
pukul 09.00 aku sudah berada di pengadilan untuk menghadiri sidang pertama dari klien pak Nandar, pak Nandar datang bersama pria yang memang tak asing.hmm.... benar, dia Revan alias David, pria terkutuk yang telah merenggut kesucianku. dia yang dulu pernah amat kucintai tapi kini begitu kubenci sehingga ke urat nadi. Untung saja, aku menggunakan masker dan kacamata, jadi dia tak kan mengenaliku.
hakim sudah mengetuk palu sebanyak tiga kali tanda persidangan akan segera dimulai. kejaksa penuntut umum mulai membacakan tuntutannya untuk sang terdakwa. wanita yang bernama Kiara itu juga hadir di sini, mantan pacar Revan ini cantik dan modis, tapi sayang.... dia malah diselingkuhi, entah dengan siapa aku tak tahu juga. dugaanku pasti dengan Andre, sebab Dia memang duplikate Revan dan hanya dia saja yang bisa mengalahkan kegantengannya pria mesum itu. kasihan kamu, Van. karma kini mulai mengejarmu, Kamu takkan pernah menemui kebahagiaan, kusumpahi kamu akan terus dikejar kesialan sehingga ajal menjemputmu nanti. doa orang yang teraniaya itu akan mudah terkabulkan, camkan itu Revan.
tanpa terasa, sidang pertama ini telah selesai dan akan dilanjutkan pada sidang kedua yang akan dilangsungkan dua pekan lagi, kutatap sinis pria bertubuh tinggi yang kini sedang melangkah bersama pak Nanda, gayanya masih terlalu tebar pesona walau kini sudah terancam menjadi narapidana.
seharusnya, Revan itu sudah masuk sel tapi karena uangnya yang banyak, iya bisa menjadi tahanan luar dan hanya dikenakan wajib lapor, analisaku, Dia takkan bisa memenangkan kasus ini. apalagi pada sidang kedua nanti, jaksa penuntut umum akan menghadirkan para saksi yang sudah jelas akan semakin memberatkan tuntutannya.
ku Hela nafas panjang, lalu menang melangkah keluar dari ruangan sidang dengan pikiran masih tertuju kepada pemecahan kasus ini.
brugggg
agghhh... aku menabrak seseorang berkas yang kubawa berjatuhan dan orang itu langsung dengan sikap membantu memungutnya.
"maaf..."ucapnya sambil bangkit dan memberikan berkasku, sial! dia Deni, segera kuterima berkas itu dengan kasar kemudian berlalu dari hadapan. aku tak suka bertemu dengannya tapi profesi kami yang sama membuatku seringkali bertemu dengannya, sekali-sekali-kali aku ingin menghajarnya hingga banyak sehingga ia takkan berani lagi memandang wajahku.
"Reyna... tunggu ! aku mau bicara sebentar."dia mengejarku dan kini malah berdiri di hadapanku.
mau apa lagi pria sok bodoh itu? aku muat melihat tampang bego sok poros ini! apa dia minta dihajar ke anunya juga, sepertinya 4 temannya ? aku menatap sinis.
"mau apa lagi denial?"tanya aku malas dengan memutar bola mata jengah.
"bisakah kita bicara tak di tempat ini?"tanyanya dengan nada lagu dan menatapku takut.
__ADS_1
"tidak bisa!"jawabku ketus kemudian berlalu dari hadapan.
kupercepat langkah agar dia takkan berani mengajarku, coba saja kalau berani menghalangi langkahku lagi, akan ku tendang ke organ tak berguna itu!cih, aku jijik melihat tampang pecundang seperti dia. sok polos, sok lugu, sok alim padahal bajunya juga. dia itu penuh topeng kepalsuan, dengan wajah putih pucat seperti mayat. aku semakin membencimu Deni!.
aku masuk ke ruanganku, lalu duduk. kutarik nafas panjang, kemudian memutuskan pikiran agar bisa tenang. sehabis bertemu Deni, menjadi kacau, aroma dendam bisa menghancurkan mood ku untuk bekerja.
Ayolah, Reyna, kamu harus profesional! utamakan karir dan keberhasilanmu dulu, sesudah itu baru balas dendam. waktumu masih panjang, jangan membuang kesuksesan karir karena membalas yang belum seberapa, terbangkan dulu b******* itu, setelah itu baru hempaskan, mengalah untuk menang, sebab kartu AS masih di tangan, video yang akan membuat Revan viral, masih kamu kantongi. aku mencoba mensugesti diri, agar pikiran ini tak tercampur antara dendam dan profesionalisme dalam pekerjaan. dari sidang yang barusan digelar tadi, aku harus membuat laporan singkat juga analisanya, oke,, lupakan sejenak masalah dendam, utamakan kesuksesan karirku yang baru saja akan dimulai ini.
*****
hari terus berlalu, persidangan demi persidangan semakin memanas saja, apalagi para saksi yang berupa teman-teman Revan juga sudah dihadirkan. pak Nandar sang pengacara Revan terlihat kewalahan, jalan satu-satunya hanya dengan cara damai saja jika bajunya itu mau bebas namun sayangnya, wanita cantik itu sudah terlanjur dendam dengan sang mantan pacar.
malam ini, jam di pergelangan tanganku sudah menunjuk ke arah 21.30, aku keluar dari warung makan dan melangkah menuju rumah kost yang akan ditempuh sekitar 10 menit jika berjalan kaki. karena aku mau mampir di warung dulu, maka ku gelengkan kepala kepada tukang ojek yang menawarkan jasa. jalanan sudah sepi, apalagi daerah kost ku itu memang jauh dari kepadatan penduduk, sebab rumah masih.
jantung ini berdegup kencang saat melihat adegan mesum di dalam mobil itu dan pelakunya adalah Kiara dan pengacaranya. takkan kulewatkan kesempatan ini, segera ku keluarkan ponsel dan bermaksud merekam adegan itu, gila dua-duanya tak punya otak, mesum di jalan begini, seperti tidak mampu menyewa hotel saja! dasar, karena keduanya sedang dikuasa nafsu, sampai tak sadar kalau ada kamera ponsel yang merekam Nya.
*****
aku kembali ke kamar kost dengan senyum yang mengembang, video mesum mantan pacar Revan itu sudah ku kantongi, ini akan kujadikan senjata untuk membuatnya menjadi tuntutannya kepada klien pak Nandar, besok akan ku koordinasikan dengan pembimbing advokatku itu.
sesuai aku rencanakan, siang ini aku sudah membuat janji untuk ketemu dengan pak Nandar, kami bertemu di sebuah restoran karena sambil makan siang.
"bagaimana, Reyna ? apa solusimu untuk kasus klienku David ini?"bertanya sambil menggeserkan gelas jus jeruknya.
__ADS_1
"hmm... begini, pak, solusi saya... kita harus mengajukan damai saja sebab semua saksi sudah jelas memberatkan klien bapak. dia tetap akan dihukum 5 tahun,jadi,, sebelum keputusan hakim keluar, Tiara harus mau berdamai saja dan mencabut runtutannya,"ujarku.
"Reyna, kalau jalan damai bisa dilakukan, semuanya takkan bisa sampai sejauh ini. damai sudah tak mungkin."pak Nandar menghela nafas panjang sambil membenarkan data kecamatannya.
"bagaimana kalau sekarang, pak Nandar buat janji dengan Kiara dan pengacaranya untuk bertemu siang ini? kita coba sekali lagi jalur damai dan saya yang akan ikut berbicara, sebagai asisten pak Nandar."aku berkata dengan mantap.
"baiklah, kalau kamu nanti berhasil meyakinkan mereka untuk berdamai, maka kamu akan segera mendapatkan sertifikat lulus dengan nilai terbaik juga rekomendasi untuk bekerja sebagai partner saya."kata pak Nandar tersenyum sambil mengeluarkan ponselnya.
aku mengangguk dan mendengarkan dia berbicara lewat telepon dengan pengacara dari Tiara, semoga semuanya lancar. video ini bisa membuat wanita murahan itu mencabut tuntutannya, aku sangat yakin akan hal ini.
satu jam kemudian, pasangan mesum yang kulihat kemarin malam itu kini sudah berada di hadapan kami. dia dan pengacara Kiara itu yang kutahu sudah memiliki dua istri dan tiga anak, tapi masih saja kurang untuk mencari kepuasan dengan wanita lain, apa dia selalu menggauli klien wanitanya? aku menatap sengit keduanya.
"begini pak Bayu Santoso, untuk terakhir kalinya... kami ingin memohon untuk berdamai saja sebab saya rasa kasus ini bisa kita selesaikan dengan cara baik-baik."pak Nandar mulai berbicara.
Tiara menatap sengit kami lalu melirik sang pengacara Berjas biru dengan postur tubuh tak tinggi begitu, kok aku heran ya, wanita secantik dia, kok mau-maunya digarap sama kardus kulkas itu? aku membalas tatapan sengitnya, sambil mengeluarkan ponsel dan membuka video mesum mereka dan mengulurkan kepada mereka keduanya.
Dia terlihat acuh dan sok higienis untuk menyentuh ponselku, namun langsung meraihnya dengan cepat saat melihat ada dirinya di dalam video itu. kini wajah keduanya memucat jangan keringat dingin membanjari membanjiri dahi mereka berdua.
"saya selaku advokat bimbingan pak Nandar, hanya mengingatkan nona Kiara mencabut tuntutan dan menerima perdamaian dari kami, video itu takkan tersebar dan akan dihapus jika kasus ini segera ditutup dan klien pak nandardi bersihkan nama baiknya."kuraih ponselku dari tangan Kiara dengan senyum yang kubuat semanis mungkin.
"baiklah, kasus ini takkan di perpanjang, hari ini juga perselisihan Klien saya dan klien pak Nandar akan menuai damai tapi awas saja kalau video itu sampai tersebar luas, pengacara Kiara berbicara dengan wajah merah padam dan bangkit dari kursinya, Tiara mengejar dari belakang.
pak Nandar terlihat mengerutkan dahi, iya pasti bingung akan semua ini sebab ia tak tahu rencanaku, yang penting kliennya akan terbebaskan dari tuntutan hukum lima tahun penjara.
__ADS_1
bersambung