
setelah bayi terkutuk itu enyah dari hidup ini, keberuntungan selalu menyertai langkahku, penyusunan skripsi berjalan dengan lancar, berkat kerja keras dan keuletan seorang Raina,korban pelecehan dan bercita-cita menjadi pembela kaum wanita yang mendapatkan nasib serupa dengan, sidang skripsi juga sudah ku daftarkan dan tinggal menunggu jadwalnya saja, sambil magang juga untuk mengisi waktu.
sebuah panggilan telepon dari ibu,membuatku tersenyum dan Tak sabar untuk memberitahukan tentang pendaftaran sidang skripsi yang sudah ku ajukan.
"assalamualaikum, nak,"suara lemah lembut ibu begitu menyejukkan telinga.
"waalaikumsalam, Bu,"jawabku dengan senyum yang tak dapat kutahan.
"bagaimana kabar kamu, nak?"gimana dengan skripsinya, apa lancar-lancar saja? Oh ya, tadi pagi ibu ada kirim uang satu juta buat kamu, hemat-hemat ya nak!"beli barang yang penting saja!"ujar ibu lagi.
"iya,Bu, terima kasih. insya Allah Raina selalu hemat kok, Bu.hmmm skripsi udah beres bu, dan barusan udah rayna daftarin sidang.doakan semoga segera dapat jadwal biar cepat sidang dan dapat kelas sarjana hukum,"ucapku dengan bersama, hati ini begitu riang dan aku ingin membagi kebahagiaan ini kepada ibu.
"Alhamdulillah, ibu senang sekali mendengarnya, ibu dan ayah selalu doain kamu, nak, kami udah tak sabar lihat kamu wisuda dan dapat gelar, lalu pulang ke sini dan dapat kerjaan bagus."suara ibu terdengar semangat bahagia,"Bu, setelah lulus nanti... haraina mau melanjutkan ke ,PKPA(pendidikan khusus profesi advokat). araina mau jadi pengacara Bu,"ujarku, karena ibu belum tahu akan keinginanku ini.
"oh, begitu nak, ibu sih terserah kamu, mana baiknya saja m beberapa tahun itu pendidikan profesinya?"tanya ibu.
"cuman satu bulan aja kok,Bu. tapi magangnya dua tahun, yang penting, keberhasilan seseorang anak pasti tak lepas dari doa kedua orang tuanya, ibu dan ayah doain Raina terus ya, biar cita-cita ini bisa kesampaian dan semuanya lancar,"ucapku dengan penuh harap.
"iya Raina, kamu juga jangan lupa berdoa, salatnya jangan ditinggalin!"ujar ibu lembut.
hah sholat, sudah lama sekali aku tak pernah melakukan ibadah wajib itu? sejak aku merasa takdir Tuhan ini begitu Tak adil padaku,saat kenistapaan datang tak henti-hentinya saat itulah aku mulai jauh dari Tuhan.
"rayna, kamu masih di sanakan nak?"suara ibu di ponsel mengagetkan.
__ADS_1
"eh,iya Bu."aku jadi gugup.
"ya sudah kalau begitu, ibu tutup yah teleponnya. Assalamualaikum.
"waalaikumsalam."
panggilan telepon kuakhiri, aku senang karena ibu selalu mendukung keinginanku, kalau begini aku semakin bersemangat.
******
hari terus berlalu, magang ku di pengadilan agama berjalan lancar, sidang skripsiku juga berjalan lancar, nilai A berhasilku kantong. setelah ijazah keluar nanti, aku akan langsung mendaftar pendidikan profesi advokat, uang tabunganku juga masih cukup untuk membayar biaya pendaftaran ulang, di mana ada kegigihan, maka keberhasilan akan kamu tuai, begitulah slogan hidupku walau keterpurukan pernah menghampiriku, aku semakin gigih untuk meraih cita-cita, demi menghancurkan nama Raina sang korban pelecehan di mana malam tahun baru itu.
Revan, aku masih selalu mengirim teror-teror untuknya, biar tak boleh hidup tenang, aku akan bahagia jika dia bisa mati dengan perlahan.
****
pendidikan profesiku dimulai, hari ini pertama di kelas, yaitu masih tahap pengenalan dan bimbingan setelah bulan ketiga, baru mulai praktek.
saat aku hendak masuk ke kelas, seseorang yang wajahnya sangat Tak asing menatapku dari barisan paling depan,seorang pria berkulit putih dengan mata sipit seakan terkejut melihat setan saat menatapku, dengan cuek dan pura-pura tak mengenalnya, aku melewati pria itu yang kiri masih mengamatiku sampai ke bangku belakang.
tak lama berselang,dusun mengajar masuk ke kelas guna memberikan pengarahan dan pengenalan mata kuliah singkat ini, kuikat rambut sebahu ini ke belakang agar tak mengganggu konsentrasiku.
berapa jam kemudian,perkuliahan hari pertama pendidikan profesi advokat ini selesai juga dan akan dilanjut besok, aku bangkit dari kursi dan melangkah menuju pintu, kemudian menyusuri koridor.
__ADS_1
"Raina?"sebuah suara yang memanggil namaku terdengar dari belakang, namun aku tetap mempercepat langkah dan pura-pura Tak mendengar.
Reyna, tunggu!"dia kirim berlari di hadapanku, perginya dari masa lalu yang ikut andil melecehkanku di malam tahun baru itu.
Aku diam, namun menatapnya dengan sengit,"kamu benar Raina kan?"seolah baru bertemu dengan teman lama padahal dia salah satu musuhku.
"bukan!"jawabku ketus dan melanjutkan langkahku yang berhenti karenanya.
"rayna, aku yakin kamu pasti rayna!"dia malah menghalangi kembali langkahku.
hembuskan atas kesal dengan kedua tangan mengepal"Raina sudah mati di malam penggantian tahun 2020 dan kamu salah satu pembunuhnya, perenggut kehormatannya, membuat dia menjadi sosok menjijikan dan dijauhi di masyarakat!"ku arahkan cari penunjuk ke hadapan wajah pria berwajah mirip oppa Korea itu karena dia blasteran Cina Jawa, begitu menurut Revan dulu.
"rayna, aku tak ikut Andil pada malam apakah itu, aku sudah lama mencarimu dan meminta maaf, maafkan kami, rayna!"pria sok bodoh itu berarti bartindak seolah dia memang bodoh, aku benci melihat tingkah sok polosnya.
"heh,, keparat.... maafkan sangat mustahil untuk setan seperti kalian, jangan mimpi! aku membenci kalian sampai ke urat nadi!"aku mendorong kasar bahu pria bernama lengkap Hartono itu, teman satu gang Revan yang kini sudah berganti nama menjadi David.
Tono terdiam dan menatapku nelangsa.
"jangan pernah memanggil namaku lagi!tak Sudi namaku disebut pria laknat sepertimu,calon penghuni apa neraka!"Ketut dengan emosi yang meluap-luap apa.
plak
takut lupa aku daratkan tamparan keras di pipi mulus tanpa noda itu, lalu melangkah untuk pergi
__ADS_1
bersambung