Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 51 Carolina series 2


__ADS_3

"pak rujaknya dua dan agak pedas.


Carolina yang berdiri di dekat gerobak Abang rujak mendengar suara yang ia kenal, tapi ia tak berniat untuk menoleh ke arah pria tinggi di sampingnya.


"iya mas, tunggu sebentar, Mbak yang ini duluan."jawab Abang rujak ramah.


"oke."pria berkulit sawo matang itu mengacuhkan jempol sambil menoleh ke arah mobilnya, di mana ada anak dan istrinya di sana.


"papa, kata Mama..... rujaknya jangan pedas ya!"teriak seorang anak dari dalam mobil.


"iya tenang saja."pria itu menjawab sambil menoleh ke arah dua anaknya itu, yang satu berusia 5 tahun, sedangkan yang satunya berusia 10 tahun.


Carolina tetap fokus kepada ulekan rujak, walau sebenarnya ia semakin penasaran akan sosok pria di sampingnya, iya sangat yakin, itu suara Irfan, mantan kekasihnya. iya tak mau Irfan melihatnya, selain muak, iya juga malu dengan keadaannya sekarang yang terlihat kucil dan jelek, iya selalu menggunakan topi dan masker jika keluar rumah, dengan tujuan agar tak ada yang mengenalinya.


"ini,mbak."rujak pesanan Carolina sudah jadi, si Abang rujak memberikannya dengan tangannya bungkusan itu.


setelah membayar, Carolina segera berlalu, tanpa mau menoleh ke arah pria di sampingnya, akan tetapi, iya tak lantas pergi, tapi menatap dari arah motornya yang terpaket di belakang mobil sang pria.


"hah... Margaret.... Jadi... dia sama Irfan...ah...ini... tidak mungkin. "Carolina menganga saat melihat Margaretha ikut turun dari mobil dengan kedua anak laki-laki bersamanya.


nafas Carolina terasa sesak melihat kemesraan mantan pengacaranya itu dengan mantan kekasihnya,matanya menatap kepada anak laki-laki yang menurutnya tak mirip sama sekali dengan sang mantan pengacara, iya malahan merasa anak itu mirip dengannya.


"ya tuhan.... berat takdir macam apa ini?"Carolina membatin,ia merasa tak rela melihat kebahagiaan Irfan dan Margaretha juga anak laki-laki yang ia yakini adalah putranya, putra yang tak ingin ia anggap.


bayangan kesakitan waktu ia melahirkan di penjara pun mulai berputar di kepalanya,iya jadi tak rela melihat anak yang ia lahirkan dengan susah payah itu malah diambil Margaretha, ia tetap di tempatnya semula, sampai mobil di hadapannya berlalu.


"anakku..."Carolina berujar dengan rasa penyesalan karena tak mau mengakui anaknya itu.


"Carolina seakan tak rela melihat orang yang ia benci, yaitu Irfan,kini terlihat sangat bahagia dengan kehidupannya yang sungguh berbanding terbalik dengan kehidupannya yang rumit dan menyedihkan menurutnya, ada sedikit rasa penyesalan di hatinya karena menolak Irfan, sehingga ia terdampar ke pelukan Ricky, suaminya sekarang,yang sudah membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apa saja demi bisa tetap bersamanya, walau harus dipolegami dan dijadikan pembantu.


getaran ponsel di saku jaket Carolina membuatnya tersadar dari lamunan panjang.


"mbak car, beli rujaknya ke Hongkong apa? kok udah lewat dari 1 jam nggak kembali-kembali juga? kamu nggak berniat kabur kan?sebab aku akan melaporkan kamu sebagai pencuri karena kabur dengan membawa sepeda motor milikku.."suara Elsa langsung seperti petasan saat panggilan wa-nya diangkat Carolina.


"ini lagi di jalan!"Carolina langsung memutuskan sambungan telepon karena malas harus mendengar ucapan pedas madunya itu, yang selalu memperlakukan dengan judes.


dengan tak bersemangat dan terus terbayang kebahagiaan keluarga Irfan dan Margaretha tadi, Carolina memacu pelan sepeda motornya, iya bingung harus melakukan apa sekarang, mungkin jika dia mendatangi Irfan,mantan kekasihnya itu akan berpaling kepadanya dan meninggalkan Margaretha yang tua.otak jahatnya mulai memikirkan untuk merebut Irfan dari Margaretha lalu mengambil putranya yang pastinya tetap akan memilihnya, ibu kandungnya, daripada ibu angkat.


****"


beberapa hari berlalu, Carolina masih saja memikirkan Irfan dan Margaretha juga putranya, jika mereka bertemu lagi nanti, ia takkan menyembunyikan dirinya lagi, nggak akan menyapa Irfan dan putra mereka. Iya bertekad.


"mbak car, nggak usah masak aku akan ngajakin kalian semua makan siang di luar hari ini,"ujar Elsa siang itu.


"bagus deh, aku bisa rehat kalau begitu."Carolina meraih remote televisi lalu duduk.


"eh, rehat apanya? Mbak car juga ikut, kita semua akan pergi buruan siap-siap!"ujar Elsa dengan senyum sinis.


"eh.. tumben? ada apa ini?"Carolina melirik sang madu.


"nggak ada apa-apa, buruan siap-siap, mas ricky juga udah tahu kok, dia lagi mandi, mba car buruan siap-siap juga!"Elsa berlalu menuju kamarnya.


Carolina sedikit curiga akan kelakuan madunya ini, sebab ini sangat jarang, ya diajak turut serta jika keduanya mau jalan-jalan keluar, akan tetapi, iya yakin Ricky akan membiarkan Elsa mencelakai dirinya.


pukul 13.00, Ricky serta dua istrinya juga anak kembarnya sudah berangkat menuju restoran,ternyata Elsa mau merayakan ulang tahun pernikahan mereka sekalian bertemu agency yang menangani tentang TKW yang akan dikirim ke Hongkong dan hari kita mengetahui tentang hal itu,dia tahunya mereka akan makan siang bersama hanya untuk merayakan anniversary mereka saja.


"mba car, tolong antar Lana dan Leni ke toilet dong!"perintah Elsa kepada Carolina yang saat itu baru saja hendak menikmati makanan di hadapannya.


Carolina meletakkan kembali sendok makanannya lalu menuruti perintah madunya itu, digandengnya kedua anak kembar Elsa dan suami yang kini berusia 4 tahun itu ia menyayangi Lana dan Leni walau membenci mamanya, sebab ia ikut adil dalam merawatnya sejak baru lahir.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Carolina sudah menggandeng kedua anak kembar suaminya itu keluar dari toilet,iya lantas berjalan sambil menggandeng Lana dan Leni di tangan kanan dan kirinya.


"bruk"


Reka Mala tak sengaja menabrak dengan seseorang yang tergesa-gesa sedang menuju toilet, untuk beberapa saat, pasangan mata itu saling beradu.


"Carolina!"


"kamu!"


Irfan mengerutkan dahi dengan bibirnya yang tertarik ke samping, senyum pun terukir di bibir pria blasteran Indonesia India itu.


"hey, apa kabar?"siapa Irfan senang karena ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan mama dari karnaval, putra mereka yang kini tak pernah tahu akan hal itu.


"hmm... Baik, kamu sendiri apa kabar?"Carolina membenarkan pakaian dan rambutnya karena ia tak mau terlihat berantakan saat bertemu sang mantan.


"sama, aku juga baik-baik saja, eh,ini Putrimu car?"mereka kembar ya?"Irfan menautkan alisjah saat menyadari akan wajah dua anak perempuan yang digandeng Karlina itu kembar.


"hmm ... Iya... Mereka anak-anakku...."Carolina berusaha memasang kan senyum.


Irfan semakin melebarkan senyumannya,iya bahagia bisa melihat Carolina dan ia senang mantan kekasihnya itu sudah memiliki keluarga,ditatapnya wanita dengan penampilan sederhana itu dan tak cetak seperti dulu lagi.


tak dapat dia pungkiri perasaannya sekarang, via merindukannya walau mungkin rasa cinta sudah tidak ada lagi.


"bibik..... ayo datangi mama dan papa.... Lana dan Leni tiba-tiba sudah menarik tangan Carolina untuk mendatangi Ricky dan Elsa.


Carolina meringis dan menurut saja saat kedua anak kembar suaminya itu menariknya pergi dari hadapan Irfan, sang mantan yang sebenarnya memang ingin ia temui itu,tapi keadaannya sekarang sangat kurang tepat karena ada suami juga madu serta anak tirinya.


senyum di bibir Irfan langsung meredup saat mendengar kedua anak kembar itu malah menyebut kalau litna dengan sebutan" bibi"yang menandakan kalau mantan kekasihnya itu bukanlah ibunya, melainkan hanya seorang pembantu atau juga pengasuh Irfan membatin.


Irfan menghembuskan nafas panjang, lalu kembali ke meja anak dan istri,walau sebenarnya ia masih ingin mengobrol dengan Carolina tapi ia urungkan niatnya itu.


***


Carolina menaikkan alisnya dan meninggikan senyum saat matanya sudah menemukan meja,di mana ada Margaretha dan Irfan serta dua anak laki-laki yang salah satunya bisa ia pastikan adalah putranya.


"mau ke mana kamu car?"Ricky menarik tangan Carolina yang kini sudah bangkit dari kursi.


"aku mau ke sana sebentar mas."Carolina menarik tangan dari Ricky.


"mau ke mana Mbak car?mba car nggak boleh ke mana-mana..."Elsa menyadarkan pandangan ke pintu masuk sebab orang yang janjian datangnya tak kunjung datang juga.


"ada apa lagi Elsa?"anakmu pipis udah kucebokin, makan udah kusuapi, lalu apa lagi? bawel amat jadi orang!"status Carolina sambil beranjak meninggalkan madu dan suaminya itu.


Elsa hanya melengos kesal dan kembali melanjutkan makannya sedangkan Ricky, matanya tetap menuju pada Carolina yang terlihat mendekati meja seseorang.


"Hay.... apa kabar, Margaretha?"Carolina langsung menyapa wanita berkacamata yang sedang menikmati makanannya.


sontak, semua mata tertuju kepada Carolina, Irfan mengerutkan dahinya sambil tersenyum, sedangkan dua putra Irfan hanya saling lirik.


"eh,, Margaretha yang kaget luar biasa, mendapati Carolina di depan matanya. Sungguh, ia tak pernah berharap untuk bertemu dari mama biologis karnaval, pernah anak sambung yang amat dia sayangi yang membuat berjodoh dengan Irfan, pria yang kini menjadi suaminya dan membuat hidupnya sungguh berwarna.


"kok bengong begini? udah lama sekali kita tidak bertemu tahunnya. kalian sudah jadi keluarga bahagia ya...."carolina tersenyum kecut.


"silakan duduk car? Aku tadi juga nyariin kamu, soalnya kamu cepat banget jalannya. "Irfan menarik kursi untuk Carolina.


dengan berusaha santai, Carolina duduk di samping Irfan, dan berhadap tepat dengan Margaretha yang terlihat masih kaget.


"kenapa tampangnya gitu, ret?"kamu nggak kena serangan jantung kan ketemu aku?"Carolina tertawa sesumbar menatap sinis sang mantan pengacara.

__ADS_1


Irfan menatap sang istri dan menggenggam tangannya, Carolina yang melihat hal itu, semakin tak tenang saja.


"oh ya ini putra kalian ret? udah pada gede-gede ya? Carolina mengalihkan pandangan pada kedua anak laki-laki di sampingnya.


"iya....Anak-anak... ayo kenalan sama teman mama."Margaretha berusaha menguasai dirinya dan bersikap santai.


"hai Tante... Saya Naval... Ini Arga adik saya..."naval mengulurkan tangannya kepada Carolina.


"Hay Naval.... umur kamu berapa sekarang dan sekolah kelas berapa?"karena langsung punya feeling, kalau navaladalah putranya sebab ia pernah bertemu saat ia ke rumah Margaretha pada pertemuan terakhir mereka.


"kelas 4 SD, tante umur 10 tahun,"karnaval.


"hmm... wajah kita kok mirip ya? kamu sadar nggak sih, val?"Carolina mengalurkan ponselnya dan mengarahkannya ke depan untuk melihat tampil mereka melalui kamera depan.


Naval hanya tersenyum, dan menurut mu saja kepada teman Mamanya itu yang kini malah mengajaknya berselfie, padahal mereka baru saja kenal.


"sayang, kamu harus tenang."Irfan yang bisa membaca raut bimbang di wajah istrinya itu semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"dia kok bisa nongol tiba-tiba begini mas?"kamu ketemu di mana sama dia tadi?"tanya Margaretha telanjang.


"tadi ketemu di depan toilet, kalau kamu merasa tak nyaman kita di sini, kita segera kembali ke hotel saja."jawab Irfan pelan sambil mencium tangan istrinya yang sudah berkerut itu karena semakin termakan usia.


"hey,,, kalian bisik-bisik apa sih?duh.... Mesranya... Kamu ret... ternyata kamu malah menikah sama Irfan sumpah loh, ini surprise banget bagiku."Carolina menyimpan ponselnya dan menyudahi aksi selfinya bersama Naval.


"hmm... iya car, ini takdir Tuhan dan aku juga nggak pernah menyangka,"jawab Margaretha.


"hmm.. mumpung kita ketemu di sini, aku mau nanya putraku yang kamu urus 10 tahun yang lalu mana dia?apa...dia naval?"Carolina semakin menjadi-jadi, iya ingin Margaretha terkena serangan jantung mendadak, mengingat usianya yang kini sudah setengah abad itu.


Naval mengerutkan dahinya, tatapannya tajam ke arah sang Mama yang terlihat gelagapan, kini tatapannya tertuju ke arah sang papa yang terlihat mengusap wajah, semuanya terdiam dan murah, kecuali Carolina yang terlihat menyunggingkan senyum puas.


"sayang, ayo kembali kemeja kita!"Ricky tiba-tiba sudah berdiri di dekat Carolina dan merangkul bahu istri pertamanya itu, karena Carolina tak kunjung kembali ke Mejanya, jadi ia menyusul.


"hmm.... Mas.... aku masih mau di sini..."Carolina menurunkan tangan Ricky dari bahunya.


"ayo kembali ke meja kita!"Ricky memaksa,


"urusanku belum selesai mas, kamu ke sana saja dulu!"bantah Carolina.


"aku akan nungguin kamu di sini kalau begitu."Ricky menaruh kursi di meja sebelah dan ikutan bergabung di meja Irfan.


"mas, kamu kembali kemeja kita saja, istri muda munafi bakalan ke sini juga, sanalah!"Carolina berkata dengan kesan melihat suaminya itu malah ikutan duduk di sampingnya.


"Irfan melambaikan tangan pada waiters dan meminta bell makanan mereka, lalu segera membayarnya, ia akan membawa anak dan istrinya segera pergi dari sini, karena keadaan semakin runyam. acara makan siang mereka berantakan karena kehadiran Carolina.


"Margaretha, cepat jawab pertanyaanku!"Carolina menepis tangan Ricky dan kembali fokus pada wanita yang berkacamata itu.


"Carolina, maaf...ya.. kami harus segera kembali ke hotel, senang bisa bertemu kamu di sini,"Irfan yang sudah beranjak dari kursinya menggandeng sang istri juga dua putranya.


"hey... kalian tak bisa pergi begitu saja.... Beritahu Naval.... kalau dia adalah putraku!"Carolina menarik tangan bocah berusia 10 tahun itu, wajahnya masih terlihat bingung.


"car, kamu sudah tak punya hak bukankah.... anak kamu yang pernah kamu kandung.... sudah meninggal saat kamu lahirkan di penjara dulu? lalu kenapa kini kamu malah ingin mengetahui anakmu itu, Naval, adalah putraku bersama Margaretha, dia kakaknya Arga, putra bungsuku, lalu apalagi mau?maaf... kamu sudah selesai makan, rasanya tak etis kalau kita ribut-ribut di sini."Irfan melepas tangan Carolina dari genggamannya genggaman tangan putranya.


"kalian jangan membohongiku, Naval,"Carolina mengejar Irfan beserta anak dan istrinya yang sudah melangkah cepat menuju pintu luar.


"Carolina, apaan sih kamu? jangan bikin ulah di sini!"hari kia menutup mulut Carolina sembari menarik tangan istrinya itu untuk kembali ke meja mereka,di mana Elsa sedang berbicara dengan seorang pria bertubuh gemuk dengan wajah brewokan.


Ricky menarik sang istri pertama kemeja mereka dan mendudukkannya.


"mas, yang tadi itu putraku,"ujar Carolina lirik sambil membuang nafas kasar.

__ADS_1


Ricky hanya diam dan tak menanggapi ocehan Carolina, iya tak tahu sama sekali masa lalu dari istrinya itu dan ia juga tak peduli.


Bersambung


__ADS_2