Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku

Diceraikan Suami Dimalam Pertamaku
bab 41 bebas


__ADS_3

"cinta,aura,ayah pulang!"Ilham menghampiri kedua putrinya yang sedang bermain boneka diteras rumah.


keduanya langsung berdiri dan berebut untuk memeluk sang ayah yang baru pulang dari kantor,sedangkan aurel sedari tadi hanya memperhatikan kedua Putrinyaikutan mendekat juga lalu Salim kepada suaminya kemudian membantu membawa tas kerja Ilham.


"ayah!"rengek cinta kepada ayahnya, minta digendong seperti sang adik.


tertawa sambil berusaha meraih Putri solonya itu ke dalam gendongannya juga.ini dua putrinya itu sama-sama iya gendong dan keduanya saling bersorak kesenangan. iya menggondong keduanya masuk.


"minum dulu, kak,"Aurel membawa segelas minuman dingin untuk suaminya itu dan meletakkannya di meja ruang tengah.


"terima kasih, sayang."Ilham menurunkan kedua putrinya itu lalu duduk di sofa ruang tengah.


"capek kak, gendong dua-duanya sekaligus?"tanya Aurel sama tertawa melihat suaminya yang ngos-ngosan.


"hahaha... dua-duanya makin montok, cukup bikin ngos-ngosan juga..."Ilham meraih segelas minumannya.


"hmm..... Tak terasa... mereka sudah gede aja ya kak, cinta udah 3,5 tahun, sedangkan aura udah 1,5 tahun. cinta juga bentar lagi bakal masuk TK."Aurel tersenyum sambil menatap dua putrinya yang kini sudah duduk di depan televisi.


"iya, mereka udah gede. udah boleh ini kita nambah satu lagi, nyari yang cowok...."hujan Ilham sambil melirik dan turunkan alisnya.


"hmm..... baru gendong dua anak aja udah ngos-ngosan, gimana nanti kalau udah tiga?"Aurel mencibik.


"gampang sayang, bisa diatur itu,yang penting. kita bikin aja dulu, ayo!"Ilham tersenyum mesum.


"issh... masih aja mesum! tinggal bikin sih enak.... aku yang hamilin...... bengkak,bro. aurel melongos.


"kakak udah tanam pohon mangga di depan rumah, buat persiapan kamu ngidam mangga tengah malam lagi. Jadi.... nggak perlu nyolong tengah malam lagi."Ilham menahan tawa jika ingat masa istrinya nyidam anak kedua mereka.


"hmm.... nggak akan ngidam soalnya nggak mau hamil lagi. kakak aja yang hamil,"Aurel mengerutkan bibirnya.


Ilham mengacak rambut istrinya itu dengan gemas mendengar perkataannya.


"tadi Mama dan papa telepon, katanya masih lanjut jalan-jalannya dan belum tahu kapan bakal pulang,"ujar Aurel sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.


"oh ya? jangan ngiri pengen jalan-jalan berdua juga...."Ilham melirik sang istri.


"ceileh... lirih rupanya, kakak itu udah nggak bisa ke mana-mana lagi. bocil diurusin, aku mau rebahan dulu.... Capek."Aurel segera bangkit dari sofa.


Ilham hendak meraih tangan istrinya, tapi Aurel sudah melangkah cepat menuju kamar mereka.iya tersenyum lalu menghampiri kedua putrinya dan kemudian menemani keduanya bermain.


****


aris yang sudah setahun bebas dari penjara memilih mengasingkan diri ke luar negeri.vonis hukuman 4 tahun hanya ia jalani selama 1 tahun 7 bulan karena ia mendapat remisi dan asimilasi, itu juga sudah dipotong masa tahanan ketika masa penyelidikan dulu.


satu tahun ia habiskan dengan mengurung diri sepanjang hari di apartemennya, iya tak mau berhubungan dengan siapapun. Iya juga trauma terhadap wanita dan membenci makhluk Tuhan yang paling indah itu.


malam ini, harus merasa bosan juga dan ingin menikmati malamnya di new York city ini,sesekali ia ingin juga menikmati dunia malam di kota yang tak pernah tidur karena kehidupan malam di kota ini sama aktifnya dengan kehidupan siang hari. iya turun dari taksi dan masuk ke salah satu klub malam.


setelah memesan satu gelas minuman, Aris mulai menikmati seseorang diri. diiringi musik DJ memenuhi seisi clap,beberapa seorang wanita menghampirinya dan mengajaknya turun ke lantai dansa tapi ia menolak. iya terus meneguk minuman yang semakin membuatnya ketagihan itu.


sejak tadi,dua orang pria sedang mengamati Aris dan mereka sangat tertarik akan tumbuh atletis juga wajah tampannya. keduanya mengira mereka satu pasies karena harus menolak beberapa wanita yang tadi mencoba menggodanya.

__ADS_1


"ayo, kita dekatin dia,"ujar pria yang bernama Lukas,"dia begitu tampan aku langsung jatuh cinta deh,"jawab mark.


kedua pria tak normal itu duduk di dekat Aris dan memesan minuman pula, sambil curi-curi pandang, menunggu sang mantan dokter kandungan itu teler dan lengah.


setelah kepalanya terasa berat, Aris segera bangkit dan membayar bill minumannya. iya segera berjalanan sempoyongan menuju pintu keluar, marks dan Lukas langsung mengejarnya.


"hey,mau pulang ke mana?"sapa Lucas sok akrab.


harus tak memperdulikan sapaan dua pria berkebangsaan Amerika itu, iya berusaha menyetopkan sebuah taksi tapi tak ada yang berhenti, tiba-tiba,sebuah mobil dikendarai dua pria gay itu berhenti di depan Aris dan ia langsung saja naik karena mengira itu taksi.


setelah menyebut alamat apartemennya,harus menyandarkan punggungnya ke jok belakang dan mulai tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol yang banyak ia minum tadi.


Lucas dan Mark saling lirik dan membawa Aris ke hotel terdekat. Tak lama kemudian, keduanya sudah memapah dulu pria permata sipit itu memasuki sebuah kamar hotel lalu membaringkannya di tempat tidur.


Lucas yang sudah lama menyukai sesama jenis,Tak tahan lagi saat melihat tubuh atletis dan lengan kulit putih bersih yang terbaring di tempat tidur.


"oh my God,,, bibirnya sexy...."desis lucu sambil menyentuh bibir Aris.


"dia bukan orang di sini deh, kayaknya dia orang Korea deh...."ujar mark sambil mendekat.


"patah saja wajahnya imut gini, jadi nggak sabar pengen unyil-unyil."Lucas mendekat kan wajahnya ke Aris.


Paris yang mendengar suara dua orang yang sedang berbicara segera membuka matanya yang masih terasa berat itu.


"kalian siapa?!"harus segera bangkit dan menatap kedua makhluk tak normal itu.


"hai ganteng kenalin.... aku Lucas.... sambil mesem mesum, menatap Aris dengan bola mata yang berbinar-binar.


sikapnya sekarang sungguh berbeda jauh dengan tubuhnya yang kekar itu. dia mengelurkan tangan kepada Aris namun mendapat tepisan sengis.


"sikap mars."Lucas segera membuka pakaian Aris dan menatapnya dengan penuh nafsu.


mark mereka sambil membuka pakaiannya dan segera naik ke atas tempat tidur. kedua makhluk dengan perilaku menyimpang itu mulai mengerjai mantan dokter kandungan yang sekaligus merangkap sebagai mantan narapidana.


garis yang merasa sedang digagahi membuka matanya dan berusaha untuk memberontak tapi dengan keadaan setengah teler begitu ia tak bisa melawan, apalagi dua lawannya itu bertubuh kekar.


"hey... apa yang kalian lakukan kepadaku?"tanya Aris saat menyadari dirinya sedang diperdaya oleh dua pria kelainan itu, iya berusaha menendang sang pria bule tapi tenaganya tak cukup kuat, iya malah tak bisa.


"jangan melawan, sayang.kita akan bersenang-senang hingga pagi.uugghh....."mark dan Lucas semakin melancarkan aksinya.


****


cahaya matahari yang menembus tirai jandela memantul ke wajah aris yang kini terkapar tanpa sehelai benang pun itu. dia telah dilecehkan oleh dua pria asing itu. dengan memegangi kepalanya yang sakit, iya bangkit.mark dan Lucas terlihat masih tertidur setelah mengasaknya semalaman.


"kurang ajar, beraninya mereka memperlakukan aku seperti ini."harus membatin sambil meraih pakaiannya dan memasangnya dengan terburu-buru.


dengan langkah pelan-pelan, harus melangkah keluar walau organ vital depan dan belakangnya terasa sakit karena ulah dua pria aneh itu. iya bergegas berlari menuju lift dan menekan tombol lantai satu. iya bingung akan nasibnya sekarang, andai ia melaporkan dua pria aneh itu, mungkin kasusnya ini akan ditangani tapi ia asing di sini, bisa-bisa dirinya marah semakin terancam. untuk keamanan dirinya, ia memilih bungkam dan berusaha melupakan kejadian selam semalam.


harus kembali mengurung dirinya di apartemennya walau setiap malam ia selalu bermimpi buruk atas kejadian memalukan itu, kadang saat terbang di tengah malam, ia akan langsung mandi dan mencuci tubuh yang menurutnya kotor itu.


Aris semakin depresi, pikirannya selalu dipenuhi pelecehan itu. iya tak bisa hidup tenang setelah kejadian itu, kini tak hanya membenci wanita. iya juga dendam kepada makhluk penyuka sesama jenis itu.

__ADS_1


"aku tak bisa seperti ini terus, aku benci diriku yang kotor ini. aku benci diriku...."Aris memeluk lututnya.


selama berbulan-bulan, ia meracau sebagai orang gila,mengurung diri dan terus berbicara sendirian hingga akhirnya ia memutuskan untuk berevolusi.


"dokter, ubah aku menjadi wanita. aku benci diriku yang sekarang, aku mau hidup menjadi orang baru,"ujar Aris ke pada dokter ahli bedah plastik di kota itu.


"hmmm...."dokter mengangguk sambil mencatat di bukunya.


"aku ingin berubah identitas, ubah semua yang ada pada diriku,"ujar Aris lagi, iya berkata dengan mantap dan sudah memikirkan berbulan-bulan.


Sang dokter mengangguk dan menyanggupi semua permintaan Aris.


******


dua tahun berjalan begitu cepat. hari ini Carolina resmi dibebaskan setelah perjuangan Margaretha di depan meja pengadilan dan bolak-balik mengajukan banding. ibu dari anak laki-laki bernama carnaval itu hanya menjalani masa hukuman selama 5 tahun saja karena mendapatkan remisi, sedangkan Irfan, iya memilih untuk menunggu ibu dan anaknya yang menurut cerita Carolina sudah tiada itu,dia menginginkan mereka bisa bebas secara bersama-sama agar wanitanya itu percaya akan keseriusannya untuk membina rumah tangga setelah ini.


kini keduanya dibebaskan di hari yang sama, dan kini sama-sama sudah berdiri di depan pintu gerbang penjara.


"Carolina, akhirnya kita bebas juga,"Irfan menghampiri Carolina yang masih tak berubah,tubuhnya kembali langsing ketika bayi yang ia kandung dahulu sudah lahir. hanya rambutnya saja yang semakin panjang,juga kulitnya yang semakin putih bersih karena jarang terkena sinar matahari karena kegiatan bersih-bersih di halaman ketika dipenjara dulu hanya diadakan setiap seminggu sekali dan itupun ia lebih banyak menyogok petugas agar bisa diperlakukan istimewa.


"anggap saja kita tidak pernah kenal!"selamat tinggal,!rujak Carolina sambil menepis tangan Irfan yang hendak memeluknya.


"car"jangan pergi dulu! aku ingin melamarmu hari ini juga, aku ingin kita bisa memulai kehidupan yang baru. aku mohon menikahlah denganku!"Irfan menarik tangan Carolina dan berlutut di hadapannya.


memberi isyarat kepada pengacaranya untuk memberikan cincin berlian yang ia pesan sudah dari jauh-jauh hari, sebab ia sudah merencanakan ini sejak dari jauh hari.iya juga rela menambah setahun masa hukumannya demi bisa bebas bersama-sama dengan Carolina agar wanita yang pernah mengandung anaknya itu percaya akan kesungguhan hatinya.


"Carolina.... kita buka lembaran baru mulai hari ini, aku ingin kita membina rumah tangga seperti pasangan normal lainnya...."Irfan membuka kotak cincin berlian permata simbol huruf c dan i, menatap wanita itu di hadapannya dengan penuh harap.


"aku tak mau berurusan lagi denganmu, bodoh! aku tak berminat dengan tawaranmu, dasar norak!"Carolina menarik tangannya dengan kasar mendorong tubuh kekar Irfan hingga pria berkulit gelap itu terjungkal ke belakang.


dengan cepat, rolina segera masuk ke mobil milik Margaretha dan meminta sang sopir untuk segera tancap gas.


menghela nafas berat dan segera bangkit, iya sangat kecewa akan perlakuan Carolina kepadanya. tanya yang sudah ia bayangkan dan diharapkan, tak terlaksana sesuai mimpinya. Carolina masih saja menolaknya.


"sabar fan, lupakan dia! masih ada wanita lain yang jauh lebih baik dari dia, ayo ku antar pulang!"udah sang pengacara sambil menepuk pundak ke layarnya itu.


"anakku yang ia kandung katanya meninggal saat ia melahirkan, ya sudah aku tak masalah karena mungkin itu sudah takdir, tapi kini di saat ini ingin serius.... dan memulai hubungan kami dari awal..... iya malah menolakku..."Irfan mengepalkan tangannya dengan kesal, wajahnya muram. sangat kecewa dan terpukul.


"sudahlah, mungkin kalian memang tak ditakdirkan untuk berjodoh, kalau kamu ingin memulai kehidupanmu baru, mulailah dengan memperbaiki dirimu.... tinggalkan keburukan dahulu, berubahlah untuk menjadi yang terbaik, dekatkan diri dengan yang maha kuasa dan bertobat. jangan ulangi kesalahan yang sama!"ujar sang pengacara.


dengan menghembuskan nafas berat, Ivan mengangguk dan melangkah menuju mobil sang pengacara, iya butuh waktu untuk merenungi semuanya, sebab rasa kecewa akan penolakan Carolina sungguh membuat hatinya sangat terluka.


berpenduduk samping sang pengacara sambil mengusap wajahnya, iya baru ingat akan apartemennya yang sudah dijual, jadi gini ia tak punya rumah lagi.


"antar aku ke hotel saja, besok kamu Carikan aku rumah kontrakan! kalau bisa.... carikan di perumahan pawan indah,"ujar Irfan kemudian, setelah berdiam diri beberapa saat.


"hmm... kenapa harus di perumahan pawang indah?"tanya sang pengacara.


"kalau bisa,,,, bertetanggaan dengan rumah bernomor b.13!"ujar Irfan lagi yang membuat dahi pengacara semakin berkerut.


"hhmm.... rumah siapa itu? jangan kembali membuat ulah, Irfan? apa dipenjara 5 tahun tak membuatmu jerah?"sang pengacara menatap tajam kuliahnya itu.

__ADS_1


"aku nggak akan membuat ulah, aku hanya ingin bisa melihat putri sulungkuk di sana, walau aku tak bisa memilikinya, setidaknya aku bisa melihatnya setiap hari. kamu tenang saja, setelah hari ini... aku akan menjadi orang baik,"Irfan menepuk pundak pengacaranya itu, iya tahu kekhawatiran ahli hukumnya itu memang beralasan karena tak ingin dirinya kembali khilaf dan melakukan hal yang nekat.


Bersambung.........


__ADS_2