Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Kehujanan


__ADS_3

Albert menoleh ke belakang.


"Duduk di depan, cepetan." Perintah Albert kepada Anaya.


"Tapi,"


"Aku bukan supir mu, ngerti!" bentak Albert yang masih terbawa emosi di rumah orang tuanya.


"I-iya." Jawab Anaya singkat, dan langsung pindah tempat duduknya di depan, yakni disebelah pengemudi.


"Cepat kau pakai sabuk pengamannya. Aku paling tidak suka melihat orang yang lelet sepertimu." Ucap Albert sambil menyalakan mesin mobilnya.


Anaya yang merasa takut jika Albert bersikap kasar terhadap dirinya, memilih diam ketika duduk di depan.


Albert yang tengah dikuasai oleh emosinya, tidak peduli dengan padatnya jalanan yang berlalu lalang dengan arah yang berlawanan, ia menambahkan kecepatannya semakin tinggi hingga membelah jalanan yang sudah sepi.


Anaya yang ketakutan dengan lajunya kendaraan yang begitu cepat, membuatnya seperti jantungan.


Albert menghentikan mobilnya secara mendadak, tepat di atas tebing dengan hamparan yang luas namun sudah ada pagar yang kokoh setinggi dada orang dewasa, yakni tempat untuk bersantai dan memenangkan diri. Tentu saja, di sekelilingnya banyak orang orang dan penjual makanan serta minuman.


"Tempat apa ini?" tanya Anaya yang tiba-tiba membuka suara.


"Tempat penghantar nyawa, puas. Ayo! cepetan turun, aku tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan darimu." Jawab Albert dan langsung turun.


Anaya yang penasaran dengan tempat tersebut, pun bergegas turun untuk melihatnya. Kemudian, ia mengejar Albert yang jalannya begitu gesit hingga sampai di tempat paling ujung.


"Aaaaaaaa!" teriak Albert sangat kencang, bahkan terdengar melengking.


"Kamu sedang ada masalah?"

__ADS_1


Tiba-tiba Anaya mengagetkan Albert dengan lontaran sebuah pertanyaan. Albert langsung menoleh ke arahnya.


"Kamu pikir orang berteriak itu ada masalah, begitu kah? terlalu dangkal otakmu itu berpikir."


"Ya ya, otakku terlalu dangkal. Sampai-sampai tidak bisa melihat mana yang sedang marah, emosi, dan diam dengan tenang."


"Kau tak perlu ikut campur dengan urusanku, paham."


"Tapi aku ingin ikut campur dengan urusanmu, soalnya kamu itu misterius."


"Mulai berani kamu sekarang, bagus bagus bagus. Atas dasar apa kamu ingin ikut campur dengan urusanku. Aku sendiri tidak pernah ikut campur dengan urusanmu."


"Memangnya harus timbal balik, kah? akui saja, jika kamu sedang berada dititik kemarahan mu."


"Diam lah! tak perlu kau bicara lagi. Tugasmu itu diam, dan nurut apa yang aku perintahkan. Sekarang juga, kau pesankan minuman dingin untukku, cepat!"


Setelah Anaya pergi dari hadapannya, Albert membuang napasnya dengan kasar. Segala beban yang berada di pundaknya terasa begitu berat.


"Kenapa aku tidak mati saja, kenapa aku mesti hidup! pers_etan! denganmu, Adhiwan. Kau telah merebut kebahagiaan ku di masa lalu, kau selalu memaki anakmu ini yang tidak pernah kau harapkan kehadirannya. Kau jadikan ibuku budak atasmu, aku tidak akan memaafkan mu."


Albert langsung tertunduk sedih, tidak tahu mana yang harus ia ingat, dan yang harus ia lupakan.


Anaya yang sempat mendengarnya, pun kaget dan sangat terkejut ketika Albert berucap dengan kesedihannya. Kemudian, Anaya mendekatinya.


"Minumlah, mungkin air dingin ini bisa menenangkan pikiranmu."


Albert yang tidak ingin ketahuan oleh Anaya jika dirinya tengah menangis, langsung menyambar botol air mineral yang dingin. Lalu, dibukalah botol minuman dan digunakan untuk mencuci muka.


Anaya pun heran, bukannya diminum, justru untuk mencuci mukanya.

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu minum, Tuan?" tanya Anaya penasaran.


"Aku tidak haus, aku hanya ingin mencuci muka saja, kenapa? kamu ingin minum? ini, minumlah, masih ada sisa untukmu."


"Tidak, aku tidak haus. Aku hanya penasaran saja sama kamu. Sebenarnya kamu ada masalah apa, Tuan? sepertinya kamu sedang meluapkan emosimu, Tuan."


"Sudah aku bilang sama kamu, jangan ikut campur dengan urusanku, paham." Jawab Albert dan langsung melempar botol minuman ke tong sampah, dan masuklah botol itu dengan tepat.


Bukannya mendapat ketenangan, justru otaknya bertambah mendidih rasanya. Saat itu juga, rupanya suara petir tengah mengagetkannya. Hujan pun turun secara tiba-tiba, dan dibarengi dengan angin yang sangat kencang. Karena malam hari, cuaca tidak dapat dilihat dengan jelas, hanya saja rasa dingin yang tengah dirasakannya.


"Hujan deras, bagaimana ini, Tuan? Kita harus berteduh dimana? hujannya semakin deras, Tuan."


"Pulang. Ayo, kita pergi ke parkiran. Kita langsung pulang saja."


Albert bersama Anaya langsung berlarian menuju parkiran. Nahas, kaki Anaya terpeleset dan langsung terjatuh.


"Aaaaaw!" teriak Anaya yang terjatuh karena terpeleset, yakni jalan yang licin.


Albert langsung menoleh ke belakang, dilihatnya Anaya yang sudah terjatuh dengan guyuran hujan yang sangat deras.


Saat itu juga, Albert langsung memberi pertolongan kepada Anaya. Kemudian, ia mengangkat tubuhnya, dan juga menggendong Anaya sampai ke dalam mobil dengan kondisi yang sudah basah kuyup. Namun, niatnya langsung diurungkan dan mencari tempat untuk berteduh.


Saat berada di tempat yang bisa dijadikan tempat berteduh, Albert memesan ruangan untuk berteduh.


Saat sudah memesan dan mendapatkan ruangan khusus, Albert membawanya masuk ke dalam.


"Aw! kakiku." Pekik Anaya sambil memegangi kakinya dan menahan rasa sakit yang ia rasakan di bagian pergelangan kakinya.


Tidak hanya menahan rasa sakit, Anaya juga merasa kedinginan karena kondisi tubuhnya yang sudah basah kuyup. Sama halnya dengan Albert, dirinya pun sama seperti Anaya yang kedinginan karena kondisi yang sudah basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kakinya.

__ADS_1


__ADS_2