Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 48 Aris putraku sudah meninggal


__ADS_3

untuk beberapa saat, kedua ibu dan anak itu saling tatap.


"mau cari siapa ya?"tanya Utami, wanita paruh baya yang sudah melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Aris Aulia yang kini telah meninggal, begitu kabarnya ia dengar walau tak diketahui di mana makamnya.


Clara alias Aris langsung menangis dan berlutut di hadapan kaki mamanya, Utami yang tak mengenali lagi putra semata wayangnya itu tentu saja keheranan.


"kamu ini siapa? dan ada apa?"tanya Utami yang menarik kaki mundur ke belakang.


Clara masih saja berjongkok dengan air mata yang terus mengalir,perasaannya semakin mudah tersentuh layak seorang wanita sejak fisiknya berubah total.


"bangun, mbak, jangan berjongkok seperti ini! kamu ini siapa dan ada keperluan apa?"tanya Utami dengan sebuah graduga di kepalanya.


cinta alias Aris segera bangkit sambil menekan air matanya, iya menggigit bibirnya,iya berusaha menghentikan tangis agar bisa berbicara dan mengakui siapa dirinya.


" apa kamu... wanita simpanannya wilan"tanya Utami dengan menambah rasa sesak di dadanya, sebab suaminya memang suka berselingkuh walau selalu berhasil mengelabuinya.


Clara penggiling dan langsung memeluk Utami,tangisnya kembali pecah saat mendekap wanita yang telah melahirkannya itu.


ada getaran ane di hati utama saat wanita ya bentuk tubuh sempurna dan wajah cantik itu memeluknya, yang merasa mereka saling kenal dan berhubungan dekat, tapi sudah lelah ya mencoba mengingat, tak juga iya karena wanita yang kini sedang memeluknya sambil menangis.


"nya,, coba ajakin masuk dulu aja mbaknya. biar ngobrol di dalam."minum yang sedari tadi menyaksikan adegan itu memberikan usul...


"iya,,nem,,, ayo masuk,,mbak! ceritakan masalahmu di dalam saja!"Utami melepaskan pelukan dari Clara lalu menggandengnya masuk dan kemudian mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.


cara menghapus air matanya,iya senang saat bertemu sang mama tapi kini ia bingung untuk menjelaskan siapa dirinya sedangkan beberapa tahun yang lalu ia sudah meminta seseorang untuk memberikan kabar tentang Aris yang telah meninggal.


"minum dulu, setelah itu baru ceritakan apa masalahmu datang ke sini."ujar Utami setelah inem menyerukan segelas minuman dingin untuk tamu mereka.


cinta menganggukkan kepala lalu meraih segelas minuman di hadapannya kemudian meneguknya sedikit, iya merasa sedikit tenang, tapi lidahnya masih terasa keluh untuk mengakui semuanya sekarang.


Utami menatap lekat wanita yang terlihat bimbang di hadapannya itu, hatinya mengatakan kalau ia merindukan tatapan mata itu, tapi wajahnya terlihat asing, iya seperti mengenali tatapan mata itu dan sangat Tak asing.


"kamu ini siapa sebenarnya? saya merasa mengenalmu tapi nyatanya.... saya tidak mengenalmu....."Utami bingung sendiri dengan kata-katanya.


"mama...."Clara alias Aris menatap sang mama,air matanya kembali meluncur saat mengatakan kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya dahulu, ketika ia baru belajar bicara.


"ma.... maksud...Ka....kamu...a...apa...?Utami merasakan hatinya bergetar saat wanita itu di hadapan yang menyebut kata dengan suara serak-serak basah yang tak ia kenal itu.


Clara alias Aris turun dari sofa dan meraih tangan sang Mama sambil mencium lutut wanita paling ia sayangi itu, Utami semakin kebingungan akan sikap wanita yang menurutnya mirip Aris itu, putranya yang sudah meninggal di Amerika dan jenazahnya tidak bisa dipulangkan"kamu ini siapa?"tanya Utami lagi.


clara menatap mamanya dengan air mata yang berlinang-linang.


"apa kamu Aris? tapi ini tidak mungkin.... arti seorang pria dan ia telah meninggal, aku hanya punya satu putra tunggal dan ia tak mempunyai kembaran..."ujar Utami sambil menyapu air mata yang mendadak meluncur saja di pipinya.


"benar mah, aku Aris... Putra mu..."Clara alias Aris memeluk sang mama dan menyempahkan tangisnya sekali lagi di bahu sama mama.


"ini tidak mungkin! bagaimana bisa kamu menjadi seorang pria seperti ini? putraku sudah meninggal, kamu jangan coba-coba mau menipu!"ujar Utami sambil mendorong clara menjauh dari pelukannya.


"mama.... maafkan aku.... maafkan putramu yang telah mengubah kodratnya ini..... aku seorang pendosa... maafkan Aris, ma...."Clara masih berlutut di hadapan mamanya.


Utami memegangi dadanya, pengakuan wanita mudah dihadapannya ini memang tak masuk akal, tapi hatinya memang merasakan ada yang berbeda dari tatapan matanya. Bentuk fisik Aris memang sudah berubah, hidungnya dibuat semakin mancung, bibirnya dibuat seksual tapi bola matanya, tetap manik coklat itu yang beda di netralnya hanya penampakan bulu mata yang bulat lebar dan lentik.

__ADS_1


"apa buktinya kalau kamu memang Aris, putraku?"tanya Utami dengan suara yang bergetar.


c


clara kembali duduk ke sofa sambil mencari bagian tubuhnya yang bisa ia tunjukkan sebagai bukti kalau dirinya adalah aris Aulian putra dari Utami dan wildan. iya menggeleng frustasi karena tak bisa memberikan bukti apa-apa, iya bisa memaklumi sang mama yang memang tak lagi mengenalinya karena kini dirinya telah berubah 100%.


"kenapa? kamu tidak bisa membuktikan kalau kamu adalah Aris buktikan?"tanya Utami sekali lagi.


"fisikku memang sesudah berubah 100% ma, tidak apa kalau mama tidak bisa percaya pengakuanku. Aku harap.... mama bisa memaafkan segala kesalahan putramu ini, aku akan bertaubat, ma, aku takkan bisa kembali ke bentuk fisikku yang semula."Clara menghapus air matanya.


untuk beberapa saat keduanya kembali saling tatap,Utami percaya akan pengakuan wanita di hadapannya karena nalurinya mengatakan kalau ia memang benar Aris.


"kalau kamu memang Aris, mengapa.... kamu melakukan ini, nak? mengapa kamu menjadi transgender seperti ini? dosamu sudah banyak, lalu kenapa kamu kembali membuat Tuhan murka dengan mengingkari kodratnya? ini dosa besar, Aris!"Utami berkata dengan nada tinggi.


film yang sudah dari tadi menguping pembicaraan majikannya memegang dada kaget,iya memang pembantu baru di rumah ini tapi ia tahu cerita tentang putra sang majikan yang diakui telah meninggal itu. iya hanya bisa menggelengkan kepala shock.


"cerita panjang. segala kepahitan hidup.... membuat Aris khilaf ma,sehingga melakukan hal ini tapi kini Aris sudah sadar akan semua kesalahan itu walau semuanya sudah terlambat. Tuhan juga sudah memberikan hukuman, ma, Aris sakit kanker lambung mungkin.... senyawa aris takan lama lagi,"ujar Aris dengan berusaha menguatkan diri.


Utami hanya bisa memegangi dadanya mendengar cerita Aris yang kini sudah menjadi wanita itu.


"setelah bebas dari penjara, Aris pergi ke Amerika dan mengurung diri selama setahun, namun nasib sial langsung menerpa ketika Aris mencoba mencari angin segar, Aris dilecehkan oleh dua pria gay di sana, hingga akhirnya depresi dan memutuskan menjadi transgender, kurang lebih seperti itulah ceritanya."harus terus bercerita sambil meremas jemarinya.


Utami menikah air mata mendengar cerita Aris.


"kalau Aris meninggal nanti.... Aris harap.... bisa diproses sebagai pria walau bentuk tubuh ini sudah berubah, Aris menyesal melakukan semua ini mah, ma."Clara alias alis kembali menyegah air matanya."papa mana ma? Aris mau minta maaf sama dia, setelah ini, Aris akan pergi."


"nak, maafkan Mama juga.... yang tak mensupportmu ketika dipenjara... sehingga kamu menjadi seperti ini, andai Mama tak ikut papamu ke luar negeri dan tetap memperhatikanmu, mungkin kamu takkan mengalami hal-hal buruk itu. maafkan Mama Aries,"Utami memeluk putra tunggalnya itu.


Wildan yang sejak beberapa menit yang lalu mendengarkan pembicaraan Utami dan wanita muda yang mengaku Aris itu mengerutkan dahi, sambil menatap adegan tangis tangisan itu.


"kamu sakit kanker lambung stadium berapa,aris? kita akan menemani kamu berobat, kamu akan sembuh, nak."Utami melepaskan pelukannya dari anaknya itu.


"belum tahu, ma. ini baru diagnosa awal, terima kasih Mama sudah mengenali Aris, ma."Clara alias Aris merasa sangat terharu.


Wildan yang sedari tadi hanya berdiri di dekat pintu utama kini melangkah mendekat ke ruang tamu.


"jadi.... wanita transgender ini adalah Aris, putramu yang tidak berguna itu, Utami?"suara wildan terdengar lantang. tatapan tajamnya ke arah Aris alias Clara.


claras segera bangkit dari sawah dan langsung berlutut di kaki sang papa, seperti yang tadi ia lakukan kepada mamanya, walau iya yakin papanya takkan seperti mamanya yang cepat dengan mudah memaafkannya.ya sudah menyiapkan mental untuk menghadapi kebengisan papanya sebab ia sudah sangat kenal akan sifat keras papanya itu.


"maafkan Aris, pa, Aris sakit sekarang pa, umur Aris takkan lama lagi."ujarnya sambil mencium tangan sama papa.


Wildan menarik tangannya dari Clara dan mendorongnya dengan kasar.


"jangan panggil aku dengan sebutan papa, putraku Aris sudah mati!"ujar Wildan dengan kasar.


"pa,, jangan kasar begitu dengan Aris, dia sedang sakit. walau bagaimanapun bentuk fisiknya sekarang, dia tetap anak kita, seorang anak yang dulu kita nanti kehadirannya dengan sukacita."Utami menghampiri suaminya itu dan mencoba memberikan pemahaman.


Wildan menatap tajam Clara alias Aris dan mengikuti tarikan tangan istrinya yang mengajaknya untuk duduk ke sofa, Utami mulai menceritakan kisah Aris yang sebenarnya sudah ia dengar tadi, sedangkan Clara, iya masih duduk melesat di lantai dan tak berani untuk mendekat sambil berdoa dengan hati agar papanya mau memberikan maaf, setelah itu akan pergi.


"pa,, kita juga turut andil dalam perubahan bentuk fisik Aris ini, andai dulu kita tak meninggalkannya sendirian dalam menghadapi kasusnya, mungkin dia takkan terjerumus seperti ini,dia begini karena merasa jata dirinya sebagai laki-laki hanya akan membuatnya sengsara sehingga akhirnya ia khilaf, walau bagaimanapun, dia tetap anak kita. maafkanlah dia, Dan kita mulai hidup baru lagi bersamanya."Utami membujuk sang suami.

__ADS_1


"hmmm.... maafkan aku, Utami, hatiku tak selembut hatimu. Aris putra kita telah lama mati, jadi... dia bukanlah anakku."Wildan mengarahkan juru bicara telunjuknya kepada Aris alias clara.


"pa,, jangan begitu, kumohon maafkan Aris,"ujar Utami sambil menikah air matanya.


"tidak bisa!"Wildan menggelengkan kepalanya dengan tugas, keputusannya takkan bisa diganggu gugat lagi.


Clara sudah bisa menduga hal ini sebelumnya, ia sudah sedikit senang akan sambutan mamanya.Wildan mengepalkan tangannya lalu bangkit dari sofa dan mendekat ke arah wanita yang mengaku putranya itu.


"pa, jangan apa-apa kan anak kita!"Utami menarik lengan suaminya namun Wildan menepisnya.


"rasakanlah asabmu sendiri dan segera pergi dari rumahku!"Wildan menyeret Clara menuju pintu dan hendak menendangnya keluar dari rumah.


"maafkan aku, pa....."ratap lara pasrah sebab ia tak punya daya untuk membela diri sebab semua yang telah ia lakukan selama ini memang salah dan ia sangat menyadari hal itu.


Wildan mendorong Clara alias Aris keluar dari rumahnya dengan kasar,rasa ke bapaknya sudah lenyap sejak Aris mencoreng namanya dengan video porno yang beredar luas hingga membuatnya harus kabur ke luar negeri beberapa tahun. iya sudah menganggap Aris mati dan tak sedih untuk memberi maaf.


"pa, jangan begitu, sedang sakit."Utami garden berlari memeluk clara yang terjatuh di lantai keras.


"nggak apa,ma, aku memang salah...."clara berusaha tegar, yang penting ia sudah berani tidur dan meminta maaf."mah jaga diri yang baik, Aris akan pergi."


"mau ke mana, nak?"tanya Utami dengan berurai air mata.


"Paris akan menenangkan diri ke pesantren, Aris mau bertaubat ma, Aris mencium tangan sama."maafkan aris,ma, karena sudah buat malu seperti ini."


"nak, Mama tetap bangga sama kamu yang sudah berani mengakui semua. semoga tobatmu diterima oleh yang maha kuasa,nak. nanti telepon mama, ya, kabari tentang keadaan, walau bagaimana pun... kamu tetap anak mama, Aris,"Utami memeluk putranya dalam wujud wanita itu.


Wildan menghembuskan nafas berat, artinya tersentuh juga tapi egonya membuat harus bisa bersikap tegas, iya segera menarik Utami dan mengusir Clara sekali lagi,iya menyeret istrinya masuk dan menutup pintu dengan keras.


dengan langkah gontai,Clara alias Aris melangkah turun dari teras rumahnya lalu menuju halaman untuk keluar dari perkarangan rumah masa kecilnya itu.


cinta segera melambai sebuah taksi untuk pulang kerumahnya,ia takkan kembali kerumah aurel lagi,cita-cita untuk menjadi pelakor dalam rumah tangga mantan istrinya itu telah dikubur sudah,dia hanya ada satu keinginan bertaubat dan meninggal dengan tenang sebab dipikirannya kini sudah terbayang kehidupannya setelah mati nanti.


*****


Irfan yang selalu terbayang-bayang wajah car, putra dari Margaretha itu mulai memberanikan diri untuk berkunjung dan sepasang tampan cuek walau wanita berusia 40 tahunan itu selalu pasang tampang masam dan mengusirnya secara tak langsung.


"kamu lagi, fan?"Margaretha merasakan hidupnya tak tenang karena Irfan selalu datang berkunjung hampir setiap hari.


"Hay,, selamat sore. saya nggak ganggu kan? tadi kebetulan lewat jadi mampir deh, ini saya ada bawain es krim dan snack untuk nafal,"Irfan sambil mendorong bungkusan di tangannya.


kereta menghala nafas berat, iya jadi ingin pindah rumah karena tak kuasa harus didatangi Irfan,walau hingga detik ini mantan kekasih dari Carolina itu belum tahu akan siapa nafak sebenarnya, akan tetapi, ia selalu dihantar rasa takut kehilangan anak angkatnya itu.


"nafal,tak ada fan, bawa lagi saja es krimmu ini."Margaretha tak mau menerima bungkusan dari Irfan.


"oh gitu....


"om irfan....


belum selesai perkataan Irfan, nafal udah berlari menghampirinya, lagi Margaretha hanya bisa menarik nafas berat, iya jadi putus asa jika sudah melihat keakraban kedua ayah dan anak itu.


Irfan langsung mengajak Nafal kenapa untuk duduk di kursi teras, sedangkan Margaretha melipat tangan di dada sambil mengamati keduanya, iya memang selalu begitu karena ada ketakutan di hatinya Irfan akan membawa kabur Nafal, putra kesayangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2