
Ditempat lain, Albert yang baru saja sampai di rumah dokter Auno, kini tengah sambut hangat oleh teman akrabnya.
"Bagaimana keadaan kamu, Al? katanya kamu kena te_mbak, benarkah?" tanya Dokter Auno yang baru saja bertemu dengan Albert.
"Ya, kaki dan tanganku kena te_mbak oleh anggota polisi. Makanya aku meminta sama kamu untuk mengobati kaki dan tanganku, dan sekarang aku memilih datang ke rumahmu." Jawab Albert tanpa ada yang ditutupi.
"Ya udah, ayo masuk kedalam." Ajak Dokter Auno.
"Tuan, saya akan tunggu di luar saja. Takutnya ada yang mengikuti kita." Ucap Arsen yang memilih tetap berada di luar dari pada harus ikut masuk kedalam.
"Terserah kamu saja, aku masuk duluan." Jawab Albert, sedangkan dokter Auno tidak mau memaksakan, karena tahu seperti apa temannya itu.
Saat sudah berada di ruang khusus, Albert dipersilakan duduk. Kemudian, keduanya duduk berhadapan.
"Bagaimana ceritanya, sampai-sampai kaki dan tangan mu kena tembak, Al?"
"Lagi apes aja, mungkin. Juga, aku ingin menyudahi pekerjaan aku ini. Aku mau pindah haluan, tapi nanti setelah aku menikah."
__ADS_1
"Menikah? why? kamu mau menikah? aku tidak lagi salah mendengar kabar ini, 'kan? sama siapa? apakah gadis kecil itu yang kamu maksudkan?"
Dokter Auno langsung memberondong banyak pertanyaan kepada Albert. Yang mendapat pertanyaan justru tertawa kecil.
"Bukan. Aku membeli wanita dari seorang janda."
"Kamu membeli wanita? yang benar aja kamu ini. Gosip di luar ternyata jadi kenyataan kalau gitu, kamu ini bisa saja. Terus, tujuan kamu menikah itu, apa? kamu sedang tidak melakukan sebuah rencana, 'kan?"
"Tentu saja ada, kamu kira aku ini bodoh. Aku sudah banyak memberi penyiksaan kepada wanita yang aku beli, agar dia semakin benci denganku, dan aku tidak repot repot untuk jatuh cinta dengannya."
"Kamu ini, ada-ada saja. Awas loh, nanti ujungnya jadi bumerang untuk kamu. Aku sih cuma mengingatkan, soal mau dipercaya atau enggaknya sih, itu urusan kamu. Oh ya, mana yang kena te_mbak, aku akan mengobati kaki dan tangan mu."
Dokter Auno hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan, lantaran tanggapan dari Albert yang tetap bersikeras atas pendiriannya.
Karena tidak ingin mengulur waktu, dokter Auno segera mengobati luka yang ada di tangan dan di kakinya.
"Tahan. Ini memang sangat perih, tapi akan segera sembuh. Kamu ini bandel, sudah aku bilang berhenti dari pekerjaan kamu itu, tapi kamu gak mau mempercayai aku. Kalau sampai kamu tertangkap polisi, bagaimana nasib mu, Al? hidup itu digunakan sebaik mungkin, jangan kamu siksa diri kamu. Apakah kamu tidak ingin punya keluarga? ubahlah tujuan kamu. Kalau kamu terus seperti itu, orang yang membencimu akan mentertawakan mu sepanjang hidupnya."
__ADS_1
"Ah! diam saja kamu dokter. Urus dulu pasien kamu ini, gimana lah."
Dokter Auno tertawa kecil, lantaran dirinya telah menasehati teman udah seperti menasehati anak sendiri.
"Ketawa, lagi. Iya deh, aku bakal sudahi pekerjaan ku yang ilegal itu. Aku akan memulai pekerjaan baru."
"Asalkan tidak berurusan dengan hukum, aku akan menyemangati kamu. Tapi, kalau sama saja, aku tidak lagi menasehati kamu."
"Sudahlah, tak perlu kamu membahasnya. Aku tetap butuh nasehat dari kamu, meski aku melakukan kesalahan terus menerus."
"Terus, apa untungnya aku menasehati kamu, tapi kamu sendiri mengabaikan nasehat yang aku beri."
"Ada saatnya aku berhenti pada titik akhir, jangan bosan untuk menasehati aku."
"Kamu itu ya, dari dulu gak pernah berubah. Semoga setelah kamu menikah, kamu akan mendapatkan penyesalan dititik akhir. Sudah, mana kaki kamu yang kena te_mbak? mau aku obati biar cepat selesai."
Albert menunjukkan luka yang ada di bagian kakinya. Kemudian, dokter Auno segera mengobatinya. Lagi-lagi Albert harus menahan rasa sakit dan juga perih.
__ADS_1
Luka yang ada di bagian kakinya lebih parah dari pada luka yang ada ditangannya. Dokter Auno merasa kasihan dengan perjalanan hidup temannya, yakni selalu berurusan dengan kejaran polisi.
Nasehat saja tidak cukup untuk Albert, tapi dokter Auno tetap menasehatinya meski sering diabaikan.