
"duh.... gue udah kenyang RAN, kalau minta dibungkusin saja sisanya boleh nggak ya?"soalnya gue suka laper tengah malam,"ujar clar manja, dengan suara surat-surat beceknya dan mata merem kayak boneka Barbie sedang kelilipan.
"boleh,Clara.. nggak nyangka aja cewek selangsing kamu.... ternyata suka makan malam juga, biasanya kan.... pada jaim dan jaga bentuk tubuhnya juga...."jawab Irfan sambil tersenyum,selalu melambaikan kami kepada waiters untuk membungkus sisa makanan yang masih tersisa banyak itu, walau dalam hati iya meringis karena sebentar lagi dirinya akan ditodong untuk bayar.
berapa menit kemudian.
"semuanya Rp rp3.300.000,"ujar sang waiter sambil memberikan bill kepada Irfan juga dua kantong makanan yang diputus untuk Clara.
menahan nafas sejenak, sebelum tersenyum manis walau hati menangis.
"bayar RAN, gue mau pulang, udah ngantuk banget soalnya, terima kasih ya, atas makan malamnya, ujar Clara sambil bangkit.
"hmmm..... kamu duluan aja clar,aku nungguin teman dulu soalnya dia mau ke sini."Irfan menggaruk kepalanya sambil berdiri di depan wanita bertubuh tinggi di hadapannya.
"oh gitu ya?"ya udah aku duluan."Clara tersenyum manja sambil mengucap pipi Irfan, lalu melenggang pergi.
Irfan tersenyum senang sambil mengusap pipinya, yang terdapat bekas sentuhan Clara, wanita dengan bentuk tubuh ideal yang sudah membuatnya langsung jatuh cinta.
"pak,apa belum mau bayar?"tanya sang waiters yang sedari tadi masih berdiri di dekat Irfan.
"oh nanti dulu mas, saya masih nunggu teman ini,"jawab Irfan dengan senyum tak nyaman sambil mengeluarkan ponselnya lalu menelpon pengacaranya.
"ada apa, fan ?"tanya sang pengacara saat telepon telah tersambung.
"bisa ke sini nggak, restoran xxx dan bawa uang cash juga, 3 juta ,"ujar Irfan dengan suara berat, tapi ia tak punya pilihan selain nelpon kuasa hukumnya itu walau ia tahu pastinya akan dapat omelan.
"kamu bikin ulah lagi, fan? saya ini kuasa hukum mu, bukan baby sitter fan!"jawab sang pengacara dengan jengkel.
"cepat ke sini deh, nanti aku ceritakan semuanya!"ujar Irfan akhirnya.
panggilan telepon terputus,Irfan berusaha pasang tampang santai walau sebenarnya ia bimbang takut karena pengacaranya itu tak mau datang.
"bagaimana, pak, kapan mau bayar? ini sudah 1 jam."seorang waiter kembali mendatangi meja Irfan bersama sang manajer restoran tersebut.
"hmm.... begini,saya hanya punya uang cas satu juta, jadi teman saya sedang menuju ke sini untuk menutupi sisa kekurangan uangnya,"ujar Irfan sambil mengeluarkan uang rp1.000.000 dari saku celananya.
"jadi. intinya Anda nggak bisa bayar lunas, saya terima dulu uang satu jutanya, jadi sisanya masih 2.300.000 lagi, sebagai jaminannya, boleh saya pinjam ktp-nya?"ujar sang manager.
"boleh,pak ini KTP saya, Irfan segera memberikan kartu tanda pengenalnya.
"sambil menunggu teman Anda datang, mari ikut saya ke dapur!"sang manager menyuruh dua pelayan untuk membawa Irfan ke dapur.
"loh.... mau ngapain saya dibawa ke dapur?"tanya Irfan lemas, karena dugaannya ia pasti akan disuruh cuci piring.
"ikut saja dulu!"jawab sang pelayang.
"nah, sambil menunggu temannya datang, lebih baik sambil cuci piring-piring ini dulu biar nggak bosan nunggunya,"ujar sang manajer sambil tersenyum.
Ivan menelan nafas berat dan tak kuasa untuk membantah, sebab ia juga tak ingin bisa melawan, daripada digebukin sampai mati lebih baik menurut saja walau ia merasa risih.
******
Clara tersenyum puas sambil memacu mobilnya menuju pulang, iya bahagia bisa mengerjai Irfan, musuh bubuyatannya itu,iya mulai berpikir untuk mengerjainya lebih dari ini lagi sebab Irfan terlihat benar-benar jatuh cinta kepadanya.
"hahaha... dasar pria bodoh, membedakan wanita yang ori ama yang kloningan saja tidak bisa!"Clara tertawa puas."lihat saja....akan ku kerjai kamu lagi sampai akhirnya kamu mau operasi kelamin sepertiku juga....."sambungnya dengan tak gantinya tertawa sebab hatinya begitu geli saat ini.
*****
__ADS_1
"udah tidur dek?"Ilham melingkarkan tangannya di pinggang Aurel yang sudah terlelap sejak beberapa saat yang lalu.
"udah,"jawab Aurel lirih.
"kok masih bisa menjawab,"Ilham menahan tawa.
"ditanya.... ya dijawab,"jawab Aurel lagi.
"hmm.... bilang saja belum bisa tidur kalau belum dipeluk,"ujar Ilham sambil mengecup dahi istrinya itu.
"nggak!".... Jawab Aurel.
"kok nggak?"Ilham melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.
"ya.. nggak salah lagi!"Aurel membalikkan tubuhnya dan menelusukan diri di dada sang suami.
Ilham menatap Aurel yang masih memecahkan mata lalu menerapkan pelukannya.
"tadi ketemu siapa aja di restoran?"kini giliran Aurel yang bertanya.
"ketemu pelayan, ada wanita, pria terus ada pengunjung lainnya juga.... terus ada pak fajar tentunya..."
"hmm.... kali aja ketemu Sinta juga."Aurel kembali mengorek nama mantan sekretaris bapaknya dulu, yang selalu ia cemburu kepada sang suami.
"kalau cuman bertemu ya nggak papa sayang, wong dia udah nikah kok...."
"tapi...dia itu...."Aurel tak dapat menyerocos lagi dan langsung membuka lebar matanya, saat mendapati aksi tak terduga dari sang suami.
"tidur, sayang!"Ilham memutar tubuh sang istri untuk membelakanginya lalu memeluknya dari belakang.
Aurel sudah sangat hafal akan kebiasaan tidur suaminya ini, iya juga merasa nyaman dengan posisi seperti ini, keduanya mulai terlelap dan larut dalam mimpi masing-masing.
*****
"lowongan jadi pengasuh? apa ini.... Ilham suaminya Aurel? pucuk dicinta, Ulun pun tiba. mungkin ini jalan caranya gue masuk ke dalam keluarga itu.... Hehehe.... Clara akan jadi pelakor...."Clara menekan alisnya saat membaca lowongan pekerjaan di koran pagi ini, ya tersenyum dengan susunan rencana di kepalanya.
"hmm.... pengasuh anak-anaknya Aurel dan Ilham, eh salah... satu diantaranya... juga ada anak Irfan, ini pekerjaan yang sangat bagus, gue coba telepon deh, mau booking dulu hihihi...."
Clara meraih ponsel dan mencoba menghubungi nomor kontak yang tertera.
beberapa saat kemudian, sambungan telepon telah terhubung ke nomor ponsel bik Ijah, kontak yang tertera di sana.
"buk, ada telepon dari nomor baru, sepertinya ini orang yang mau nanyain info lowongan di koran itu deh,"bik Ijah menunjukkan ponselnya kepada Aurel.
"angkat saja bik, kalau minat.... suruh datang langsung, biar saya bisa tes dulu dia,"jawab Aurel yang sedang sibuk dengan ponselnya, karena hobi barunya yang suka baca novel online karya penulis favoritnya'sarfina'kali ini ia sedang membaca novel berjudul"nafkah lima belas ribu dari suami,"dengan gandra horor misteri, iya benar-benar sedang tegang saat ini, apalagi sebelumnya ia juga sudah membaca berita horor trailer yang berjudul"martabak setan"bik Ijah, terlihat berbicara dengan si penelpon, lalu kembali mendatangi sang majikan.
"buk, namanya maya, katanya mau datang ke sini sebentar lagi, berusia 33 tahun, suka sama anak-anak dan baik katanya,"ujar bik Ijah.
"iya, saya tunggu, ya udah,kamu lanjut masak aja, aura biar sama saya,ujar Aurel kepada bik Ijah yang masih berkerabat dengan bik Imah, mantan pembantunya yang dulu, yang sudah lama pulang kampung dan istirahat dari bekerja.
satu jam kemudian, Bel rumah Aurel berbunyi,bik Ijah yang sudah selesai masak langsung berlari menuju pintu dan membukanya.
"assalamualaikum,"hujan wanita bertubuh tinggi dengan kulit putih bersih, body aduhai, dengan mengenakan baju serba panjang namun ngepres di tubuh,iya juga mengenakan kerudung yang hanya dipakai di atas kepala menutupi bagian atas rambut panjangnya yang terurai sampai pinggang. penampilannya sudah iya buat menyerupai gadis kampung, dengan hanya mengenakan make up tipis aja.
"waalaikumsalam, ini mbak Maya? Tanya bik Ijah.
"iya, saya Maya, yang tadi menelpon mau melamar jadi pengasuh,"jawab Maya alias Clara alias Aris.
__ADS_1
"silakan masuk, Mbak Maya! ibu ada di dalam,"ujar bik Ijahyang memanggil Aurel dengan sebutan ibu sebab majikannya itu menolak dipanggil nyonya.
Maya ada Clara persilahkan bik Ijah duduk di sofa ruang tamu, tak lama berselang,Aurel sudah muncul ke ruang tamu dan menyipitkan mata saat melihat mata yang menurutnya berubah Meco itu karena perawatan tinggi.
"perkenalkan ibu, saya Maya, yang mau melamar jadi pengasuh anak-anaknya,"ujar Maya sambil menundukkan wajah karena tatapan tajam dari Aurel,iya sedikit Bima karena takut mantan istrinya itu mengenali dirinya meski sudah dalam wujud wanita seperti ini.
"hmm... jadi namanya Maya? nama panjangnya Maya apa? apa boleh saya lihat ktp-nya?"tanya Aurel sambil duduk di depan clara alias Maya alias Aris.
Maya langsung gelagapan, sebab ia hanya punya KTP dengan nama Clara, ia menelan ludah tapi berharap bisa diterima bekerja di sini dengan sebuah misi rahasia.
"hehehehe... Bu,ada sih... cuman ktp-nya atas nama asli sedangkan Maya, iya nama panggilan saya saja,"jawab Maya dengan memutar otaknya cepat.
"emangnya kamu punya berapa nama?"Aurel menatap tajam wanita jadi-jadian itu di hadapannya.
"eh... namanya juga orang kampung, buk, bikin nama bagus-bagus.... tapi... mana dipanggil yang jauh dari nama asli. di kampung saya ini emang aneh,buk, masa dikasih nama Fernanda tapi dipanggil Nandot, terus nama Cynthia tapi dipanggil raya.... Terus.. Dikasih nama Sarina tapi malah dipanggil Lina... terus dikasih nama sarpan dipanggil Didin, tapi malah dipanggil Ujang..."Maya alias Clara mengoceh panjang lebar.
"stop Maya,, jadi nama asli kamu siapa? Lina Sarinah Cynthia Didin sarfan? tanya Aurel mulai gerah,dengan sikap berbalat Belit wanita dihadapannya."keluarkan KTP kamu ! kalau nggk punya KTP, mohon maaf....saya tidak bisa menerima kamu bekerja disini,"sambung Aurel dengan nada tegas.
dengan takut-takut,Clara alias Maya Maya mengeluarkan juga ktp-nya dengan memberikan kepada Ijah untuk diserahkan kepada Aurel.
''Clara, lahir di kota xxx tinggal di kota xxx...''Aurel menaikkan alisnya saat membaca identitas palsu dari Clara,"bagaimana bisa.... nama kamu Clara tapi minta dipanggil Maya? mau nyamar atau bagaimana ini? jangan macam-macam kamu ya!"
"ma... maaf Bu, nama asli saya Clara, cuman sama orang tua dan warga sekitar.... malah memanggil saya Maya,"jawab Maya dengan gugup karena Aurel terlihat majikan yang galak dan sangar.
"jadi, kamu mau dipanggil Clara atau Maya? terus di kota ini tinggal di mana?"sesuai nggak alamat kamu ini dengan tempat tinggalmu? tanya Aurel lagi.
"itu.... alamat tante saya, alamat asli saya mah di kampung xxx,"jawab Maya lagi.
"kenapa kamu mau bekerja? udah nikah belum? anakmu berapa? dan sudah pernah bekerja di mana saja?"Aurel terus saja menginterogasi Maya.
"saya janda, buk. ditinggal suami meninggal dan belum pernah punya anak, saya.... mau bekerja...biar bisa punya uang dan tempat tinggal soalnya nggak enak numpang terus di rumah tante...."jawab Maya dengan akting menangis.
"ya udah kalau begitu, kamu saya training dulu bekerja seminggu, kalau kerjamu bagus dan anak saya suka sama kamu, baru saya terima kamu bekerja. Oh ya, bisa naik motor nggak?"soalnya tugas kamu itu... antar dan menungguin putri saya di sekolah tk-nya,"jelas Aurel.
"bi...bisa buk,"Maya tertawa senang dan hendak meraih tangan Aurel hendak Salim.
"tak perlu Maya, kamu belum resmi diterima, baru training ya!. tunjukkan ke uletanmu, kalau ada sedikit saja telah di mata saya tentang kamu, maka kegiatan training akan dihentikan dan otomatis kamu ditolak!"ujar Aurel lagi dengan nada penuh penekanan.
"terima kasih, ibu, saya akan bekerja sebaik mungkin."Maya alias Clara tersenyum senang.
"KTP kamu saya tahan dulu! Baiklah,bik Ijah, antar Maya ke kamarnya biar bisa dia bisa beristirahat dulu, Aurel belanja dari sofa.
******
"hey,,cin, ini Om punya es krim untuk kamu,Irfan menghampiri cinta yang baru saja keluar dari kelasnya untuk beristirahat bermain.
"eh, ini om yang samping rumah kan? kata Mama, cinta nggak boleh dekat-dekat sama Om!"ujar cinta sambil berlari menemui wanita pengasuhnya.
"Mbak Maya, kata Mama.... cinta nggak boleh dekat-dekat sama Om itu,"cinta berlari menghampiri Maya alias Clara.
Irfan menautkan alisnya saat melihat penampakan wanita berkerudung merah yang kini dipeluk cinta.
"clara ini kamu kan?"ke mana saja, chat ku tak pernah dibalas?"Irfan tersenyum kepada Clara,yang sudah beberapa hari ini tak pernah membalas chatnya lagi setelah pertemuan di restoran waktu itu.
"hmm.... saya Maya, kamu pasti salah orang. ayo cinta, Mbak temanin main,"Clara menggandeng, Maya menggandeng tangan cinta untuk menuju tempat bermain yang ada di sampingnya.
Irfan tersenyum simpul sambil menatap Maya dan cinta, sambil membayangkan kalau saja mereka adalah pasangan keluarga harmonis, iya pasti akan sangat senang sekali.
__ADS_1
"Clara, aku yakin itu kamu, hatiku mengatakan demikian, kamu adalah jodohku, cinta terakhirku dalam hidupku dan calon ibu untuk anak-anak kita kelak,"Irfan membatin sambil mengusap dagunya.
Bersambung....