
Benar saja, rupanya Anaya dibuatnya terkejut ketika dirinya tengah memegang buku yang tidak asing baginya.
"Ini 'kan, buku ini, buku ini bukankah milikku? jadi, jadi, lelaki yang mau bu_nuh diri itu-- tidak, itu tidak mungkin."
"Iya! aku lelaki itu. Lelaki yang mencoba untuk bu_nuh diri karena frustrasi. Aku yang sudah membuatmu cidera, dan aku juga orang yang tidak mau bertanggung jawab. Sekarang semua terserah kamu. Mau kamu proses kasusnya juga tidak masalah. Aku siap menanggung resikonya." Sahut Albert yang sudah berdiri di belakang Anaya.
Tentunya sangat terkejut. Anaya langsung menoleh ke belakang, sekaligus memutarbalikkan badan. Kini, keduanya sama-sama menatap satu sama lain.
Anaya yang sudah tidak mempermasalahkan soal masa lalunya itu, hanya diam tanpa bersuara. Hidupnya seolah sudah tidak ada gunanya untuk menata masa depan. Bagi Anaya semuanya telah hancur, cita-cita bersama harapannya.
"Kenapa kamu diam? apa terlalu banyak permintaan mu? katakan saja. Setidaknya aku bisa menebus kesalahanku dulu."
Anaya yang ingin lepas dari jeratan suaminya, sudah tidak lagi bisa dilakukan, lantaran dirinya sudah berhubungan ba_dan, semua sudah menjadi milik suaminya.
__ADS_1
Menyesal atau tidaknya, Anaya tidak bisa berkomentar tentang dirinya. Mungkin andai saja jika suaminya belum menye_ntuhnya, Anaya akan memilih berpisah. Namun, kenyataannya semua sudah terlanjur, bagaikan nasi yang telah menjadi bubur.
Sedangkan Albert bukan sosok lelaki yang mudah dimanfaatkan. Sebelum dimanfaatkan, dirinya lebih dulu memanfaatkan kesempatan emasnya. Apa lagi kalau bukan untuk memiliki Anaya sepenuhnya, tentu sudah dipikirkan sebelumnya, yakni sebelum buku milik istrinya ditemukan oleh pemiliknya.
"Aku tidak ingin apa-apa. Sudah aku katakan sebelumnya, aku sendiri tidak mempunyai hal tentang diriku ini. Lantas, apa yang harus aku katakan?"
Albert tersenyum tipis di hadapan istrinya.
Entah harus menganggapnya impas, atau hanya memanfaatkan. Anaya benar-benar dibuatnya dilema.
Albert yang harus berangkat kerja, ia memilih untuk bersiap-siap.
"Hari ini aku mau berangkat kerja, temani aku sarapan pagi." Ucap Albert, Anaya hanya bisa nurut dan pasrah.
__ADS_1
Setelah itu, Albert segera bersiap-siap. Sedangkan Anaya membereskan tempat tidur dan pakaian yang berserakan.
'Benar-benar memalukan. Aku sudah kehilangan kehorm_atan ku, sekarang aku sudah menjadi miliknya lelaki yang sudah membeliku. Tapi, dimana ibu tiri aku? sejak menjual diriku, sama sekali tidak pernah bertemu dengannya.' Batin Anaya yang tengah menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Albert dibantu mengenakan baju kemejanya.
"Sudah, gak perlu pakai jas. Aku bukan orang kantoran. Hanya ada kepentingan saja aku mendatangi kantor. Sekarang lebih baik kamu segera mandi, dan temani aku sarapan. Aku tunggu di bawah." Ucap Albert, Anaya sendiri hanya bisa nurut atas kehendak suaminya.
Karena tidak ingin suaminya murka karena tidak bisa gesit, Anaya cepat-cepat ke kamar mandi dan segera membersihkan diri.
Sedangkan Albert yang tengah menyisir rambutnya, ia kembali teringat dengan Aaric.
'Aku harus segera menyelidiki, dan menjebloskan ke penjara. Tidak peduli dia itu saudaraku ataupun bukan. Bagiku yang salah tetaplah bersalah, titik. Aku memang bukan orang baik, setidaknya aku mempunyai kewarasan.' Batin Albert sambil memakai jam tangannya.
__ADS_1