Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 71 tiga tahun kemudian


__ADS_3

Hari terus berlalu, karierku sebagai pengacara semakin berkembang. Tiga tahun merintis karier dari bawah, membuatku begitu mensyukuri nikmat kesuksesan yang saat ini sedang kurasakan. Kini aku tak lagi tinggal di kamar kos, tapi dengan jerih payah dan keuletan, aku bisa membeli sebuah rumah sederhana yang sekaligus ku jadikan sebuah kantor.


Aku sudah bersiap untuk pergi ke pengadilan pukul 10.00. Nanti aku akan mendampingi klienku dalam sidang perebutan hak asuh anak. Dia seorang wanita yang teraniaya oleh suami yang bertindak semena-mena, dipukuli, dan diselingkuhi di depan mata. Keputusan cerai sudah diketuk palu, tapi sang suami malah mempermasalahkan hak asuh anak yang menurutnya sebagai ayah takkan bisa mensejahterakan anaknya jika tinggal bersama sang ibu. Sebab sang suami, yang memang orang kaya, selalu merendahkan istrinya yang hanya bekerja sebagai penjual kue online.


"Madinah," itu nama klienku. Semula, ia tak mau aku menjadi pengacaranya sebab merasa tak mampu untuk membayarku. Tapi aku begitu terpanggil untuk menolongnya sebagai sesama seorang wanita yang sama-sama pernah disakiti oleh seorang pria. Maka aku menggratiskan jasaku ini untuk menolong yang tidak mampu tapi memerlukan pembelaan. Aku hanya mematok bayaran mahal jika klien itu orang kaya dengan kasus yang amat lumayan berat.


Pukul 10.00 kami masuk ke ruangan sidang, hari ini sidang pertama untuk perebutan hak asuh anak. Mataku menusuk tajam kepada pria yang duduk di samping mantan suami Madinah; dia Deni, musuh bebuyutanku. Sial, lagi-lagi aku harus beradu argumen-argumen bersama dia. Bulan lalu juga kami bertemu dalam sidang pelecehan seorang anak. Dia memang tak membela kliennya waktu itu, hanya memohon keringanan masa hukuman.


"Sidang dimulai!" palu hakim telah diketuk tiga kali tanda persidangan akan dimulai.


"Jaksa Penuntut Umum, silakan bacakan tuntutan anda!" ujar sang hakim.


"Terima kasih hakim yang mulia, saya di sini selaku Jaksa Penuntut Umum mendampingi klien saya yang bernama Pak Angga Herlambang. Klien saya, Pak Angga, menginginkan hak asuh dua anaknya yang bersama ibu Madinah, Verre Florinda, usia 8 tahun, dan Vanno Kurniawan usia 5 tahun. Karena beliau, sebagai seorang ayah yang begitu berkucupan, tentunya akan bisa mensejahterakan anak-anaknya dibanding jika diasuh oleh ibu Madinah. Pendidikan anak-anak terjamin, begitu juga tempat tinggal. Maaf, dalam hal ini klien saya bukan merendahkan kehidupan ibu Madinah. Beliau hanya ingin meringankan tanggung jawab ibu Madinah saja. Ibu Madinah tetap diperbolehkan jika ingin bertemu dengan anak-anak, dia tidak melarang. Saya harap, pak hakim bisa mengabulkan permintaan klien saya, Pak Angga. Terima kasih," Deni mengakhiri kata-katanya yang menurutnya tak ada bobotnya sama sekali. Kulirik tajam dia.


"Baiklah, terima kasih kepada Jaksa Daniel, sekarang giliran Jaksa Pembela Ibu Madinah. Jaksa Reyna," pak hakim mempersilahkan aku membacakan pembelaan kepada ibu Madinah.


"Terima kasih kepada pak hakim yang mulia. Saya di sini selaku Jaksa Pembela Ibu Madinah, memohon kepada pak hakim untuk mempertimbangkan semua ini. Bahwasanya hak asuh anak dibawah umur tetap harus jatuh kepada ibunya, sesuai hukum Islam Indonesia secara yuridis formal, Inpres, nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (HKI) pasal 105. Walau di sini Pak Angga beranggapan ibu Madina takkan bisa memberi kesejahteraan kepada anak-anaknya karena pekerjaan ibu Madina yang hanya penjualan kue, Pak Angga memang mapan dan kaya dan ibu Madinah sangat yakin anak-anaknya akan sejahtera di tangan ayahnya, tapi ibu Madinah khawatirkan akhlak anak-anak yang akan terbentuk dari seorang ayah yang hobi berselingkuh dan bermain wanita."


"Keberatan, Yang Mulia!" sanggah Deni sambil mengangkat tangannya.


"Keberatan ditolak! Jaksa Reyna, lanjutkan ulasan anda!" ujar Pak Hakim.

__ADS_1


Aku tersenyum sinis kepada Deni, selalu melanjutkan berkata, "Pak Angga memang kaya raya, perusahaan di mana-mana, tapi klien saya tak yakin ia bisa mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar. Sebab waktunya sehari-hari hanya akan dihabiskan dengan maladeni para wanita dan mengobrol cinta. Satu lagi yang ditakutkan Ibunya Madinah, ia tak mau anak-anaknya juga dipukuli seperti dirinya dulu. Apa jadinya, seorang anak yang masih di bawah umur berada dalam asuhan seorang ayah yang tak tahu agama, tak menjalankan syariat agamanya, dan kasar. Suka main pukul jika sedang dalam pengaruh alkohol. Pelan-pelan saya tak mau anak-anaknya akan mengikuti tabiat ayahnya yang sehari-hari hanya berfoya-foya dan bermain wanita. Ibu Madinah, klien saya, memang hanya menjual kue yang ia pasarkan secara online, tapi ia yakin bisa mendidik anak-anaknya dengan benar. Demikian penyampaian saya. Saya harap Pak Hakim dapat mengabulkan permohonan klien saya. Terima kasih." Aku mengakhiri pembelaan kepada klienku.


Untuk sesaat, hakim terlihat berbisik-bisik dengan para penasihat. Suasana menjadi hening.


"Baiklah, kami sudah mendengarkan penuturan dari kedua belah pihak. Sidang akan ditunda dua minggu lagi dengan bukti-bukti dan saksi dari kedua belah pihak. Sidang ditutup," Pak Hakim kembali mengetuk palunya tiga kali.


Aku tersenyum kepada Ibu Madinah yang umurnya baru 35 tahun itu. Ia memegang tanganku dan tak berhentinya mengucapkan terima kasih atas pembelaan yang kuberikan kepadanya.


"Mbak Madinah, tenang saja. Kita pasti bisa memenangkan hak asuh ini, apalagi bukti-bukti dan saksi sudah siap." Aku menggenggam tangannya dan menguatkan wanita bertubuh kurus itu.


"Terima kasih ya, Mbak Reyna. Kamu sangat baik, semoga Allah membalas kebaikanmu." Aku mengangguk dan mengaminkan dalam hati.


Anak? Saat mengingat kata itu, aku jadi teringat anak yang kubawa ke dunia di kamar mandi dalam kondisi tak bernyawa. Terbayang wajahnya yang pucat dan banyaknya darah di kamar mandi saat itu membuat kepalaku berputar sehingga aku harus berpegangan ke dinding agar tidak jatuh.


"Reyna, kamu kenapa?" Tangan seseorang memegang pundakku.


Aku mengangkat wajah dan menepis pemilik tangan yang suaranya sangat tak asing, lalu memegangi kepala yang masih berputar-putar. Dengan sebelah tangan, aku mendorong tubuh Deni yang terlihat sangat dekat denganku.


"Pergi kamu, aku tidak butuh bantuanmu!" Aku mendorongnya kasar.


"Reyna, kamu sakit? Ayo, aku antar pulang!" Dia malah merangkul tahuku.

__ADS_1


"Deni, jangan menyentuhku!" ujarku kesal sambil menepis tangannya dan berjalan tergesa-gesa menuju kursi yang ada di dekat parkiran.


Aku pejamkan mata sejenak sambil mengontrol perasaanku, kenapa aku merasa tidak enak badan? Apakah aku kesambar arwah bayi terkutuk itu? Aku menghembuskan nafas kesal karena kepala masih terasa berputar-putar.


"Reyna, minum dulu!" Deni malah datang lagi dan duduk di sampingku dengan mengeluarkan sebotol air mineral.


Aku meliriknya jengkel, tapi tenggorokanku merasa kering juga.


"Tidak ada obat biusnya kan di air ini? Atau mungkin ada obat tidurnya, dan ketika aku pingsan nanti... kamu dan anggota geng maksiatmu akan menyerangku beramai-ramai lagi!" ocehan Koko dengan kepala yang masih terasa sakit.


"Reyna, lihat saja... air mineral ini masih ada segelnya! Bagaimana mungkin aku bisa memasukkan obat bius? Minumlah, biar sakit kepalamu bisa sedikit mereda," ujar Deni.


Aku melirik dan merampas botol air mineral itu, lalu membuka tutup botol dan meneguknya. Dadaku terasa lega setelah diminum air, kepala juga mulai terasa ringan. Aku memejamkan mata sejenak dan mengatur napas, berharap rasa sakit di kepala bisa mereda.


Setelah itu, aku membuka mata dan merasa sedikit lebih baik. Sebaiknya aku segera pergi dari sini. Berlama-lama di sekitar Deni membuatku ingin menghajarnya, apalagi dia sudah mendapatkan tamparan yang keras dariku dua kali.


"Reyna, ayo aku antar pulang?" Deni mengejar langkahku. Aku tidak menghiraukan tawarannya yang sok baik, dan lambai saja taksi yang lewat di depanku. Deni berlari ke arah taksi dan membukakan pintu untukku. Aku menatapnya semakin jengkel, dan tanpa mengucapkan terima kasih, aku segera masuk dan menutup pintu dengan keras.


Taksi itu menuju ke rumahku, dan aku semakin membenci pria berwajah putih pucat itu. Entah kenapa? Dia selalu berusaha bersikap seperti malaikat padahal sebenarnya dia adalah teman para setan, dan pasti dia mendapatkan predikat setan dari diriku. Cih! Kutekannya bahu bekas sentuhannya tadi dengan jijik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2