
ada suara tangisan bayi di tepi telinga yang membuat tidurku dari terusik, akan tetapi, saat membuka mata dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar, suara itu malah tak terdengar, apakah bayi terkutuk itu hidup kembali? kutatap tajam kotak di pojok kamar yang sudah kubungkus rapi layaknya kado di hari ulang tahun ah, kado itu akan kuberikan kepada Revan, sebagai ucapan selamat tahun baru.... Hahaha, aku merasa ini sangat lucu, bawa ini seakan tak bisa ku hentikan Revan, tunggu kadomu datang! Hahaha... aku semakin cekikikan, membayangkan ekspresi terkejutnya nanti. semakin membuat hati terasa tergelitik, entah kenapa, hal ini sangat lucu menurutku? apakah aku sudah mulai gila? aku tertegun sejenak, lalu menghentikan tawa ini dan kembali fokus kepada rencana.
kuraih toples biskuit di atas narkas lalu memakannya, aku lapar...lalu meneng gak beberapa botol susu UHT yang sengaja sudah kusiapkan dari kemarin. tubuh ini mulai terasa segar, namun setelah meminum susu itu aku malah ingin pipis, aduh,, bagaimana ini? aku meringis nyeri dan takut jika malah darah lagi yang keluar, sebaiknya kutahan saja dulu.
aku meraih ponsel lalu melihat waktu, ternyata sudah pukul 15.30, pantas saja aku sudah lapar. ku edarkan pandangan ke atas meja, lalu beranjak bangun dan meraih kotak roti dan selainnya, kembali ku eksekusi segala makanan itu dan memakannya dengan lahap.
pukul 19.30, aku sudah bersiap pergi walau melangkahkan kaki saja masih terasa risih, aku harus kuat dan tidak boleh cengeng. dengan sambil berpegangan di dinding dan membawa bungkusan kado, aku melangkah perlahan lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu.
di depan rumah kost, taxi yang ku pesan sudah menunggu,bergegas aku masuk ke dalamnya lalu menyuruhnya untuk jalan. setengah jam berjalan dan tak jauh dari rumah baru Revan, aku sudah meminta untuk diturunkan.
aku melangkah perlahan dan menatap tajam ke arah rumah bertingkat dua itu.eh, mobil Revan kebetulan sedang terparkir di depan pagar, sangat pas sekali. mobil sport merah yang memang terbuka itu sepertinya baru saja tiba, mungkin pemiliknya hanya mampir sebentar saja. segera kuletakkan gugusan kado itu di samping kursi kemudi, lalu melangkah menjauh. ku lambaikan tangan pada abang tukang ojek dan meminta diantar ke warung makan.
Setelah kenyang, aku kembali mencari taksi untuk pulang, ke rumah kost. Revan senang dengan kado yang kuberikan, aku menahan tawa lalu turun dari tak.sekarang aku buka pakaian ala ninja ini yang tadinya hanya terlihat mata saja itu, kubawa pakaian itu ke kamar mandi lalu membakarnya hingga menjadi abu, semua jejak dan bukti telah ku musnahkan. besok aku akan pindah rumah kost dan memulai hidup baru, Raina telah hidup kembali. bukan Raina yang bucin tapi Raina yang tangguh dan tak butuh siapapun, calon pengacara kondang, aku tersenyum angkuh.
******
__ADS_1
beberapa hari kemudian,kini aku sudah terbaring di kamar kost yang baru dan kali ini memilih tempat kost yang tak jauh dari calon tempat magang. minggu depan, aku baru akan ke kampus untuk melengkapi persyaratan magang yang masih kurang kemarin karena keburu acara lahiran anak setan itu.
urai ponsel dan membuka aplikasi koran online, aku ingin tahu, apakah Revan melaporkan ke polisi penemuan bayi tak bernyawa itu.
[berita penemuan mayat bayi dalam kotak kado: siang tadi telah ditemukan mayat bayi laki-laki yang dibungkus seperti kado, DV yang mendapatkan kado itu terletak di dalam mobilnya, mengira telah mendapatkan surprise bdari sang pacar. akan tetapi, saat membuka bingkisan itu, bukan kado istimewa yang ditemukan melainkan sosok mayat bayi di dalam plastik hingga detik ini masih dilakukan pengusutan, siapa pelaku pembuangan bayi itu, saudara dv dan pacarnya TR, saat ini masih menjadi saksi.]
aku tersenyum miring, setelah membaca berita itu, rasanya sangat puas. ini baru awal Revan, akan lebih banyak kejutan lagi dan tentunya untuk kamu,aku memang sengaja tak melaporkannya ke polisi karena hukuman penjara itu masih kurang cukup untuk membalas semua yang telah ia perbuat kepadaku.
kuraih ponsel lalu kembali memikirkan rencana untuk magang. sebaiknya magang kutunda saja dulu, ada baiknya menyelesaikan menyelesaikan skripsi, apalagi judulnya ku hancurkan sudah mendapatkan ACC, Raina, kuambil laptop lalu memulai mengetik apa awal skripsi yang ku targetkan harus selesai dalam waktu tiga bulan dan rencananya, sambil menunggu jadwal sidang akhir nanti. baru akan ku manfaatkan waktu magang sebab aku butuh waktu sebulan untuk antri sidang skripsi.
oh ya, sebelum tidur, aktivitas rutin juga harus melakukan yaitu menelpon revan dengan nomor baru lalu mendengar mendengarkan rekaman kami dan seorang bayi, kadang juga, aku mengirimkan video boneka yang kutusuk-tusuk hingga mengeluarkan darah,tempo hari aku juga pernah mengirimkan kembali bingkisan yang berisikan boneka seperti bayi yang tentunya sudah aku siram dengan darah ayam dan tepat dengan tulisan happy new years. aku takkan membiarkan dia bernafas dengan tenang.
"agghhh!!!"terdengar suara jeritan Revan dari arah ponsel yang disertai nada'tut tut'panggilan terputus.
Hahaha.... aku tertawa puas, setelah menerornya, segera aku keluarkan kartu sim lalu mematahkannya. besok-besok akan kugunakan kartu yang lain lagi, tarimah hukumanmu, Revan sayang, dengan sampel tersenyum sendiri.
__ADS_1
aku mulai terbaring dengan memeluk gunung ku lalu memejamkan mata.
*******
"owee...owee... owee..."suara bising tangisan bayi terdengar di telingaku lagi.
aku membuka mata cepat, lalu pergi dari tempat tidur dan mencari sumber suara, tangisan semakin kencang, hingga aku harus menutup telinga agar Tak peka, maka kau kini berhenti di depan kamar mandi.eh, ini kamar kostku yang dulu, kenapa aku ada di sini? aku celingukan namun kangen Kanang malah memutar penuh pintu.
"agghhh!!??"jaritku histeris melihat sosok bayi bersimpa darah di lantai kamar mandi.
aku segera terdorong di atas tempat tidur dengan nafas yang tersengal-sengal, ku usap wajah yang penuh keringat, ternyata aku sedang bermimpi, syukurlah.
kuraih segelas air putih di atas meja dan meneguknya hingga tak tersisa, sampai kapan mimpi ini akan terus meneror hidupku? dia bayi tak berguna itu selalu hadir di dalam mimpi, karena ia menerorku? kenapa tak meneror enam orang bapaknya itu saja?ku kepalkan tangan dengan garam
bersambung
__ADS_1