
Sedangkan yang ada di rumah, Anaya terus merengek seperti minta belas kasih. Anaya masih terus berjongkok sambil memegangi perutnya, berharap akan ada pertolongan untuknya.
"Tolong dong buka pintunya, perut aku sakit, woi!"
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Berkali-kali Anaya menggedor pintunya dan berharap pintunya akan dibuka, juga mendapat perhatian dari salah seorang untuk membuka pintunya.
"Woi! buka pintunya, perut aku sakit, tolong buka pintunya." Teriak Anaya yang tengah menggedor pintu kamar.
Yusan yang tengah mengawasi Anaya lewat CCTV, sama sekali dilarang membuka bagian kamar, karena hanya bos lah yang bisa melihatnya, tidak untuk anak buahnya.
Yusan yang mendengar Anaya terus berteriak sambil menggedor pintunya, pun merasa berisik dan langsung menuju kamar yang ditempatinya.
"Woi! ada yang dengar gak sih, tolong buka pintunya Woi! perut aku sakit." Teriak Anaya dibalik pintu yang dikunci.
__ADS_1
Yusan yang teringat pesan dari Arsen untuk tidak membuka pintu meski dengan segala rengekan, tetap aja ada rasa kasihan ketika mendengar Anaya terus meminta tolong.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Anaya kembali menggedor pintunya, dan berharap akan ada yang membukakannya. Tetap saja, Anaya sama sekali tidak mendapatkan respon dari siapapun.
Yusan yang tidak tahan dengan teriakan Anaya dan masih terus menggedor pintunya, tidak ada jalan lain selain membuka pintu dan melihat kondisi di dalam kamar.
"Kamu ini tidak tu_li, 'kan? perut aku tuh sakit, tau. Buka kek pintunya, kasihan kek apa kek tekek kek, Lu laki-laki tapi tega aniaya kaum perempuan. Kalau sampai aku mati di dalam kamar, kek mana? ha!"
"Timbun dengan tanah, beres 'kan?"
Albert yang baru aja pulang, pun langsung menyahut omelan dari Anaya kepada Yusan.
__ADS_1
Seketika, Anaya melotot ketika melihat Albert sudah ada di hadapannya.
"Aku tahu, kamu hanya bersandiwara saja. Perut kamu tidak lah sakit, hanya ingin membuat masalah di rumah ini. Sekarang juga, bantu aku untuk mengurus luka di kaki dan di tanganku ini. Buat kamu Yusan, ambilkan kotak obatnya, sekalian alat perban, dan alk_ohol serta alat yang dibutuhkan." Ucap Albert dan langsung memberi perintah kepada Yusan.
Anaya memang sengaja membuat gaduh di dalam rumah, harus menyimpan kekesalannya ketika ketahuan jika dirinya berpura-pura sakit dan bisa keluar dari kamar, pikirnya.
Namun sayangnya, apa yang sudah dilakukannya telah gagal karena Albert sudah pulang. Tentu saja, Anaya seperti kehilangan ide dan akhirnya nurut dengan perintah dari Albert. Mau tidak mau, Anaya diminta untuk mengurus luka yang ada di kaki dan tangannya.
'Kenapa ini orang jalannya kek gitu? terus, ada darah juga. Itu lengannya di bagian atas juga seperti ada luka, kenapa dia? apa habis kecelakaan? seharusnya juga ditangani oleh pihak kesehatan, dokter kek, gitu. Terus, itu kaki juga ada darahnya, sama kek tangan yang juga diikat kain.' Batin Anaya sambil berjalan sambil memperhatikan Albert yang tengah berjalan tidak seperti orang jalan pada umumnya.
Saat Albert sudah duduk di ruang tengah, Anaya ikut duduk di sebelahnya. Sedangkan Yusan yang baru saja mengambilkan kotak obat dan yang dibutuhkan oleh bosnya, diletakkannya di hadapan Anaya.
"Sekarang juga, cepat kau bersihkan luka yang ada di tanganku, dan juga kakiku. Cepat!"
"Tat-tapi aku," Anaya menjawabnya dengan gugup, dan menggelengkan kepalanya karena ada rasa takut ketika melihat luka yang begitu ngeri karena melihat darah segar.
Albert sendiri langsung meraih tengkuk lehernya, dan mencengkram dengan sangat kuat.
"Tidak ada penolakan apapun darimu. Cepat! kau obati luka yang ada di tanganku ini, apakah kau mendengarnya? jangan sampai kau mengundang amarahku, paham."
__ADS_1
Anaya yang tengah menahan sakit di bagian tengkuk lehernya karena ulah dari Albert, ia tidak bisa melakukan penolakan apapun darinya. Mau tidak mau, Anaya harus patuh dengannya, dan juga tidak diizinkannya untuk menolaknya.