
sudah seminggu aku tak berani keluar dari rumah,ponsel juga sengaja kumatikan agar tak ada yang menghubungiku untuk menanyakan berita viral itu. entah kenapa? kesialan beruntun ini menimpaku tanpa henti, semenjak berganti nama dengan maksud menghilangkan jejak pemerkosaan terhadap Reyna, soal masalah tak hentinya menyerangkum dari berbagai penjuru, nama 'David'ini banyak pembawa ke sialan saja, apa aku harus ganti nama dan identitas lagi? agghhh... tapi tak mungkin juga harus ganti wajah!.
ku pegangi kepala yang terasa sakit saat memikirkan semuanya, kurasa semua cobaan Tuhan ini teramat berat untuk kujalani, segera kukasih semua pakaian lalu memasukkan ke dalam koper. besok aku akan pulang ke Jerman, walau sebenarnya tinggal sendiri di sini yang paling nyaman. kalau di rumah sana, aku akan terikat banyak aturan yang dibuat oleh Deddy, aku takkan bisa hidup bebas lagi. bisa jadi juga, ia akan menjodohkan ku dengan seorang wanita barat, aku tak suka wanita barat. aku lebih suka produk lokal karena sudah terjamin originalnya.
tiket pesawat sudah ku pesan lewat aplikasi, besok siang aku akan terbang ke negara kelahiran Daddy, mommy saja yang asli Indonesia. baru tujuh tahun ini saja kedua orang tuaku menetap di sana. sebelum mereka tinggal di sana, aku juga lahir di negeri merah putih ini.
mendengar berita kepulanganku besok, teman-temanku langsung berdatangan ke rumah. walau b*******, mereka tetap setia kawan.
''van, yakin kamu mau pulang ke Jerman?''tanya Andre dengan raut sedih.
''kenapa emangnya, sedih kamu karena tak ada viral buat rebutan cewek lagi?''aku menetapnya sengit, rasa sakit hati kadang masih suka muncul di permukaan apalagi saat terbayang mereka sedang goyang indah.agghh!!!
"bukan gitu, kalau kamu nggak ada, jadinya nggak seru. kumohon jangan ungkit hal itu lagi, kan aku udah minta maaf. Kiara memang wanita tak benar, syukurlah kamu nggak jadi menikahi dia."Andre menatapku dengan rasa bersalah tangan kanannya terulur kepadaku.
"Yap,, aku juga sudah menyadari semuanya. tak ada gunanya kita terus permusuhan hanya karena cewek nggak benar itu."aku terima jabat tangan temanku berambut gondrong itu.
"beberapa lama kamu bakal di sana? tanya Ferdi dengan raut sedih pula.
aku tersenyum kecut sambil mengusap dagu, lalu menjawab"sampai suasana aman saja,habis itu aku akan kembali ke Indonesia lagi kok.
dari arah depan, terdengar suara deru mobil, aku langsung beranjak dari sofa dan mengintip ke arah jendela. aku rada parno, takut polisi yang ke sini. ternyata itu Deni, temanku yang kini sudah jadi pengacara itu. dia kini datang dengan seragam advokatnya, mungkin dia baru kembali dari persidangan, segera kubuka pintu untuknya.
"sorry, aku baru datang, urusan dampingi klienku sidang,"jars Deni saat masuk lalu membuka jas merah +hitam ala pengacara itu.
"mereka juga baru datang kok."aku beranjak menuju lemari dan mengambil ponsel.
"jadi, mau ke mana kita sore ini, Van,, Robby mau ngajakin ke cafenya yang baru buka itu sebenarnya...."Amran menepuk pundak mobil Robby.
"Robbi jaladi buka cafe?"tanya aku sambil duduk."mau sih sebenarnya keluar, tapi dengan viralnya video memalukan itu.... aku jadi tak berani ketemu banyak orang."ku Hela nafas berat, apalagi saat membayangkan keadaanku seminggu yang lalu habis dikeroyok ibu-ibu saat dituduh sebagai sindikat penjualan gadis belia.
"kan bisa pakai atribut penyamaran, Van, Amran menatapku sekilas selalu membenarkan jaketnya.
"aku capek pakai masker sebenarnya,"aku mengusap wajah yang merasa gersang sebab aku jadi malas mandi sejak tak keluar rumah.
__ADS_1
setengah jam kemudian, aku sudah bersiap untuk pergi bersama lima temanku, aku memilih nebeng mobil Deni saja, ku lirik jam tangan di pergelangan tangan m sudah pukul 17.00 rupanya.
tak lama kemudian, kami telah tiba di cafe milik Robby, baru dua hari usia pembukaan cafe ini, hadiah dari mamanya dengan maksud agar sang putra tunggalnya itu tak sibuk lagi dengan klub setiap malam.
kami duduk di salah satu meja, halo memesan aneka minuman dingin juga cemilan, baru saja menyeruput sedikit minuman, perut ini tak dapat diajak kompromi, penyakitku datang di saat yang tidak tepat. dengan tergesa-gesa, aku mencari toilet sial!"hal itu juga yang membuatku malas kemana-mana, kalau sudah mau BAB terasa tak tertahan begitu tapi pas ke kamar mandi malah susah untuk keluarnya. dasar penyakit keparat!
entah sudah berapa lama aku berada di toilet ini, serasa mau mati saja. kering dingin membanjiri wajah hingga masker ini harus kulepas, aku meringis ngeri saat melihat ke arah closet yang sudah berwarna merah. bukannya kotoran yang keluar malah darah segar. segera kulap dengan tisu lalu memejamkan mata sejenak untuk meredakan rasa sakit ini. ku Hela nafas panjang, lalu beranjak keluar dari bilik termenung itu.
sambil mengelap keringat di dahi aku melangkah menuju meja teman-temanku yang berada di pojok kiri.
brukkk
aku malah bertabrakan dengan seseorang yang kini menetapku dengan sengit"Reyna "lirik ku dengan mata yang terluka lebar.
"bukan!"jawabku ketus dan bersiap menyiramkan segelas kopi di tangannya.
belum sempat aku menghindar wajah tampan yang dulu sangat dipuja-puja nya kini sudah disiram kopi aku menjerit kesal campur kaget juga.
mendengar teriakanku teman-temanku langsung berdatangan dan mengarumuniku. belum sempat aku menarik nafas eh,, barang pusaka malah sudah mendapat tendangan bekas dari wanita yang dulu sempat merasakan nikmatnya ini.
"sialan sekali kamu, Reyna, teman-teman, tangkap dia!"perintah kepada Andre Ferdi dan Amran.
"jangan coba-coba menyentuhku!"teriak Reyna garang dengan menunjuk wajah teman-temanku.
Robby dan Deni menghampiriku, Reyna bersiap pergi tapi Andre kini menarik tangannya. mantan pacarku itu langsung mendaratkan tamparan keras di wajah Andre juga menendang bagian sensitif itu, sama seperti yang kualami.
"heh,, Andre bersiap membalas sambil memegangi anunya tapi Deni langsung melerai keduanya dan menarik Reyna pergi.
Andre memegangi wajahnya yang merah dan berjalan terseok-seok menuju kursi, dari kejauhan. aku melihat Reyna menarik tangannya dari genggaman Deni lalu mendorong temanku itu dan mendaratkan tamparan juga di aku tak menyangka Reyna jadi seganas ini. dia juga terlihat memarahi Deni.
berapa saat kemudian, kutarik nafas panjang. lalu menyeruput habis es jeruk milikku, pertemuan dengan Reyna sungguh mengenaskan. aku tak menyangka saja kalau dia masih berada di kota ini. kupikir dia sudah pulang kampung paskah petaka malam tahun baru itu,ahh,, penampilan dia yang sangat cantik dan anggun, aku jadi kembali jatuh cinta kepadanya.
"wowww,,, melamun saja!"surga Amrul sambil menepuk pundakku.
__ADS_1
"aku nggak menyangka saja bisa bertemu Reyna,"dia makin cantik dan anggun,"aku kembali membayangkan wajahnya sambil mengusap dagu.
wajah Deni langsung berubah muram saat aku memuji mantan pacarku itu. waktu malam petaka itu, dia memang marah saat mengetahui aku menggauli Reyna dan mengepornya kepada Andre, dia menceramahi kami sepanjang lebar. tapi Robby dan Amrul malahan ikutan juga.
mantanku berputar ke malam petaka itu.
"gila kalian!"Deni menghalangi Robi dan Amrul untuk masuk ke dalam tenda yang saat itu Reyna sudah jatuh pingsan.
"den, biarin saja!"gadis sok suci dan jual mahal itu memang harus diberi pelajaran,"aku sambil mendorong tubuh Deni.
Robby dan amran langsung berebutan masuk ke dalam tenda lalu ikut menggarap Reyna, yang sudah tak sadarkan diri.
"Van, ketika kamu menggilir pacarmu sendiri!"benar-benar tak punya hati kalian! kalau Reyna sampai meninggal, bagaimana? kini kita mahasiswi jurusan hukum, tapi malah melakukan perbuatan yang melanggar hukum,"hujan Denis sambil mengusap wajahnya, terlihat sangat kesal.
"udahlah den, jangan sok bijak begitu! kalau kamu tak mau ikutan, banyak bacot deh!"ketusku.
saat kami selesai menuntaskan hasrat pun, Deni malah tak mau pergi dari tempat itu, iya malah ingin menolong Reyna.
"Denny, kamu mau kami semua masuk penjara kalau kamu menolong Reyna ? jangan bego kenapa?! aku dan teman-teman menarik Deni secara paksa lalu membawanya pulang.
lamunanku buyar saat melihat Deni bangkit dari kursinya, iya pamit pulang duluan, kenapa dia? baper amat jadi orang,aku aja santuy.
"eh, itu si preman video viral itu 'kan?"
"kayaknya dia deh...."
"cakep cakep kok suka sama sejenisnya ya!"
"ih, amit-amit ah, beli aku lihat wajahnya!"
"sama, aku juga jijik pengen muntah.
agghh...sial,, beberapa wanita kini malah mengerumuniku sambil berghibah dan ada yang sempat merekam sambil mengambil fotoku pula, segera ku pasang masker dan berlari mengejar Denny yang sudah keluar dari cafe ini. kupaksa dia untuk mengantarku sepertinya aku harus berubah wajah biar tak ada yang mengenali lagi, keberangkatanku ke Jerman besok memang tak dapat ditunda lagi, aku tak sanggup jika terus diejek di setiap tempat yang ku datang.
__ADS_1
bersambung