
"siapa nama putra mu itu, mar?"tanya Irfan saat mereka sudah duduk di teras rumah Margaretha, sambil menepuk segelas minuman dingin.
karnaval yang kini berdiri di belakang Margaretha hanya berani mengintip pria yang sudah ia buat berdarah lutut, siku dan dahinya itu. iya takut dimarahi karena sadar akan kesalahannya,bocah laki-laki yang baru berumur 4 tahun itu lumayan cerdas dan sudah memahami mana yang benar dan mana yang salah.
"namanya car,bik bawa car masuk!"jawab Margaretha sambil melambaikan tangan kepada pembantunya.
carnaval langsung berlari masuk dan Irfan memperhatikannya hingga masuk ke dalam. Margaretha semakin cemas saat melihat raut wajah Irfan, padahal mantan dokter kandungan itu memang menyukai anak kecil.
"atas nama putra saya, saya minta maaf sama kamu fan,dia masih kecil dan selalu penasaran untuk bisa bermain sepeda di jalan karena selama ini saya hanya memperbolehkan dia bermain sepeda di halaman saja."Margaretha berusaha bersikap santai.
"iya,, saya maafkan, namanya juga anak kecil. saya menyukai dia, lain kali saya boleh ke sini untuk bermain dengannya?"Irfan tersenyum.
"hmm....Margaretha mulai tak senang akan tingkah Irfan yang terlihat sok kenal dan sok dekat ini, padahal mereka hanya sekedar kenal dan tak pernah mengobrol dekat.
"saya suka sama anak kecil dan kamu pasti tahu cerita saya sama Carolina, ngomong-ngomong di mana dia sekarang?"Irfan tersenyum kecut saat teringat mantan kekasihnya itu.
"terakhir ketemu.... dia pamit liburan ke Bali dan setelah itu tak tahu lagi kabarnya,"jawab Margaretha sekenannya.
"oh ya, carna putramu itu umurnya berapa?"kapan kamu hamilnya?"pertanyaan Irfan mulai membuat Margaretha panas dingin.
"hmm.. Maaf pan, lain kali lagi saja kita ngobrolnya... saya ada mau pergi.... ada janji ketemu klien..."Margaretha bangkit dari kursi teras dan melihat jam di pergelangan tangannya.
"oke saya pulang,, lain kali saya akan mampir lagi, Irfan tersenyum kepada wanita berusia 40 tahun itu lalu Melangkah dengan tersorak Soekarno lututnya terasa sakit karena efek jatuh tadi.
bukan segera menghampiri motornya dan kemudian berlalu dari perkarangan rumah mantan pengacara dari Carolina itu, di kepalanya, iya masih saja terkenang ekspresi carnal, putra dari Margaretha, iya langsung menyukai anak laki-laki itu. apalagi wajahnya mirip dengan cinta, iya membatik sepanjang jalan.
*****
Maya alias Clara alias Aris membuka mata perlahan,tangannya memegang benda kecil yang biasa digunakan para wanita mengecek kehamilan. matanya langsung melotot kaget saat melihat ada dua garis merah pada tespek itu.
"tidak!!!! kita jadi-jadian dengan rambut panjang pinggung itu menjerit historis....
"brakk"
Maya terjatuh dari tempat tidur lalu segera bangun dan mengedarkan pinggangnya ke sekeliling.
"syukur cuman hanya mimpi ternyata...."kumannya lega sambil memegangi dadanya lalu kembali naik ke atas tempat tidur.
"sialan sekali, pak Karno itu.... Gara-gara dia... agghhh.... Maya menggigit bantal di tangannya dengan gemas.
"aku nggak mungkin hamil!"dia kembali berguman sendiri sambil memegangi perutnya.
Maya melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjuk ke arah pukul 04.55.
"udah Subuh ternyata, ya sudah aku bangun deh.... aku mau meremas juga risih.... tapi mimpi hamil lagi amit-amit dah....hoekk...."Maya marenggok dan tiba-tiba ia langsung menutup mulut karena mualnya.
Maya segera berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah layaknya wanita yang sedang hamil.
"aduh.... kok jadi mual gini sih.... hiikkk..."Maya menghembuskan nafas kesal sambil mengelap bibir seksinya.
setelah semua makanan di perutnya terkuras habis, barulah ia merasa sedikit lega. dengan sempoyongan, Maya melangkah menuju tempat tidur lalu kembali berbaring dan menarik selimut.
hingga pukul 06.30.. Maya hanya berbaring saja, kepalanya terasa berat dan tak bisa bangun,bik Ijah,mengatup pintu kamarnya karena Aurel sudah mengomel sebab pengasuh dari putrinya itu tak kunjung keluar dari kamar.
dengan langkah yang tersoek-soek, Maya membuka pintu kamar dan mendapati Ijah di hadapannya.
__ADS_1
"Maya kamu sakit?"kok pucat gini?"Ijah berjinjit untuk bisa menyentuh dahi si Maya sebab tingginya hanya sebatas bahu dari Clara alias Aris itu.
"iya mbak, kepalaku sakit banget Dan perutku juga mual. aku udah bangun dari pukul 05.00 tadi, tapi nggak jadi keluar kamar karena sakit begini..."Maya berbicara dengan nada manja sambil merebahkan kembali dirinya ke tempat tidur.
"oh gitu, aku bilangin nyonya deh, biar dia tahu kalau kamu itu sakit."Ijah terlihat cemas."dipanggilin dokter mau nggak mau,? Oh ya, tetangga sebelah rumah kita... mantan dokter loh..., apa mau dipanggilin dia aja..."sambungnya sambil menggaruk dahi, iya memang suka panik kalau ada orang yang sakit.
"Irfan itu dokter kandungan Mbak...."Maya menutup mulutnya yang kecoplosan.
"eh masa? Kok tahu? udah saling tanya-tanya ya?ciee...ijah menahan tawa.
Tiba-tiba, Aurel berdiri di depan pintu kamar mayat yang tak tertutup rapat itu.
"loh kok malah ngobrol sih, ijah? bukannya saya nyuruh kamu buat manggil Maya? Aurel menatap keduanya.
"eh,, ibu ini... Maya sakit Bu,... jawab ijah cepat sebelum majikannya itu semakin mengamuk.
"oh ya, sakit apa?"tanya Aurel sambil melangkah masuk ke kamar Maya.
"hoek... hoek..."Maya menutup mulutnya dengan cepat karena perutnya kembali terasa mual.
"hamil kamu Maya?"Aurel menatap tajam wanita dengan kodrat pria itu.
Maya menggeleng cepat.
"jangan bohong kamu, ini tanda-tanda wanita yang sedang hamil mual-mual karena hamil?"Aurel berkata dengan nada ketus.
Maya kembali menggeleng, wajahnya semakin mengucap saja. ingatannya kembali ke malam pertamanya dengan Aurel dulu, di mana ia menuduh mantan istrinya itu sedang hamil dan kini kata-kata itu malah terbalik kepadanya.
"kayaknya cuman masuk angin Bu, si mayah soalnya kemarin dia makan mangga muda dan nggak makan nasi lagi."Icha mencoba membela teman se profesinya itu.
"hmm..... semoga saja beneran cuman masuk angin, kalau kamu sampai hamil di luar nikah, maka kamu saya pecat Maya!"fajar Aurel dengan nada pedas sambil mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Maya.
"ya udah, aku keluar dulu dan nanti ke sini lagi. kamu istirahat saja dulu,"Icha segera berlari keluar, mengikuti sang majikan.
karena Maya tak bisa melakukan tugasnya hari ini, jadi Ilham yang akan mengantar cinta ke sekolahnya. Ijah segera mengemasi dapur, lalu membersihkan rumah, iya cemas akan keadaan Maya,jadi ia akan membereskan pekerjaannya dengan cepat dan setelah itu baru bisa menemani Maya dan menolongnya mencarikan obat.
*****
"ya kamu sakit?"sebuah suara membuat Maya segera membuka matanya.
"aagghh.... ngapain kamu masuk ke kamarku?"bukit Maya kesal saat melihat pak karno sudah berdiri di dekat tempat tidur.
"maaf.... saya hanya mengantarkan obat untuk kamu, kamu cepat sembuh, saya akan."pak karno meletakkan kantong plastik berisi obat di dekat Maya lalu melangkah cepat menuju pintu.
dengan menghembuskan nafas kesal, Maya alias Clara duduk lalu meraih kantong obat dari pak Karno, ada banyak obat di dalamnya, ada obat demam, obat maag, obat muntah juga tespek.
"hahaha..."Maya melongo saat melihat benda kecil di dalam mimpinya itu kini ada di tangannya.
"nggak mungkin.... aku nggak mungkin hamil!"Maya menggeleng tapi turun juga dari tempat tidur, lalu mengunci pintu kamar.
saya segera melangkah menuju kamar mandi dan ingin mengeteskan alat kecil itu,iya sedikit foto saran walau hal itu mustahil sebab dia pria dan tak mempunyai rahim, pak karno yang juga mainnya lewat belakang karena dia memang sudah tak memiliki kelamin lagi,walau dokter kepercayaannya itu belum berhasil membuatkannya kelamin sama persis dengan milik wanita umumnya.
tapi sudah menumpang urinnya di dalam gelas lalu mencelupkan tes kehamilan itu dengan jantung yang berdebar kencang. seperti hal ia lakukan di dalam mimpi, kini ia juga memejamkan matanya.
beberapa saat kemudianMaya sudah membuka matanya untuk melihat tes dari tespek di tangannya dan ia langsung menarik nafas sekali lega saat melihat garis satu yang akhirnya negatif, senyumnya senang langsung melengkung di bibir seksi yang ia lega.
__ADS_1
****
beberapa hari terlalu, walau Maya legah akan hasil tesnya yang negatif, tapi sakit muntah-muntah dan tak nafsu akan masih saja ada, hingga hari ini ia izin untuk memeriksa dirinya ke rumah sakit, dan Aurel pun memberikan izin.
setelah mengantri di loket pendaftaran, Maya pun masuk ke dalam ruangan poli umum, iya langsung mengutarakan sakitnya.
"hmm... saya rujuk ke poli kandungan saja, ya?"ujar sang dokter.
"eh... Jangan Bu dok, saya nggak hamil, Maya merengut dan celingukanuntuk membersihkan jatah dirinya yang sebenarnya kepada sang dokter.
"loh... gejala-gejala yang kamu sebutkan itu persis gejala wanita hamil."sang dokter menatap Maya.
"dokter, saya wanita transgender, jadi nggak mungkin hamil,"bisik Maya,"mungkin saya cuman sakit maag aja, sombongnya.
sang dokter langsung melotot tak percaya menatap wanita cantik di hadapannya yang ternyata bukanlah wanita tulen.
"ya tuhan, jadi gitu, kamu ini cantik banget dan saya juga nggak tahu kalau kamu itu...."sang dokter terlihat menahan tawa melihat pasien di hadapannya meletakkan jari telunjuk di bibir, ya sudah, saya kasih rujukan ke poli penyakit dalam saja biar dirontgen,"sampun dokter wanita itu.
Maya mengangguk dan menerima surat rujukan itu lalu membawamu ke polip penyakit dalam. setelah sampai di sana, ayah langsung menjalani berbagai tes, mulai dari Rontgen dan CT-scan.
apa jam berlalu,kini tiba saatnya Maya mendengarkan hasil pemeriksaan yang lumayan menyita waktu itu padahal ia menduga dirinya hanya sakit asam lambung tapi kini ia menjadi berdebar-debar,
''Mbak Clara, apa cuman sendiri berobatnya?"tanya sang dokter berbasa-basi karena melihat terlalu tegang dari wajah pasiennya itu.
"hmm.... Iya dok, saya cuman datang sendiri saja, gimana dokter saya sakit apa?"tanya Maya Tak sabar.
"sebenarnya.... saya ingin bicara langsung sama keluargamu soalnya kamu mengidap penyakit yang serius,tapi kini baru diagnosa awal dan kita bisa melakukan tes sekali lagi biar lebih akurat,"ujar sang dokter.
"katakan saja, dok, saya sakit apa?"tanya Maya sambil menikah buliran kering di dahinya.
"hmm... Anda mengidap kanker lambung.... tapi ini baru diagnosa awal saja, nanti akan saya tes sekali lagi, kamu jangan panik dulu, ini baru stadion 1 dan masih bisa diobati,"ujar sang dokter itu lagi.
Maya tergugu, kenyataan ini sungguh membuat hidupnya runtuh. sebagai mantan dokter, iya tahu sepak terjang sel kanker lambung ini walau ia bukanlah spesialis bedah.
"Mbak clara, sekarang saya kasih obat dulu. besok atau lusa, Mbak bisa datang lagi ke sini. saya akan melakukan tes lebih detail lagi. Mbak Clara tenangkan diri dulu, sebenarnya.... ini agak aneh, sebab kanker lambung ini biasanya menyerang laki-laki, hmmm.... mungkin ada kesalahan."sang dokter menulis resep obat mual muntah, pusing dan obat tambah darah serta vitamin.
Maya alias Clara alias yuta hanya mengangguk pasrah, selalu menerima resep obat itu dan kemudian menembusnya di apotek.
Maya naik ke dalam taksi dengan pikiran yang tak menentu, iya yakin diagnosa dokter itu benar sebagai gejala yang dialaminya seminggu ini memang gejala kanker lambung.
bayangan-bayangan semua dosa dan kesalahannya, dahulu mulai menghiasi kepalanya. iya jadi bingung kalau sudah sakit begini, iya mau ke mana,orang tuanya juga tahu nya dia sudah meninggal walau ia tak tahu lagi kabar keduanya kini, ingin rasanya ya bulan dan berobat lalu kembali kodratnya sebagai laki-laki,tapi semuanya sudah tak mungkin karena semuanya yang ada pada dirinya ini sudah tak dapat diubah lagi.
"ya Tuhan, kalau aku mati gimana? aku bakalan diproses sebagai pria atau wanita, ya?"dia membatin sambil memegangi kepalanya yang sedari tadi ia sudah pusing.
setelah satu jam hanya muter-muter di jalanan saja, akhirnya Maya memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya.
"Ting....tong...."
bel rumah iya Bu mika dan tak lama berselang pintu rumah kelahirannya itu telah terbuka.
"mau cari siapa, mbak?"tanya sang asisten rumah tangga.
"hmm... saya mau cari...."
"siapa, neng?"
__ADS_1
"belum selesai perkataan Clara alias Aris, Mamanya sudah berdiri di hadapannya dan kini menatapnya dengan alis yang bertaut jadi satu,
Bersambung....