
"kalian itu bego! teman dikeroyok banci malah nggak tolongin!"umatku kesal, masih dengan posisi terbaring di tempat tidur.
"sorry lama, Rev, tapi ini udah tolongin kok,"jawab Andre sambil saling pandang dengan teman-temanku lain,
"tapi aku udah ternodai!"melempar batal ke wajah Andre.
"sorry, habisnya waktu kamu menelpon aku lagi di klab sama cewek,"Andre menundukkan wajah.
agghhh... dasar Andre!"padahal waktu para banci itu mulai mengeroyokku,aku sempat menekan nomor Andre dan berharap ia datang tapi nyatanya mereka datanglah setelah tebu ini terpecahkan dan lebih strategisnya disiram air cabai pula sialan!!!
"kamu kok bisa kalah sama banci sih, van?"Arman mengaukan dahinya.
"awalnya.... mereka pura-pura jadi kuntilanak gitu, mana pantai gelap pula, mana, setelah aku lelah karena ketakutan, mereka langsung beraksi.aghhh...sial!!. jeritku kesal dengan mengepalkan tinju aku benci, rasanya tak terima diperlakukan makhluk aneh bertulang lunak itu, keparat!!!! Awas saja, kalau sampai ketemu, ku bikin mati mereka, berani berurusan dengan Revan, maka hidupnya ku pastikan akan hancur.
"kenapa kamu nggak lapor polisi saja, van?"ini termasuk dalam tindak pidana,ujar Tono, sang calon pengacara, di antara kami berenam, hanya dia saja yang kuliahnya kelar, yang lainnya masih mengkrek, termaksud aku.
Aku terdiam, sejak tadi subuh,Tono memang menawarkan untuk lapor polisi tapi aku masih ragu sebab semua yang ku adami tadi malam sungguh sangat memerlukan. aku tak sanggup jika semua orang mengetahui berita ini dan sampai masuk koran, aku tak mau.
"kualat sih, mau main sama cewek malah nggak ngajak kita-kita,"ngeledek Ferdy yang kusambut dengan lemparan guling tepat di arah wajahnya.
"jadi, menurut kamu siapa yang berada di balik musibah yang telah menimpamu ini, van?"tanya Tono lagi.
"aku nggak tahu, semuanya pakai topeng kuntilanak, yang jelas mereka panci semua,perasaan aku nggak pernah terlihat masalah dengan para pria kurang matang itu tapi bisa-bisanya mereka malah modal itu begini."aku mengepalkan tangan kesal, kejadian itu lagi-lagi terdiam di ingatan.
"apa semua ini ada hubungannya dengan Reyna? apa dia yang menyuruh para buncis itu untuk melecehkan kamu, van?"Ferdi menatapku serius.
aku menautkan alis dan mulai menyusun untuk poin-poin kejadian sejak awal hingga akhir.
"mungkin nggak kalau hal yang dialami Revan adalah karena dari Raina, gadis malam yang sudah kalian renggut kehormatannya dengan mengenaskan?"Tono mengusap wajahnya.
aku kembali terdiam, kejadian malam petaka yang menimpa Raina kembali berputar di kepala, di mana Tono mencoba menghalangi kami namun Andre, Ferdi, Bobby,dan Arman tak mau mendengarkan dan malah ikut menikmati tubuh mantan pacarku itu.
__ADS_1
"bisa jadi itu,"jawab Bobby dengan menatap tajam ke arah kami.
"terus kita harus apa? sekarang Revan, mungkin besok-besok malah kita, gimana ini?"tanya Ferdi cemas.
kami semua kembali terdiam, keempat temanku itu terlihat cemas kecuali Tono, dia masih santai karena dia memang tak ada terlibat dalam malam petaka, diantara kami berenam cuma Tono saja yang tak berpengaruh dengan kegiatan menyimpang, walau dia gaul dengan kami.
"apa kalian gak mau meminta maaf kepada Rayna? apa kalian nggak merasa bersalah karena telah menghancurkan kehormatannya?"Tono semakin mengeluarkan kata-kata ampuhnya yang sukses membuat semua teman-temannya semakin bungkam, termaksud aku.
untuk beberapa saat, kami semuanya terdiam.
"ya sudah, aku pulang duluan, ada kuliah sore ini, semoga cepat sembuh, van!"ujar Tono dan langsung melangkah keluar dari kamar.
tak lama setelah Tono pamit pulang, keempat temanku lainnya juga pamit pulang, aku kembali sendiri dan merenungi nasibnya telah Kuala, Bu usap wajah yang terasa lelah, lalu merebahkan diri sambil terus memikirkan semua yang kualami selama beberapa bulan terakhir ini.agghh..... bayangan terjadi tadi malam tak bisanya dari kepala ini,ku pegangi kepala dan menggeleng agar bayangan itu tak kembali muncul di memori ingatan.
kutekan kontak Tiara dan menyuruhnya ke sini, menggambarkan kalau aku sedang sakit dan minta dibawakan makanan.
setengah jam kemudian, Kiara langsung datang dan merawatku yang sedang sakit, dia memang calon istri terbaik, aku semakin mencintainya.
"kamu kenapa sih, van?"kiara merengut saat aku menghindar saat dia hendak mencium bibirku.
"maaf sayang, aku sedang sakit, nanti kamu marah ketularan,"jawabku dan berharap dia tidak tersinggung karena penolakan ini.
"ya sudah, aku pulang saja, kamu istirahat dan semoga cepat sembuh!"hujannya sambil mengambil tas di atas kulkas dan pergi dari kamarku.
ah,kiara maafkan aku, sayang.
*****
kondisiku masih kurang walau sudah beristirahat seminggu,Tono menawarkan untuk ke rumah sakit dan memeriksakan diriku tapi aku tak mau walau alat pembuangan dan organ vital terasa nyeri.
jangan sampai para banci itu menulariku penyakit memalukan itu.
__ADS_1
aku melangkah keluar dari kamar lalu duduk di depan televisi, rasanya bosan sekali, karena ulah para banci itu, aku tak bisa keluar tadi malam, kurai pun selalu menelpon Kiara untuk memintanya datang ke sini, sombong sekali dia,pacar lagi sakit malah nggak dijenguk walau dia tak tahu masalah yang sebenarnya telah menimpaku.
sial!"Kiara Mala tak mengangkat panggilan teleponku, semenjak kejadian itu, kenapa dia? apa dia marah dan tersinggung?kurai kunci mobil lalu berniat untuk keluar walau hanya sekedar untuk mencari angin.
berapa saat kemudian, aku sudah melenggang di jalan tanpa arah, kuraih ponsel dan menghubungi nomor Andre dan seperti biasa, nomor si gondrong itu paling susah dihubungi, kulirik jam di pergelangan tangan yang sudah menunjuk ke jam 20.30, aku telepon Tono lalu menjemput ke rumahnya untuk mengajaknya nyantai di cafe.
"eh, Andre kok gak bisa dihubungi, ton? sok sibuk sekali dia!"tanyaku saat Tono masuk ke mobilku.
Tono hanya mengangkat bahu, lalu berkata,"udah sembuh kamu van?"
"buang air sama bab masih suka nyeri, kenapa ya? aku nggak pernah sakit kelamin kan,ton? tanyaku cemas.
"makanya.... diajak ke rumah sakit itu mau, jangan bilang nggak mau melulu, diajak lapor polisi juga nggak mau, heran aku sama kamu!"dia mulai mengomel.
"bukannya nggak mau, tapi aku tak mau cerita memalukan ini sampai tersebar, kalau diperiksa ke rumah sakit, pasti bakal ditanyain dokter penyebabnya, masa aku harus cerita tentang perkosaan enam banci itu?"ku banting setir dengan gerang, dapat berhenti di depan kost Andre.
eh, itu kayak mobil Kiara, ngapain dia ke sini ?"aku mengharapkan dahi, perasaan ini mulai tak enak, firasat jahat mulai menghantui, ku tinggal Tono yang masih berada di mobil, aku bergegas masuk ke rumah kost temanku itu dan menuju kamarnya.
tok tok
tak ada sambutan dari dalam nama saat ku tempelkan telinga ke pintu, terdengar ******* kenikmatan, Andre memang gila dan suka bawa cewek ke kamar kosnya, tapi dugaanku ini malah sedang bersama Kiara.
brakk
pintu langsung terbuka hanya dengan sekali tendangan dan pemandangan tak mengenakan tampak di depan mata, keparat sial!"Kiara langsung meraih pakaiannya.
"kalian berdua gila! dre, Kiara pacarku dan kami berpacaran untuk menikah, sialan sekali kamu!"kudaratkan pukulan di wajahnya.
"sorry, Van...."ujarnya and ujar Andre lirih sambil memakai kembali pakaiannya.
"kita putus!"bentakku pada Tiara saat dia mendekat ke arahku, Dengan hati yang kesal, aku keluar dari kamar terkutuk itu. hati ini sangat sakit, baru kali ini seorang Revan dikhianati seorang cewek,sial.
__ADS_1
Bersambung