Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Rasa penasaran dan ingin tahu


__ADS_3

Waktu pun telah berlalu, hari berganti hari. Anaya yang tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk menolak pernikahannya bersama Albert, dirinya sama sekali tidak bisa berkutik.


Rasa sedih pun datang tanpa ia inginkan. Rasa rindu dan kenangan pahit bersama orang tuanya tengah mengingatkan kembali dengan masa kecilnya dulu saat dirinya masih sekolah dasar.


Namun, ingatannya kembali kepada ibu tirinya. Kemana perginya, pun Anaya sama sekali tidak mengetahuinya. Penasaran dan rasa ingin tahu, telah menguasai pikirannya.


Saat itu juga, ingatannya Anaya tertuju pada saat dirinya datang ke rumah orang tuanya Albert.


'Mungkinkah lelaki tua itu dan lelaki yang bernama Aaric itu adalah orang yang sudah membu_nuh ayahku?' batin Anaya sambil mengingatnya kembali.


Rasa curiga yang menguasai pikirannya, Anaya ingin rasanya menyelidiki lelaki yang menjadi tebakannya. Anaya memejamkan kedua matanya untuk mengingat kembali dengan masa lalunya dulu.


'Bekas luka di bagian lehernya. Iya! aku ada yang ingat, lelaki yang sudah memb_unuh ayah ada luka goresan di lehernya. Aku harus menyelidikinya. Juga, aku harus mencari tahu sosok Aaric itu. Dulu pemuda itu ada luka di punggungnya. Siapa tahu saja aku menemukan kebenarannya.' Batinnya lagi yang tiba-tiba teringat akan jejak di masa lalunya.


"Ada apa, Nona? kenapa Nona terlihat sedih? hari ini adalah hari pernikahannya Nona bersama Tuan Albert. Hari bahagia yang dinantikan oleh calon sepasang pengantin."


Tiba-tiba Anaya dikagetkan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mbak. Saya hanya kangen sama kedua orang tua saya." Jawab Anaya.


"Maaf, Nona, jika pertanyaan dari telah menyinggung perasaannya Nona."


"Tidak apa-apa, Mbak. Lanjutkan saja tugasnya, maafkan saya yang sudah membuat Mbaknya terganggu." Jawab Anaya merasa tidak enak hati saat di make-up.


Begitu juga dengan Albert, kini tengah sibuk bersiap-siap dengan penampilannya.


"Tuan terlihat sangat tampan, Nona pasti akan terpesona melihatnya." Ucap Arsen memuji penampilan bosnya.


"Ngomong apa kamu, Sen? mendingan kamu awasi di depan pintu masuk untuk para tamu undangan. Ingat, tidak ada yang diizinkan untuk membawa tas ataupun yang lainnya, untuk tamu perempuan ataupun tamu laki-laki. Awasi dengan ketat. Aku tidak ingin terjadi sesuatu di acara pernikahan ku."


"Bagus. Aku percayakan semuanya sama kamu hingga acara pernikahanku selesai. Baiklah, aku tugaskan kamu untuk bertanggungjawab." Ucap Albert yang mempercayakan kepada Arsen, orang kepercayaan.


Sedangkan Anaya yang baru saja selesai, ia tengah dibantu berjalan hingga berada di sebuah ruangan yang dikhususkan untuk bertemu Albert sebelum pengucapan kalimat sakral.


"Apakah kamu sudah siap menikah denganku?" tanya Albert kepada Anaya.

__ADS_1


"Aku sudah siap untuk menjadi istrimu." Jawab Anaya dengan jelas.


"Ya udah, ayo kita berangkat. Acaranya sebentar lagi dimulai. Kita tidak mempunyai waktu lama, dan secepatnya kita segera sampai." Ucap Albert dan langsung mengajak Anaya untuk berangkat.


Selama perjalanan menuju tempat acara pengucapan kalimat sakral, Anaya dan Albert sama-sama diam dan tidak ada yang membuka suara hingga sampai ditempat tujuan.


Ketika sampai, kemudian setelah itu, mereka berdua segera keluar dan masuk, juga diikuti ibunya dan yang lainnya. Sedangkan ayahnya sendiri telah memberi kabar bahwa akan datang sedikit terlambat bersama Aaric, putra kesayangannya.


Acara segera dimulai, Anaya maupun Albert tengah menyiapkan diri masing-masing. Setelah tidak ada lagi yang dipikirkan, Albert mulai mendapat pengarahan hingga pengucapan kalimat sakral lolos begitu saja atas janji-janji pernikahan.


Kini, Anaya dan Albert telah sah menjadi suami istri. Ibunya tidak lupa untuk memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin.


"Selamat ya, Nak. Semoga kalian berdua bahagia dengan pernikahan ini, dan bisa menerima kekurangan maupun kelebihan masing-masing. Bahagia selalu untuk kalian. Maafkan Mama yang tidak mempunyai kado terindah untuk kalian, doalah yang Mama punya." Ucap ibunya memberi ucapan selamat kepada anak dan menantunya.


"Terima kasih, Ma. Doa dari Mama saja sudah lebih dari cukup. Terima kasih atas doa tulus dari Mama." Jawab Albert, dan dilanjut oleh Anaya yang langsung memeluk ibu mertuanya.


"Terima kasih banyak ya, Ma. Anaya akan menjadi istri yang baik untuk suami Anaya." Sambung Anaya ketika suaminya berhenti bicara.

__ADS_1


Ibunya Albert tersenyum bahagia, juga menangis bercampur aduk rasanya. Bagaimana tidak menangis, pengucapan kalimat sakral saja, ayahnya memilih untuk datang terlambat daripada harus datang tepat waktu, pikir ibunya Albert.


__ADS_2