
Margaretha membawa pulang bayi yang baru dilahirkan kliennya itu, ya tak tega jika harus membuangnya di sembarangan tempat. lebih baik ia rawat, dan siapa tahu ketika sudah bebas nanti, Carolina mau mengambilnya.iya berharap suatu hari nanti bayi mungil itu bisa mendapatkan kasih sayang mamanya.
di tatapan lekat bayi berjenis kelamin laki-laki itu, ya mirip dengan Irfan, hidungnya mancung dan beralis tebal. iya yakin bayi malam ini akan tumbuh menjadi anak yang baik jika dididik dengan baik pula.
"akan kuberikan nama, carnavan,anaknya Carolina dan Irfan."Margarethah menganggap mantap sambil menatap bayi yang masih tertidur di pangkuannya itu setelah ia beri susu formula tadi.
Tak lama kemudian, pengacara dari karena itu telah tiba di rumahnya.
"bawa dia masuk rumah bik!"kamu suruh Marni untuk membeli segala perlengkapan untuk bayi ini,"ujar Margaretha kepada pembantunya itu.
"baik, bu. tapi kalau boleh tahu.... siapa bayi ini?"tanya bi darsih pembantu di rumah Margaretha.
"hmmm... dia bayi klien saya. kamu urus dia dengan baik, saya mau istirahat dulu."wanita 40 tahun itu melangkah masuk. dan membawa bayi laki-laki itu masuk.
******
beberapa bulan berlalu.
"kak, garisnya ada dua ini."Aurel memberikan alat tes kehamilan kepada suaminya.
Ilham langsung meraih bintang kecil itu dengan senyuman bahagia.
"cinta akan punya adik, sayang..... Ilham langsung memeluk istrinya itu dan menghujaninya dengan ciuman di pipi juga dahi.
"iya kak,pantas saja kepalaku selalu pusing tiap pagi dan udah telat seminggu juga sih,"jawab orang dengan takala bahagianya.
"mulai sekarang nggak boleh capek-capek lagi,nanti sore kita periksa ke klinik,"ujar Ilham sambil mengusap perut Aurel dan kemudian menggendong ke tempat tidur.
"kak, apaan sih?"rengek Aurel terkejut.
"biar nggak capek, kakak gendong aja,"jawab Ilham sambil mendudukkan istrinya itu ke tempat tidur.
"hmm.... Jadi, bakalan digendong ke mana-mana ini?"Aurel menangin tawas sambil menatap suaminya.
"iya, tapi hari ini aja. besok-besok nggak lagi."Ilham tertawa sambil mengajak gemes rambut istrinya.
"ISS.... kak kusut nanti, Aurel merengut sambil membenarkan rambutnya yang acak-acakan itu.
"tetap cantik kok."Ilham kembali mengacak rambut istrinya.
"kak, ko rese gitu sih?!"Aurel menghindar dari suaminya itu.
"yayaya...Bun...Bun...."terdengar teriakan dari depan pintu kamar lalu derap melangkah kaki kecil yang mendekat.
"cinta, sini nak!"Ilham melambai tangan pada bocah berusia 1,5 tahun yang kini sudah bisa berjalan dan sedang belajar berbicara itu.
cinta tak saduna mempercepat langkahnya.
"jangan lari, Citra!"Aurel turun dari tempat tidur dan merentangkan tangan kepada Putri sulungnya itu.
cinta berlari dan memeluk sang bunda.
"duh.... Putri bunda, kok keringatan gini, habis main apaan sama bik Imah?"Aurel meraih putrinya itu ke dalam pelukan dan menundukkan di atas tempat tidur.
"em.... Ain Eka...."cinta menjawab Dengan bahasanya tapi ia sudah bisa diajak bicara walau bahasanya belum bisa dimengerti.
"cinta,bentar lagi.... kamu akan menjadi kakak loh.... di perut bunbun ada dedek bayinya loh...."Ilham meraih cinta dan mendudukkannya di atas perutnya.
"dede.....ahaha...."oke cinta sambil menatap sang ayah yang begitu bahagia.
Aurel bangkit dari tempat tidur dan hendak turun.
"mau ke mana ke rumah sayang?"Ilham menarik tangan istrinya hingga tak jadi beranjak dari tempat tidur.
"mau masak, bikin sarapan, kak."Aurel menoloti suaminya karena ia kembali terduduk dan tak jadi untuk beranjak karena tangannya yang ditarik.
"tumben rajin? emang mau masak apa?"Ilham menautkan alisnya karena istrinya tidak pandai masa karena sudah terbiasa dilayani pembantu.
"hmm.... nggak usah ngeremehin gitu, kak, aku bisa masak kok masak."Aurel mengerutkan bibirnya.
__ADS_1
"masak apa? tanya Ilham dengan tatapan meledek.
"masak air,kak."Aurel segera menarik tangannya lalu turun dari tempat tidur."weekk!!!! dia menjulurkan lidah lalu membalikkan badan menuju pintu kamar.
Ilham tersenyum dan kembali fokus kepada cinta.hari libur begini akan ia gunakan bermain seharian bersama putrinya itu juga sang istri.kebahagiaannya sekarang sungguh membuatnya tak henti untuk bersyukur kepada yang maha kuasa atas nikmat yang tak terhingga ini kepada keluarga kecilnya.
*****
"kak, bangun!"Aurel mengguncang bagus suaminya sedang tertidur.
"hmm..... ada apa dek? Ilham membuka sedikit matanya.
"lapar kak......"ujar Aurel sambil mengusap perutnya yang kini sedang masuk usia 6 bulan.
"ayo kakak temenin ke dapur, sayang. emangnya jam berapabsih sekarang?"Ilham segera bangkit dari bantalnya dan mengecek matanya. Ilham menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan ke arah 01.15.
"ternyata sudah dini hari."iya bergumam sambil menurunkan kaki ke lantai.
"kak.... Aurel merenguk.
"iya sayang,ayo kakak gendong ke dapur!"Ilham meraih tangan istrinya itu.
"makanannya yang kuinginkan nggak ada di dapur."Aurel mengusap perut dengan kepala yang terus membayangkan sesuatu yang segar-segar juga pedas.
"kamu pengen makan apa, sayang? tanya Ilham dengan berusaha mengusir rasa kantuknya.
"rujak,kak....."jawab Aurel dengan menelan ludah.
Ilham menghalangi nafas berat, setelah menyadari hal yang diidamkan istrinya itu sulit untuk dipenuhi.
"bunda besok saja, yah, sayang. udah tengah malam, ada tukang rujak lagi."Ilham mamaluk istrinya yang terlihat cemberut.
"ya udah...."Aurel merengut jelas ia kecewa.
"tidur lagi yuk!"mengejar Ilham sambil mengusap pundak istrinya.
Ilham mengusap wajahnya, waktu hamilin cinta, Aurel memang tak pernah mengidam macam-macam, bahkan mual muntah juga nggak ada. akan tetapi kehamilan yang kedua ini saja yang luar biasa ngidamnya.
"kakak bikinin aja rujaknya, ayo ke dapur!"hujan Ilham sambil meraih tangan istrinya.
"emang bahan-bahannya ada?"terus... kakak bisa? aku mau rujak yang ada kacangnya loh...."jawab Aurel dengan wajah yang langsung berbinar-binar.
"bisa, nah, bahan-bahannya kita cari yang ada di dapur aja,"jawab Ilham sambil merayu tubuh istrinya dan menggendongnya menuju pintu.
"hmmm..... aku mau buah-buahannya itu... ada mangga, nanas, pepaya kedondong belimbing, bengkoang dan timun,"udah order sambil melingkarkan lengannya di leher sama suami.
"jangan yang lengkap gitulah dek, ala kadarnya saja,"Ilham menelan ludah undangan perkataan sang istri.
"terus.... apa aja dong buah-buahannya? masa cuman timun doang?"Aurel kembali merengut.
Ilham tertawa, sebab sayuran yang sudah pasti ada di kulkas, palingan hanya timun.
"mangga harus ada, kak, aku lagi pengen makan yang masang-masam...."ujar Aurel lagi.
"hmm.... Mangga yah,...."Ilham memutar otaknya, menelusuri pohon mangga yang mana yang ada buahnya dan dahinya langsung berkerut jika membayangkan akan memanjat pohon mangga tengah malam begini.
"kak, turunin, udah sampai di dapur ini...."ujar Aurel.
"eh iya sayang,.... kamu duduk di sini dulu, kakak mau bongkar isi kulkas bik Imah. mudah-mudahan saja, semua bahan yang kita perluin ada di sana."Ilham menurunkan Aurel di dekat meja makan, lalu menarikan kursi untuknya.
Aurel sepeda duduk dan menatap suami yang kini sudah mengobrak kau bergizi kulkas persediaan bahan makanan yang biasanya tahan tiga hari atau lebih itu.
"gimana, kak?"tanya Aurel Tak sabar.
"pada timun dan bengkoang saja dek,"Ilham membawa dua sayuran itu dan memasukkan ke dalam piring."oh ya, apel juga ada ini. kacang tanah juga ada, gula merah dan cabek juga. untuk bumbunya udah oke,"sambung Ilham sambil meletakkan semua bahan yang sudah disebutkan tadi.
"terus mangganya?"tanya Aurel dengan sedikit kecewa.
"kita cari di depan rumah, kali saja ada pohon mangga di depan rumah yang berbuah dan bisa dicolong,"jawab Ilham dengan mata yang sudah gelar dan tak mengantuk lagi.
__ADS_1
"mau nyolong mangga tetangga kak?"Aurel menahan tawa.
"habisnya mau nyari ke mana, sayang? mana ada toko buah yang buka tengah malam begini."Ilham menggandeng tangan istrinya keluar dari dapur.
"terus... kakak mau nyolong mangga siapa ini?"tanya Aurel lagi.
"itu tugas kamu, ayo pikirkan dan analisis....rumah tetangga kita yang mana yang ada pohon mangganya tapi yang pohonnya rendah dan bisa dijangkau tanpa harus dipanjat,"mengejar Ilham.
Aurel mengerutkan dahinya, iya mulai mengingat-ingat rumah tetangga yang ada pohon mangganya.
"ada sih, kak, itu di rumah pak RT tapi rumahnya ada pagar tinggi gitu dan ada anjing penjaganya pula. kayaknya cuman pohon mangga dia aja yang sedang berbuah dan pohonnya juga rendah,"ngajar Aurel sambil mengikuti Ilham yang sudah melangkah menuju pintu samping dan membukanya agar tak ada yang tahu kalau mereka sedang mengendap-ngendap di rumah sendiri karena tak ingin seisi rumah terbangun.
"ya udah, kamu tunggu di teras, dek kakak mau nyoba ke depan,"mencari Ilham sambil melangkah menuju teras, karena rumah pak RT yang dimaksud berada di depan rumahnya.
Aurel duduk di kursi teras dengan berharap harap cemas dan berdoa agar suaminya itu mendapatkan apa yang ia inginkan.air liurnya seakan mau menetes saja jika mengingat nikmatnya mangga muda yang dicocol sambal kacang.
Ilham melangkah mendekat dan dapat melihat pohon mangga cangkokan di depan rumah pak RT, tapi ada juga pagar dengan ujungnya runcing runcing serta ada kandang anjingnya di dekat pohon itu.
"ya Tuhan hamba tak bermaksud mencuri, besok pagi bakalan menghapus salah kok.semua cuman demi adiknya cinta yang lagi pengen dikasih mangga tengah malam begini."Ilham membatin sambil memanjat pagar tinggi rumah pak RT.
dengan jantung yang berdebar-debar,Ilham menuruni pada tinggi itu lalu mengendap-endap di pekarangan rumah pak RT lalu memetik dua buah mangga dan menggigit tangkainya,secepat kilat, iya langsung naik ke atas pagar kembali untuk segera pergi dari sana, namun naas, sebelah sandalnya malah terjatuh dan mengenai anjing penjaga yang sedang tertidur.
"gukkk....gukkk... gukkk...."pancing berwarna coklat itu langsung menyalak hanya saat itu sedang berada di atas pagar.
Sontak,Ilham jadi kelabakan hingga akhirnya melompat turun dan tergesa-gesa hingga celana piyamanya tersangkut di ujung pagar dan sobek.
"brek"
Ilham melompat turunan segera berlari ke jalanan untuk menyeberang ke rumahnya, lalu masuk ke dalam pagar dan menguncinya, dengan nafas yang ngos-ngosan, iya menghampiri Aurel yang menunggunya dengan cemas di depan teras.
"ayo dek masuk!"Ilham menggandeng istrinya masuk
"mana mangganya sini aku yang bawa,"Aurel meraih dua buah mangga di tangan Ilham.
Ilham memberikan mangga itu lalu mengelap keringatnya yang berkecucuran,lebaran di jantungnya kini malah terpacu cepat karena gonggongan anjing yang membuat misinya sedikit berantakan.
"nggak sampai digigit anjingnya pak RT"kan kan?"tanya Aurel saat mereka sudah tiba di dapur.
"enggak sih, cuman sendal kakak jatuh di sana dan celana juga sobek. barang bukti tertinggal di sana, bersiap-siap saja suamimu ini akan diseret ke kantor polisi karena menggondol mangga tetangga,"hujan Ilham sampai siap menggoreng kacang tanah.
"hahaha... nggak mungkin sampai dilaporin polisi, besok pagi anjingnya kita songkok tulang dulu,"timpal Aurel sambil tertawa, sembari mengupas mangga hasil jarahan suaminya itu.
"hmmm... jangan tertawa saja, semua ini tak gratis, barangnya nanti kalau udah di kamar nanti,"Ilham melirik istrinya.
"yaelah, udah manjat pagar, lari-larian dikejar anjing dan bakal ngulek rujak pula.... emang masih jago buat nganu....."Aurel tersenyum jail ke arah suaminya.
"hahaha... siap-siap saja, 10 ronde, gas Queen sampai pagi...."Ilham menahan tawakalna tak berani tertawa keras-keras sebab nanti dikira setan gentayangan yang sedang mengacak-ngacak isi dapur pula.
Aurel menjulurkan lidahnya sambil mengupas semua buah-buahan dan memotongnya kecil-kecil, Ilham langsung menyiapkan ulukan dan memasukkan kacang yang sudah ia goreng tadi, ya mulai mengulek sambil memasukkan berbagai bumbu.
"yakin enak nggak nih kak?"rasanya harus mirip sama rujak di taman kota ya..."ujar Aurel sambil menatap sang suami.
"hmm.... dijamin akan 7 kali lipat lebih enak...."Ilham berkata dengan sangat yakin sebab ia sudah pernah bertanya resep rujak dengan maman rujak di taman kota saat Aurel juga ngidam rujak siang-siang saat kehamilannya baru masuk dua bulan tempo hari.
Aurel menunggu dengan Tak sabar,hingga akhirnya tiba juga saatnya mencicipi sambal kacang hasil ulekan suaminya itu.
"aku cobain ya kak! Aurel mulai mencocol sepotong mangga ke dalam sambal kacang.
Ilham menanti tanggapan dari istrinya itu, iya berharap hasil jerih payahnya ini tak mengecewakan.
"mantap kak, udah bisa ini kalau mau nyaingin gerobak bang rujak di taman kota sana."Aurel mengajukan jempolnya.
Ilham tersenyum lebar, apalagi saat mengamati sang istri yang begitu senang atas rujak kreasinya.
"besok malam boleh lagi, kak siapkan tenaga untuk menolong mangga pakai RT lagi,"Aurel cekikikan sambil terus menikmati rujak buatan suaminya itu.
Sedangkan Ilham, menatap kelabahan istrinya saat ini sudah membuatnya senang, walau besok ada masalah yang menantinya siapa pak RT lumayan pelit dan galak, habiskanlah dia,kalau pria tanpa berambut itu sampai melaporkan ke polisi atas hilangnya mangga dua biji itu
Bersambung
__ADS_1