
Malam semakin terasa dingin dan juga sudah lewat larut malam, Albert segera bergegas kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Sambil menahan rasa sakit di bagian kakinya dan juga tangannya, pelan-pelan naik ke atas tempat tidur. Rasa sakit, capek, dan juga kantuk, Albert memejamkan kedua matanya hingga terlelap dari tidurnya hingga mentari pagi menyambutnya dengan hangat.
Berbeda dengan Anaya yang rupanya belum bangun dari tidurnya, yakni masih tidur dengan pulas. Sedangkan Albert yang sudah bangkit dari posisinya, ia segera ke kamar mandi untuk melakukan ritualnya.
Anaya yang tersadar dari tidurnya, dirinya langsung teringat akan tugas yang diberikan oleh Albert. Dengan buru-buru, Anaya segera mencuci muka dan ritual lainnya. Setelah itu, ia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Namun, dirinya kembali teringat, yakni untuk membereskan kamar tidur dan menyiapkan kebutuhan mandi. Juga, sarapan paginya.
"Bagaimana ini, kalau sampai aku kena marah lagi, pasti aku akan mendapatkan hukuman." Gumam Anaya dengan gusar dan juga takut.
Karena tidak ingin mendapatkan masalah, Anaya memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi terlebih dulu. Setidaknya sudah melakukan tugasnya, pikir Anaya yang sudah tidak punya cara lain.
Saat baru saja keluar dari kamar, rupanya Albert lebih dulu yang sudah keluar dari kamarnya. Saat berhenti di anak tangga yang terakhir, rupanya Albert tengah melihat Anaya yang baru saja keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Anaya yang seperti tertangkap basah, hanya mampu menundukkan pandangannya, dan sama sekali tidak berani menatap Albert yang terlihat seperti hendak menerkam dirinya.
"Jam segini kamu baru bangun? apakah bangun kesiangan itu sudah menjadi kebiasaan mu, Anaya?"
Albert langsung melempar sebuah pertanyaan kepada Anaya yang sudah berhenti dengan jarak yang tidak begitu jauh.
Anaya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Tuan. Maaf, jika saya terlambat untuk bangun." Jawab Anaya yang masih belum berani untuk mendongak.
Saat jarak diantara keduanya begitu dekat, Albert mengangkat dagunya dan menatapnya dengan tajam.
"Cepat! kau beresin kamar tidurku, awas saja kalau sampai kerjaan kamu tidak becus. Setelah itu, kamu bantu aku mandi. Kalau tugasmu sudah selesai, buatkan sarapan pagi untukku." Perintah Albert sambil menatapnya tajam.
Anaya yang ketakutan saat mendapat perlakuan kasar dari Albert, sungguh ingin rasanya kabur.
__ADS_1
Saat itu juga, Albert mendorong Anaya hingga terjungkal ke belakang, tentu saja jatuh ke lantai.
"Cepat!" bentak Albert dengan suaranya yang terdengar melengking.
Anaya yang ketakutan, langsung bangkit dan pergi ke kamarnya Albert. Kemudian, ia segera membereskan kamar dan menyiapkan keperluannya untuk mandi.
"Permisi, Tuan, pagi ini mau sarapan dengan apa, Tuan?" tanya Bi Ratna yang tengah menghampiri majikannya.
"Bibi tidak perlu menyiapkan sarapan pagi untukku, tapi untuk Yusan dan Arsen. Biar Anaya yang membuatkan sarapan untukku, Bibi cukup mengajarinya saja."
"Baik, Tuan. Sebelumnya saya meminta maaf soal membuatkan wedang jahe untuk Tuan." Jawab Bi Ratna meminta maaf.
"Saya sudah mengabaikannya, lupakan. Tugas Bibi hanya mengajari, bukan membuatnya keenakan." Ucap Albert.
"Baik, Tuan." Jawab Bi Ratna, Albert segera bergegas pergi ke kamarnya, yakni untuk melihat Anaya.
__ADS_1