Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Teringat masa lalu


__ADS_3

Setelah menghabiskan sup iga dan wedang jahe, Anaya bergegas untuk istirahat.


"Semoga besok pagi aku tidak bangun kesiangan. Aku tidak bisa membayangkan jika Tuan Albert akan memarahi aku lagi." Gumamnya sebelum tidur.


Karena rasa kantuk dan juga dilarang untuk bergadang, perlahan Anaya memejamkan kedua matanya. Namun, bukannya tertidur, Anaya justru teringat dengan kejadian di waktu yang lampau.


Bahkan, Anaya juga mengecek kembali luka yang ada di kakinya. Tiba-tiba ia teringat dengan lelaki yang ia tolong, yakni akan melakukan aksi bu_nuh diri.


"Lelaki bodoh itu apakah masih hidup? atau sudah mati. Benar-benar itu cowok, otaknya sangat dangkal. Memangnya dia pikir itu, bunuh diri akan menyelesaikan masalah? da_sar! cowok aneh. Eh! ngapain aku mikirin itu cowok. Kenal kaga, pernah ketemu juga enggak. Tapi ... kemana perginya buku diary aku ya? serah lah, suka suka dia. Astaga! di halaman terakhir aku menuliskan sesuatu yang sangat memalukan, aih!"


Anaya pun yang tengah bergumam menyadari isi dalam buku diary nya yang hilang.


"Semoga saja yang nemuin bukan cowok. Kalau cowok yang menemukan, aih! mau ditaruh kemana muka aku ini." Ucapnya lirih mengerutuki dirinya sendiri.


Karena takut bangunnya kesiangan, Anaya bergegas tidur agar badan sedikit berkurang rasa pegal dan yang lainnya.


Berbeda dengan Albert, entah kenapa kembali membuka buku diary miliknya Anaya.


"Aku akan mengabulkan keinginanmu yang telah kamu tulis. Juga, aku akan segera menikahi kamu." Ucap Albert setelah membaca tulisan miliknya Anaya.

__ADS_1


Setelah itu, Albert meletakkan kembali buku diary miliknya Anaya. Kemudian, ia segera beristirahat agar badannya terasa enakan.


Malam yang semakin dingin, cuaca diluar pun mulai tidak bersahabat bagi yang tengah tidur sendirian. Anaya maupun Albert sama-sama kedinginan, sampai lupa utuk mematikan AC. Bahkan, bangun pun sama-sama kesiangan.


"Apa! jam berapa ini?"


Anaya langsung melihat jam.


"Sudah jam 8? yang benar saja. Terus, Tuan Albert? mam_pus aku. Kalau ternyata Tuan Albert sudah menunggu di depan pintu, kek mana akunya? oh! tidak. Aku harus segera mandi aja dulu, baru keluar. Setidaknya jika Tuan Albert menemui aku, penampilanku tidak berantakan."


Anaya segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan buru-buru. Kemudian, segera mengenakan baju dan menyisir rambutnya, serta memoles wajahnya agar tidak terlalu pucat.


"Kok sepi? eh tunggu, kenapa ruang tamunya udah berubah?" gumam Anaya bertanya-tanya.


Karena penasaran, Anaya mencari keberadaan asisten rumah. Sambil berjalan, Anaya celingukan.


Saat jarak antara dirinya dengan ruangan yang kedengaran ramai, Anaya semakin penasaran dan mencoba untuk melihatnya.


"Selamat pagi, Nona." Sapa beberapa asisten rumah.

__ADS_1


"Pagi juga, kalian sedang ngapain? dimana Bi Ratna?"


"Kami sedang mempersiapkan acara pernikahan Nona dengan Tuan Albert. Acaranya tinggal beberapa hari lagi, Nona. Jadi, kita harus membereskan semua barang-barang ini dari ruang tamu. Kalau untuk Bi Ratna, sekarang lagi keluar." Jawab salah satu asisten rumah.


Tentu saja, Anaya kaget mendengarkannya. Ditambah lagi hari pernikahannya sebentar lagi, yang pasti pikirannya mulai tidak tenang.


"Sudah bangun rupanya. Buatkan aku kopi pahit yang panas, kamu antar ke belakang rumah."


Anaya yang mendapat perintah, pun kaget bukan main.


"Bab-baik, Tuan." Jawab Anaya dengan perasaan gugup.


Nahas. Saat Anaya hendak melangkah, Albert menarik lengan Anaya dan memutarkan badannya hingga keduanya saling menatap satu sama lain dan dengan jarak yang sangat dekat.


Anaya yang tidak sanggup menatap wajahnya Albert, langsung menunduk. Namun sayangnya, Albert mengangkat dagunya dengan tangan kirinya.


"Cepat buatkan, dan antar ke taman belakang." Ucap Albert dan langsung melepaskan tangannya.


Kemudian, Anaya segera pergi ke dapur. Albert sendiri pergi ke taman belakang.

__ADS_1


__ADS_2