
Selesai membuatkan kopi pahit dan juga panas, Anaya teringat saat wajahnya disiram dengan wedang jahe yang cukup lumayan panas. Juga, Anaya kembali menyimpan rasa takut jika dirinya melakukan kesalahan dan akan diperlakukan hal yang sama.
Tidak ingin membuat Albert menunggu lama, cepat-cepat segera pergi ke taman belakang rumah.
"Tuan, ini kopi pahitnya." Ucap Anaya dengan gemetaran saat meletakkan secangkir kopi panas di hadapannya.
Anaya masih tetap menunduk, yang pastinya takut untuk menatap wajah lelaki yang ada di hadapannya.
Albert yang dapat melihat Anaya yang ketakutan, ia menepuk tempat duduk yang ada di sebelahnya.
"Duduk lah, cepetan duduk." Perintah Albert sambil memperhatikan Anaya.
"Bab-baik, Tuan." Jawab Anaya sedikit terbata-bata, dan ia segera duduk di sebelahnya.
Sambil duduk, Anaya mere_mat tangannya terus menerus karena rasa takutnya terhadap Albert.
Dengan santai, Albert meraih secangkir kopi yang ada di depannya. Kemudian, ia menyodorkannya kepada Anaya.
"Lihat aku. Ini, minumlah. Aku tidak mau mati sia-sia. Jadi, kau yang harus minum duluan. Jangan banyak protes." Ucap Albert memberi perintah kepada Anaya.
"Tat-tapi, Tuan. Masa' Tuan minum bekas saya."
"Tidak ada tapi tapian. Cepat kau minum dulu itu minuman kopinya. Jangan membantah."
"Baik, Tuan." Jawab Anaya yang tidak mempunyai pilihan lain selain nurut dan pasrah.
__ADS_1
'Aku kira sudah tidak kasar, ternyata semalam itu dia sedang amnesia mungkin. Hanya saja, dia tidak lagi dengan nada suara yang tinggi. Apa dia punya riwayat jantung? entahlah. Otak dan ucapan seperti tidak selaras.' Batin Anaya.
"Cepetan kau minum." Albert kembali mengagetkan Anaya yang tengah melamun sambil memegangi secangkir kopi panas dan pahit.
"I-i-iya, Tuan." Jawab Anaya dengan perasaan takut, juga gugup.
Setelah meminum, Anaya menatap Albert.
"Sudah, Tuan." Ucap Anaya, Albert sendiri langsung menyambar secangkir kopi miliknya.
Kemudian, Albert meminumnya sambil menatap Anaya yang terlihat ketakutan.
"Kamu kenapa, takut?" tanya Albert yang baru saja menyeruput minuman kopinya.
Albert meletakkan kembali secangkir kopinya. Kemudian, ia menoleh ke Anaya. Karena takut, Anaya memilih menatap lurus ke depan. Dirinya sama sekali tidak berani untuk menatap Albert. Lelaki yang sulit untuk ditebak melalui sikapnya.
Albert meraih dagunya dan menghadapkan wajah Anaya tepat di hadapannya. Kemudian, Albert menatapnya dengan ekspresi sulit untuk ditebak oleh Anaya.
"Apakah kamu sudah siap untuk menikah denganku?" tanya Albert dengan santai.
Anaya masih diam, yakni untuk menata kalimat agar tidak salah menjawab.
"Kenapa masih diam? apakah kamu tidak menginginkan pernikahan? apakah kamu ingin bebas dari rumah ini?"
Albert langsung memberi banyak pertanyaan kepada Anaya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Juga, aku tidak mengerti dengan kehadiranku di rumah kamu ini. Aku seolah tidak ada lagi harganya, aku tidak mempunyai apa-apa tentang diriku." Jawab Anaya apa adanya.
"Kasihan sekali nasib mu. Dijual ibu tiri, lalu dibeli oleh lelaki ke_jam sepertiku. Aku akan penuhi permintaan mu, tapi kamu juga harus penuhi permintaan dariku, bagaimana? apakah kamu sudah siap? sanggup?"
"Permintaan? memangnya permintaan apa yang akan kamu ajukan kepadaku?"
"Menikahlah denganku, dan beri aku anak laki-laki. Maka, aku akan membantu kamu untuk menangkap siapa pelaku yang sudah memb_unuh ayahmu." Jawab Albert yang mengajak Anaya untuk bertukar keinginan.
Anaya langsung terkejut mendengarkannya.
"Apa! memberimu anak laki-laki?"
Albert mengangguk dan tersenyum.
"Jadi kita?"
"Kita apa?"
Lagi-lagi Albert tersenyum dibuat sinis kepada Anaya.
Anaya menggelengkan kepalanya, terasa malu untuk di ucapkan.
"Tidak apa-apa, aku akan pikirkan lagi."
"Tidak ada yang perlu kamu pikirkan lagi. Hari ini aku mau keluar, kamu tetap di rumah saja. Ingat, jangan pernah kabur atau keluar dari rumah ini kalau tidak ingin mendapat bahaya. Aku hanya memperingatkan kamu saja." Ucap Albert dan bergegas pergi dari tempat duduknya.
__ADS_1