
Selama dalam perjalanan pulang, Anaya masih terus memikirkan ayah mertuanya atas ucapan yang lontarkan kepada suaminya.
Sambil memikirkan sesuatu, Anaya bersandar di jendela kaca mobil sambil melihat jalanan. Albert yang tengah duduk di sebelah Anaya, pandangannya lurus ke depan.
Tetap saja, meski pandangannya lurus ke depan, Albert tetap menoleh walaupun hanya sekilas.
Setelah memakan waktu yang tidak begitu lama dalam menempuh perjalanan pulang, akhirnya sampai juga di rumah. Saat memasuki ruang tamu, Anaya dibuatnya terkejut dengan suasana rumah yang sebelumnya dengan yang sekarang ini.
Sejenak Anaya berhenti, dan Albert tengah berdiri di sampingnya.
"Kenapa? kok berhenti jalannya."
Albert pun bertanya kepada istrinya yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
Anaya menoleh dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya kepikiran orang tua kamu, yaitu ayah kamu. Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dengan ayah kamu? sepertinya ada sesuatu mengenai diriku." Ucap Anaya yang akhirnya angkat bicara.
Albert justru tersenyum tipis untuk menutupi ketegangan atas pertanyaan dari istrinya.
"Bukankah kamu sudah mengetahuinya sedikit-sedikit soal mengenai diriku, iya 'kan?Terus, apa yang membuatmu masih curiga denganku? aku harus menjelaskan apa lagi terhadap mu, Anaya?"
"Luka, luka yang ada di leher ayah kamu. Jelaskan padaku, luka karena apa itu ayah kamu?"
Albert langsung terbelalak ketika istrinya membahas soal luka yang ada di leher ayahnya, tentu saja itu sangat mengkhawatirkan jika dirinya keceplosan di depan istrinya.
'Aku harus menjawabnya apa? kalau aku berbohong, dan ternyata Anaya sudah mengetahuinya, kebencian apa lagi yang harus aku terima darinya. Tidak mungkin juga jika aku mengatakannya dengan jujur, sama saja akan menambah masalah. Sedangkan diriku sendiri belum siap.'
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? apakah kamu dapat menjelaskannya padaku? ayo cepat katakan."
Kini Anaya lebih berani dan tidak mau untuk di anggapnya lemah. Berani gak berani, mencobanya adalah memang hal yang baru.
Albert akhirnya memilih untuk menguap daripada harus menjawab pertanyaan dari istrinya.
"Tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku ngantuk banget, aku akan menjawabnya nanti. Mulai dari sekarang kita akan sekamar. Jadi, aku melarang mu tidur di ruang tamu, dan juga melarang mu untuk melakukan pekerjaan apapun di rumah ini, ngerti." Ucap Albert dan bergegas pergi ke kamar.
Anaya yang mendapati sikap aneh pada suaminya, pun merasa heran dan juga menyimpan rasa penasaran.
"Tadi dia bilang apa barusan? memintaku satu kamar? yang benar saja. Terus, jangan-jangan dia sengaja bersikap baik itu, hanya modus saja. Bod_ohnya aku ini, kenapa juga aku tidak kabur tadi? aih."
Anaya pun menggerutu, lantaran dirinya lupa untuk melarikan diri pikirnya. Di dalam kamar, Albert menatap ke cermin sambil melihat bayangannya.
"Anaya sudah mengetahuinya, jika Papa adalah orang yang sudah memb_unuh ayahnya. Terus, aku harus melakukan apa? pura-pura tidak tahu? tapi itu bisa beresiko." Gumamnya saat mencari cara maupun ide.
Anaya yang baru saja berada di depan kamar suaminya, perlahan membuka pintunya. Ketika pintu dapat ia buka, Anaya pelan-pelan masuk kedalam kamar.
"Aaa!" teriak Anaya ketika melihat suaminya hanya mengenakan celana kolor saja.
Meski pernah membantu suaminya mandi, namun kali ini suasana berasa berbeda. Lebih lagi akan tidur dalam sekamar, tentu saja serasa senam jantung, pikirnya.
"Ngapain pakai berteriak segala, tutup itu pintunya, dan kunci sekalian."
Anaya yang kembali tegang saat berhadapan dengan suaminya, susah payah dirinya mengatur pernapasannya. Juga, Anaya merasa takut akan terjadi hal yang sama saat pertama ia masuk ke kamar dan disusul oleh suaminya.
Albert yang terasa pegal, ia bergegas mandi lebih dulu agar badan sedikit terasa enakan. Sedangkan Anaya sendiri duduk di sofa sambil menunggu suaminya selesai mandi.
__ADS_1
Sambil membaca buku yang ada di atas meja, juga biar tidak terasa lama saat menunggu suaminya mandi.
Karena tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi, Albert segera membersihkan diri.
Setelah selesai, Albert keluar dan bergantian dengan istrinya. Anaya yang mendapati suaminya keluar dari kamar mandi, kali ini terlihat begitu berbeda ketika melihat suaminya. Badan yang terlihat atletis, juga mempesona.
"Nih, olesin dulu punggungku, cepetan." Perintah Albert sambil menyodorkan obat pegal-pegal kepada istrinya agar mengolesi obatnya.
Anaya yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya nurut dan bangkit dari posisi duduknya.
Alangkah terkejutnya saat melihat punggung suaminya, ada luka yang selama ini tidak ia perhatikan ketika membantu suaminya mandi. Ingatannya kini tertuju pada luka lelaki yang ikut andil memb_unuh orang tuanya sejak ia dipertemukan oleh ayah mertua beserta lukanya yang sama persis dengan dugaan.
'Benarkah lelaki ini pelakunya? tapi yang aku lihat dulu itu wajah adiknya, bukan dia ini. Tapi ... kenapa luka di punggung ada padanya? siapa dia ini sebenarnya? terus, Aaric itu siapa?'
Anaya dibuatnya bingung ketika melihat luka tetapi wajah yang ia ingat adalah Aaric orangnya, namun dirinya belum juga mengeceknya.
Anaya gemetaran saat melihat luka yang ada di punggung suaminya. Albert sendiri yang tidak juga diolesi obat, pun langsung memutar balikkan badan.
Kemudian, menatap tajam pada istrinya.
"Kenapa tidak juga kamu olesi punggungku, Anaya? apa kamu sudah tidak sabar untuk bermain di atas ran_jang?"
Albert sengaja bersikap sedikit kasar atas ucapannya, yakni agar tidak mencurigakan didepan istrinya atas sikapnya yang mendadak baik dan tidak membentak. Namun, kali ini kembali pada Albert yang dikenal istrinya.
PLAK!
Anaya yang tengah dikuasai emosinya karena mendapat bentakan dari suaminya ketika dirinya tengah mengetahui pelaku yang ia ketahui dari ciri-ciri yang ia ingat, justru langsung menampar suaminya dengan berani.
__ADS_1
Albert yang mempunyai kesempatan untuk mengikat istrinya agar tidak lepas dari genggamannya dengan cara istrinya yang tengah meluapkan emosinya, ia tidak peduli jika harus memaksakan sang istri untuk mela_yaninya.