Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Mencari jalan keluar


__ADS_3

Waktu yang sudah ditunggu-tunggu telah tiba, Albert bersama Arsen tengah melakukan perjalanan jauh menuju tempat untuk menyembunyikan barang yang diterima oleh pemasok.


Dengan kecepatan tinggi, Arsen melajukan mobilnya tanpa peduli dengan banyaknya kendaraan dengan arah yang berlawanan. Bahkan, tidak peduli juga jika nyawanya yang harus menjadi sasarannya. Bagi Arsen, semakin cepat, maka akan segera sampai di tempat tujuan.


Namun siapa sangka, jika dirinya harus terjebak dalam antrian ketika berada di jalanan yang tengah dilakukan perbaikan.


"Aih! benar-benar sial, bagaimana ini, Tuan?"


Umpat Arsen ketika harus mengantri untuk melewati jalan tersebut.


"Putar balik bisa, 'kan?"


"Putar balik yang bagaimana, Tuan? lihatlah, banyak kendaraan yang sedang mengantri. Kalau begini caranya, kita bisa gagal melakukan operasi, Tuan."


"Aih! kau ini, kenapa lewat jalan ini, ha! seharusnya kamu mencari tahu dulu sebelum melewatinya. Gini nih, kalau kamu tidak fokus dengan pekerjaan kamu. Sekarang juga, cepat kau hubungi seseorang yang bisa menunggu di perbatasan jalan Simpang bukit sana. Sekarang kita akan keluar, karena waktu kita tidak banyak. Biarkan Arsol yang akan mengendarai mobil ini." Ucap Albert yang tidak punya pilihan lain selain keluar dari mobil untuk mencari jalan pintas.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimana dengan sen_jata kamu, Sen? Apakah kamu sudah membawa serepnya?"


"Tenang saja, Tuan. Saya sudah siap siaga untuk hal itu." Jawab Arsen sambil melepaskan sabuk pengaman.


"Pastikan, tidak ada yang mengikuti kita." Ucap Albert, Arsen mengangguk dan bergegas keluar dari mobil. Sedangkan Arsol yang diminta untuk mengendarai mobilnya.


Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, akhirnya memilih jalan keluar untuk berjalan kaki demi sampainya ke tempat tujuan.


Dengan jalannya yang santai dan tidak menunjukkan kecurigaan, sebisa mungkin berjalan layaknya pejalan kaki pada umumnya.


"Kau yakin tidak ada yang mencurigakan?" tanya Albert sambil mempercepat langkah kakinya, lantaran terlihat ada beberapa polisi yang tengah beroperasi di malam hari.


Arsen dan Albert memang sudah menjadi pengawasan polisi, hanya saja mereka berdua selalu menggunakan wajah palsu untuk mengelabui siapa saja yang sengaja berniat untuk mencelakai atau menjebloskannya dalam penjara. Tetap saja, dengan kelicikan yang dimiliki oleh Albert, benar-benar sulit untuk melakukan penangkapan. Bahkan, tempat penimbunan barang pengiriman saja sangat sulit untuk lacak.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita berpencar?" tanya Arsen yang mulai khawatir jika harus menjadi kejaran polisi.

__ADS_1


Saat itu juga, rupanya beberapa anggota polisi muncul secara tiba-tiba di hadapan mereka berdua dengan jarak lima puluh meter.


"Mampus, kita, Tuan." Ucap Arsen secara reflek saat langkah kakinya terhenti.


Albert menghadang tubuh Arsen dengan tangan kirinya.


"Mundur." Perintah Albert memperingatkan anak buahnya.


Sedangkan beberapa anggota polisi tengah menodongkan senjatanya tepat pada Arsen dan Albert. Sungguh pilihan yang sangat sulit. Tetap saja, bagi Albert ketika berhadapan polisi adalah tantangan yang dianggapnya bagai mainannya.


"Angkat tangan kalian, cepat!" perintah salah seorang polisi kepada mereka berdua yang sudah di kepung oleh beberapa anggota polisi.


"Tuan, bagaimana ini?"


"Kau ini, punya otak itu dipakai di kepala, bukan di dengkul, apalagi di pan_tat kau itu, busuk otak kau. Kau bisa melarikan diri dengan caramu, dan aku pun akan melakukan hal yang sama. Ingat, kau harus selamat."

__ADS_1


"Tentu saja saya harus selamat. Saya belum menikah, Tuan." Jawabnya yang begitu santai ketika harus menghadapi masalah yang cukup rumit.


Albert yang sudah di kepung oleh beberapa anggota polisi, pun tetap bersikap santai, seolah dirinya mempunyai kekebalan tubuh layaknya pencegahan virus masuk. Tapi, kali ini bukan pencegahan virus masuk, melainkan peluru yang akan melayang dan masuk kedalam tubuhnya.


__ADS_2