
Anaya yang tengah membereskan tempat tidur, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkannya.
"Siapkan air hangatnya, buruan. Juga, handuknya ambil di dalam lemari situ." Perintah Albert yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi. Tentunya mengagetkan Anaya yang tengah membersihkan kamar mandi.
Saat itu juga, Anaya menoleh.
"Bab-baik, Tuan." Jawabnya setengah menunduk.
"Bagus, cepat selesaikan pekerjaan kamu." Perintah Albert dan memilih duduk di sofa sambil menunggu Anaya selesai melakukan pekerjaannya.
Karena tidak ada sesuatu yang disibukkan, Albert duduk sambil membaca buku untuk menghilangkan kejenuhannya. Sedangkan Anaya yang tidak ingin mendapat marah, ia segera menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai, Anaya bergegas keluar.
"Tuan, sudah siapkan semuanya." Ucap Anaya yang masih ada rasa takut ketika menghadap Albert.
Albert langsung bangkit, meski terasa sakit bagian kakinya.
"Bantu aku untuk melepaskan baju, juga celananya." Perintah Albert.
Anaya benar-benar kaget mendengarnya. Sungguh diluar dugaan.
"Yang benar saja, Tuan. Saya bukan istrinya Tuan, saya takut." Jawab Anaya dengan gemetaran.
Albert yang mendapat penolakan, ia langsung mendekati Anaya sambil menahan rasa sakitnya.
Kemudian, Albert menyambar lengan Anaya dan mencengkram lengannya dengan kuat.
__ADS_1
"Apa perlu kita segera menikah, supaya kamu tidak selalu protes, ha!" bentak Albert yang semakin kuat ketika mencengkram lengannya Anaya.
"Bub-bukan begitu, Tuan." Jawab Anaya dengan perasaan takut.
"Sekarang juga, cepat kau lepas bajuku, sekalian celananya." Perintah Albert sambil menatapnya tajam.
Anaya kembali ketakutan dan tidak lagi bisa untuk membantah. Mau tidak mau akhirnya menurutinya.
"Baik, Tuan." Jawabnya dan langsung melepaskan bajunya.
'Mimpi apa semalam, kenapa sikapnya selalu kasar padaku. Apakah dia ini lelaki temperamental? sungguh aku tak sanggup untuk menghadapinya. Kalau sampai aku benar-benar menikahnya, habislah aku.' Gumam Anaya sambil melepaskan baju.
Setelah itu, Anaya membantu untuk melepaskan celananya dan menyisakan celana kolor yang pendek.
"Bantu aku mandi, aku tidak bisa menggosok badanku, cepat."
"Cepat kamu lumuri badanku dengan sabun, dan gosok badanku. Awas saja kalau sampai kamu melukaiku, aku tidak segan-segan memberi hukuman yang berat padamu."
"Bab-baik, Tuan." Jawab Anaya yang hanya bisa nurut.
Setelah semua perintah dari Albert di kerjakan, Anaya dapat bernapas lega.
"Sekarang juga kamu segera pergi ke dapur, buatkan sarapan pagi untukku. Panggang rotinya, awas saja kalau sampai gosong. Minumnya susu, dan antar ke kamar." Perintah Albert.
Anaya yang tidak ingin melakukan kesalahan, ia bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nona." Sapa Bi Ratna saat berada di dapur.
"Pagi juga, Bi. Kalau boleh tahu, roti yang buat sarapan, dimana ya, Bi?"
"Oh, sarapan pagi untuk Tuan?"
"Ya, Bi. Maaf ya Bi, kalau saya merepotkan Bibi."
"Tidak apa-apa, Nona. Makanan yang dikhususkan untuk Tuan ada tempatnya sendiri, Nona. Itu, ada lemari yang isinya khusus untuk Tuan, dan juga lemari pendinginnya."
"Sekalian ajarin saya ya, Bi. Soalnya saya takut salah, dan nanti saya kena marah lagi."
"Ya, Nona. Tenang saja, Tuan sudah mengatakannya sama Bibi. Mari, Nona, mari saya ajarin untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Tuan."
"Baik, Bi."
Setelah itu, Bi Ratna mengajak Anaya untuk mengambil bahan yang akan di olah.
"Tuan minta sarapan apa, Nona?"
"Roti panggang sama minumnya susu, Bi. Semudah itu kah Bi, Tuan sarapannya hanya dengan roti panggang dan susu?"
Bi Ratna tersenyum mendengarnya.
"Memang sih roti panggang, tapi lengkap isinya." Jawab Bi Ratna sambil mengambil bahannya.
__ADS_1
Anaya yang melihatnya, pun kaget.