus air mata yang tak dapat dia tahan untuk tetap berjatuhan.
"apa...?mbak car kecelakaan mas?"pakai mobil aku? Terus... mobil aku hancur dong?"Elsa bercetak besar sambil menanam jidatnya ia semakin kesal saat membayangkan wujud peyok mobil barunya itu.
"Elsa,, Carolina sudah meninggal... dia kecelakaan tapi kamu... agghhh.... aku akan ke rumah sakit untuk melihat jasadnya...."segera berlalu menuju pintu.
"mas,aku ikut! Lisa, jaga anak-anakku!"teriak Elsa kepada adiknya yang baru ia jemput tadi, sengaja untuk mengurus dua anak kembarnya karena kepergian sang madu.
Ricky kembali menepis viru saat melihat jasad Carolina,
dipeluk tubuh kakak bersimpah darah itu, ya begitu terpukul atas kejadian ini, sedangkan Elsa, iya hanya sibuk dengan mobilnya yang rusak parah akibat kecelakaan itu.dia juga menanyakan tas yang dibawa Carolina sebab ia ingin uang dan perhiasannya itu kembali lagi ke tangannya.
*****
sore itu jenazah Carolina langsung dimakamkan, karena Ricky tak mengetahui sanad family alhamarhumah istrinya itu, iya berusaha ikhlas walau sangat terpukul akan kejadian ini, sepanjang proses pemakaman, Ricky terus saja menangisi istri pertamanya itu.
sedangkan keluarga Irfan, mereka tak tahu menahu akan berita meninggalnya Carolina, kini mereka sudah kembali ke kota xxx,navaljuga tak lagi menanyakan tentang wanita yang mengaku sebagai mama kandungnya itu, iya sudah melupakan sebab menurutnya mamanya hanya Margaretha saja.
Elsa tak sedih sedikitpun atas meninggalnya Carolina, iya malahan senang karena kini miliknya Ricky seutuhnya,walaupun mobil seharga 200 jutanya itu harusnya ikhlaskan karena mengalami rusak parah sehingga tak bisa diperbaiki lagi.
malam petaka tahun baru
__ADS_1
Bersambung