
Anaya yang tidak ingin dicurigai oleh suami maupun ibu mertuanya, sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan sesuatunya kepada mereka berdua.
Ibu mertua melepaskan pelukannya, dan menatap wajah ayu milik menantunya.
"Ada Albert yang akan menjagamu, tak perlu risau dan juga khawatir." Ucap Ibu mertua, Anaya sendiri tersenyum tipis.
'Menjagaku yang bagaimana? sejak aku datang ke rumah putramu, aku selalu diperlakukan dengan kasar. Bagaimana dia akan menjagaku? yang ada dia akan lebih mudah menganiaya diriku ini, Ibu.' Batin Anaya yang masih belum percaya akan sikap baiknya Albert.
Cukup lama dalam acara resepsi pernikahan, Anaya merasa lelah dan juga capek. Untungnya acara pun selesai, Albert mengajaknya pulang ke rumah untuk segera istirahat, karena dirinya juga merasa lelah. Kecapean bukan hanya pada fisiknya saja, tetapi pada otaknya juga yang sedari tadi terus memikirkan istrinya maupun ayah dan adiknya.
Takut, jika mereka berdua sebenarnya telah mengetahui siapa Anaya yang sebenarnya, pikir Albert yang dihantui dengan pikiran-pikiran yang tengah mengganggu.
Namun, rupanya Tuan Adhiwan masih belum pulang. Sedangkan Aaric sudah pulang lebih awal.
"Albert! tunggu."
Ayahnya memanggilnya dengan suara cukup nyaring.
__ADS_1
Albert berhenti dan menoleh.
"Ada apa? apakah ada yang mau disampaikan?" tanya Albert yang begitu formal ketika bertanya kepada ayahnya.
"Pulanglah ke rumah utama." Jawab Tuan Adhiwan yang membuat Albert merasa aneh dengan jawaban ayahnya.
Albert menyeringai ketika mendapat ajakan dari ayahnya.
"Pulang ke rumah utama. Maksudnya Papa itu, apa? ada angin apa Papa tiba-tiba mengajakku pulang ke rumah utama? lucu sekali. Bukankah Papa tidak menyetujui Anaya menjadi istriku? terus, kenapa baru sekarang? maaf." Ucap Albert dan bergegas pergi dari hadapan ayahnya.
"Albert! kau dalam bahaya." Kata sang ayah dengan suara yang tinggi.
Anaya yang mendengar ucapan dari ayah mertua, ia berhenti sejenak. 'Apa maksudnya?' batin Anaya yang tiba-tiba merasa aneh dengan ucapan dari ayah mertuanya.
"Kamu kenapa? kamu tidak perlu menanggapi ucapan dari lelaki tua itu. Ayo kita pulang."
Albert langsung menarik tangan istrinya untuk pulang.
__ADS_1
Ibunya yang masih belum beranjak pergi, kini menatap suaminya, yakni kepada Tuan Adhiwan.
"Sebenarnya apa maunya kamu? anakmu bukan permainan mu. Jadi, jangan sekali-kali kamu mengganggunya. Biarkan Albert hidup dengan caranya. Juga, tidak perlu kamu mengatur hidupnya." Ucap istrinya Tuan Adhiwan.
"Albert dalam bahaya, bahkan diriku sendiri. Jadi, pulanglah ke rumah utama, termasuk dirimu juga dalam bahaya jika kamu ikut dengan Albert." Jawab Tuan Adhiwan kepada istrinya.
Istrinya Tuan Adhiwan senyum mengejek.
"Kamu bilang Albert dalam bahaya? apa kamu tengah menemukan permainan baru untuk anak kandung mu sendiri?"
"Mikey! aku bicara benar. Albert dalam bahaya! bahkan, aku dan kamu." Jawab Tuan Adhiwan membentak, lantaran ia merasa jika anak dan istrinya tidak mau mempercayai ucapannya.
"Bagaimana putramu akan mempercayaimu? kalau dari awal saja kamulah yang membuat masalah. Jadi, percuma saja kamu membujuk putramu dengan segala macam alasan, karena Albert tidak akan pernah akan pernah mempercayaimu." Ucap istrinya.
Karena malas berdebat, ibunya Albert bergegas pergi dari hadapan suaminya. Kemudian, segera menyusul anak dan menantu pulang ke rumah.
Tuan Adhiwan yang merasa kecewa karena gagal membujuk putranya, pun pulang dengan tangan kosong. Berbeda lagi di tempat lain. Aaric tengah berbicara dengan seseorang, yakni entah rencana apa yang sedang dibicarakan, keduanya begitu akrab dan tertawa puas di dalam gedung yang tidak berpenghuni.
__ADS_1
"Kamu memang benar-benar sangat bisa untuk aku andalkan, Aaric. Aku tidak sia-sia mengajarimu. Sebentar lagi lelaki tua itu akan kita lenyapkan. Setelah rencana kita berhasil, maka kitalah pemenangnya." Ucapnya di hadapan Aaric.
"Benar sekali. Aku harus menyingkirkan orang-orang yang sudah menghancurkan kebahagiaan ibuku, dan membalaskan den_damnya." Jawab Aaric yang berambisi untuk mencapai tujuannya.