
Ketika sudah duduk di ruang makan, Anaya kembali melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya, sampai-sampai tidak juga mengambil makanan yang ada di meja.
Albert yang mendapati sikap aneh pada Anaya, pun bertanya-tanya.
"Mau makan atau melamun?"
Anaya yang tengah disenggol oleh Albert lewat sikunya, langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh iya, maaf." Jawab Anaya yang langsung membenarkan posisi duduknya.
"Nak Anaya, kamu tidak perlu malu. Bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi istrinya Albert? jangan sungkan sungkan, Nak."
Anaya pun tersenyum malu kepada ibunya Albert, yakni untuk menutupi kegugupannya.
"I-i-iya, Bu. Maaf, saya masih malu." Jawab Anaya berterus terang, meski dengan gugup.
"Jangan malu-malu, sebentar lagi kalian akan segera menikah. Jadi, anggap saja jika kita ini sudah menjadi keluarga." Ucap ayahnya Albert, yakni Tuan Adhiwan Baldomero.
Anaya berusaha untuk tersenyum, meski senyumnya terasa berat karena rasa takutnya yang lebih besar daripada gugupnya.
"Aaric, kamu sudah pulang, Nak? sini, kita makan malam bersama. Ibu ada tamu kakak kamu, juga calon kakak ipar kamu."
Lelaki yang usianya jarak beberapa tahun dengan Albert, tengah di panggil ibunya layaknya putranya sendiri. Bahkan, begitu halus bicaranya.
Aaric yang merasa namanya dipanggil oleh ibu tirinya, segera menemui. Saat sudah berada di ruang makan, justru pandangannya tertuju ke arah Anaya. Begitu juga dengan Anaya, pun langsung mendongak dan arah pandangannya mengarah ke Aaric.
__ADS_1
"Kak-kak-kamu."
Anaya pun terkejut saat melihat lelaki yang tengah berdiri di sebelah Albert. Detak jantungnya kini berubah tidak karuan, Anaya mengepal kuat tangan kirinya tepat di bawah meja. Sedangkan tangan kanannya mengepal kuat di atas meja.
"Kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Albert dan menatap satu persatu secara bergantian.
Anaya yang pikirannya entah kemana, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Eh! enggak, enggak kenal. Cuma mirip saja, serius." Jawab Anaya beralasan.
"Cuma mirip, kamu bilang?" tanya Albert yang langsung menaruh curiga kepada Anaya.
"I-iya, mirip dengan teman aku. Tanya aja sama saudara kamu, dia pasti tidak mengenali aku." Jawab Anaya yang langsung mencari alasan.
"Yang dikatakan calon istrinya Kakak itu benar, aku sama sekali tidak kenal. Jangankan untuk kenal, tau aja baru sekarang. Salam kenal calon kakak ipar, aku Aaric, saudara Kak Albert. Kami satu ayah beda ibu, saya anak dari istri kedua." Ucap Aaric yang langsung memperkenalkan diri kepada Anaya.
"Anaya, salam kenal balik." Jawab Anaya yang juga memperkenalkan dirinya ke saudara tirinya Albert.
"Sudah, jangan dibahas lagi. Mungkin Anaya masih canggung untuk berinteraksi dengan kita. Jadi, wajar saja jika dia ini gugup, takut, dan juga salah tingkah." Ucap ibunya Albert menengahi, agar putranya tidak memperpanjang masalah, pikirnya.
"Benar, Al. Yang dikatakan Mama kamu itu benar, jangan berprasangka buruk kepada Anaya, calon istri kamu. Mungkin Anaya gugup, wajar saja kalau tidak konsentrasi. Buktinya saja tadi saat bertemu Papa saja seperti ketakutan." Timpal sang ayah ikut bicara, agar putranya tidak menaruh curiga kepada Anaya.
"Semoga saja." Ucap Albert mencoba untuk percaya dengan ayah dan ibunya.
Namun, tetap saja rasa penasarannya lebih besar.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu kita makan malam dulu, nanti ngobrolnya dilanjut lagi." Ajak ibunya Albert untuk menghindari perdebatan.
Anaya yang pikirannya masih belum juga tenang, mencoba untuk menepisnya. Lain lagi dengan Albert, sambil mengunyah makanan, ia sambil berpikir. Bagi Albert itu, kalau menyimpan rasa penasaran, secepatnya untuk di cari tahu kebenarannya. Mau salah atau tidaknya, yang terpenting tidak ada kebohongan atau rekayasa apapun.
Saat tengah menikmati makan malam, tidak ada satupun yang membuka suara, semua hening dan dengan makanannya masing-masing.
Anaya yang tengah mengunyah makanan, terasa berat untuk menelan. Rasa enak yang menggugah selera, tiba-tiba terasa hambar dan membuatnya tidak berselera makan.
Albert yang melihat Anaya hanya mengaduk makanan yang ada di piringnya, ingin rasanya menyuapi dan memasukkan makanannya ke dalam mulutnya karena rasa geram padanya.
Saat itu juga, Albert menyenggol Anaya agar tersadar dari lamunannya. Anaya langsung menoleh ke samping, Albert langsung menatapnya dengan tajam.
"I-iya, aku makan."
Anaya yang tidak ingin Albert marah besar terhadap dirinya, langsung makan. Sedangkan kedua orang tuanya Albert sudah pindah dari ruang makan, juga dengan Aaric. Kini, tinggallah Anaya dan Albert yang masih duduk di ruang makan.
Rasa kesal yang tengah menguasai otaknya Albert, ia langsung mengambil satu suapan di piringnya Anaya, dan mengunyah hingga lembut.
Kemudian, Albert kembali melakukan hal yang sama, yakni menarik tengkuk lehernya Anaya dan menempelkan mulutnya tepat ke bibi_rnya Anaya dan memaksakannya untuk membuka mulutnya. Lagi-lagi Anaya tidak bisa berbuat apa-apa, dan akhirnya menelan makanan yang diberikan oleh Albert lewat mulutnya.
Jijik, itu sudah pasti yang tengah dirasakan oleh Anaya. Bahkan, rasanya mual dan ingin muntah ketika mendapat perlakuan kasar dari Albert.
"Jangan membuat tensiku naik, paham! kamu."
Albert menatapnya dengan sangat tajam, Anaya terdiam. Kemudian, ia segera menghabiskan makanannya.
__ADS_1