
Tuan Adhiwan langsung bangkit dari posisi duduknya. Juga, tak kalah sinisnya saat menatap putranya sendiri.
"Apa lagi tujuan utamanya kalau bukan menyingkirkan istrimu, Albert. Kalau kamu tidak sanggup memb_unuh istrimu, biarkan Aaric yang akan melakukannya." Ucap sang ayah yang terdengar seperti orang yang tengah bernegosiasi dengan lawannya.
Namun yang tidak lain kepada ayah terhadap anak sendiri.
Albert yang tidak begitu percaya dengan ucapan sang ayah yang hanya memintanya untuk menyingkirkan istrinya, pun sama halnya menatap sinis kepada sang ayah.
"Cuih!" Albert kembali meludah, tidak peduli dengan lantai yang bersih.
"Melukainya hanya seujung kuku saja, aku tidak akan mengorbankan istriku." Jawab Albert dengan tegas.
Saat itu juga, Aaric rupanya telah masuk ke ruangan tersebut.
PROK! PROK! PROK!
Aaric bertepuk tangan saat melihat ayah dan anak saling beradu mulut, keduanya layaknya musuh sendiri. Tidak peduli, terpenting tujuannya terpenuhi.
"Wow! mau menjadi pelindung rupanya, silakan saja kalau bisa. Sekali saja berani melindungi Anaya, jangan harap kamu akan selamat juga. Ingat, jangan sampai kematian Tuan Fardan akan sama halnya dengan kematian mu, Albert. Sekarang juga, cepat kau hubungi istrimu, serahkan ke kami, maka kamu akan terbebas dari segalanya." Ucap Aaric ikut bicara.
Albert yang sudah geram mendengarnya, pun ingin segera mengeluarkan pist_olnya dan menem_bakkan tepat di kepala Aaric. Emosi yang tidak lagi terkendalikan olehnya, ingin secepatnya melenyapkan dua manusia, meski ayahnya sendiri pikirnya.
"Ayah macam apa kau ini." Tunjuk Albert kepada ayahnya.
Albert menatapnya penuh kebencian.
"Bernegosiasi dengan nyawa istriku, yang tak lain menantu sendiri. Juga, aku tidak akan menyerahkan istriku begitu saja terhadap kalian, aku pun meminta imbalan yang sama." Jawab Albert yang juga memberi syarat untuk ayahnya sendiri.
Saat itu juga, rupanya Anaya telah datang dan bertepuk tangan berkali-kali. Tentu saja, detak jantung Albert mendadak berdegup tidak karuan. Khawatir dan cemas, itu sudah pasti.
Ternyata, ucapan yang sedari tadi dibicarakan, didengar langsung oleh Anaya.
Albert langsung menoleh ke belakang.
"Anaya." Ucap Albert menyebut nama istrinya dengan kekhawatiran, dan takut jika tiba-tiba ayahnya maupun Aaric mempunyai rencana lain untuk meleny_apkan istrinya.
Anaya berjalan mendekati suaminya, dan berdiri di sebelahnya.
"Kalian ingin nyawa tak berdaya inikah? ambillah jika bisa. Tidak ku sayangka, jika kalian lah pelakunya. Hanya karena kalah saing, beraninya menghilangkan nyawa yang tak berdosa. Dan kau! dan Anda! aku tidak pernah lupa dengan perbuatan kalian berdua yang begitu tega menjadikan ku anak sebatang kara. Melakukan pembu_nuhan di depan anak kecil." Ucap Anaya yang tengah membuka memorinya dimasa kecil yang begitu jelas melihat kebrutalan seorang Aaric yang usianya masih muda.
__ADS_1
Anaya langsung mengeluarkan pistolnya yang sudah disiapkan sedari tadi yang memaksa merebut pistol yang ada pada Yusan.
DOR!
DOR!
Dengan lihai, Anaya dapat mene_mbak dua orang yang pernah memb_unuh orang tuanya. Kini, terasa puas saat bisa memainkan pistol tepat pada sasarannya.
Tuan Adhiwan pun terte_mbak pada bagian kakinya, langsung jatuh di tempat. juga Aaric yang tertem_bak bagian dadanya, sakit sekali untuk di tahan. Keduanya pun langsung terjatuh bersamaan.
Didalam ruangan begitu ricuh dengan suara temb_akan.
Aaric asih sempat meraih pistol di punggungnya, Aaric mengarahkan bibir pis_tol ke arah Anaya yang akhirnya tertembak bagian lengannya. Juga, mengarahkan ke Albert yang kena sasaran bagian kakinya.
DOR!
Anaya langsung menoleh.
"Tidak....!"
Teriak Anaya saat melihat Albert terte_mbak, hingga lupa yang berdiri di belakangnya ada pelakunya.
Suara hempasan peluru yang entah dari mana asalnya, telah menembus bagian dada yang paling atas, dekat dengan pundaknya, suasana kembali tegang dan juga ricuh.
Saat itu juga, Anaya menjadi tahanannya, di keningnya sudah ada yang menempel bibir pis_tol dengan tangan kirinya si pelaku. Sekali saja mencoba melawan, lenyap sudah nyawanya.
"Dovan."
Tuan Adhiwan pun akhirnya mengenalinya.
"Diam! kau Tuan Adhiwan, dan juga kau! Albert. Sekali kau melawan, aku bisa saja menghilangkan nyawa orang tuamu dan juga istrimu." Ucapnya dengan mengarahkan pis_tol secara bergantian.
Sedangkan Yudan bersama Arsen, keduanya tengah melapor polisi.
Dikedua tangan sosok yang baru saja datang entah dari mana datangnya, kini memegangi pi_stol dan siap untuk dihempaskan pelu_runya kearah Tuan Adhiwan dan Albert. Tuan Adhiwan rupanya sangat terkejut melihatnya.
"Bodoh sekali kau Tuan Adhiwan, selama ini kau sudah masuk dalam perangkap ku. Akhirnya dendam ku pun terbalaskan. Juga telah mengakui kalau Aaric adalah putra kandungmu, padahal dia bukan darah daging mu."
Tuan Adhiwan maupun Albert dan juga Anaya sangat terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Sambil menahan sakit, Tuan Adhiwan mencoba untuk menahannya. Juga, Albert sama halnya menahan sakit seperti Anaya, tak mampu berbuat apa-apa.
Anaya yang kesakitan di bagian lengannya, dan tidak bisa memegang pistol, pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apakah kamu lupa, Adhiwan. Aku juga yang sudah memfitnah istrimu, apakah kamu lupa itu?"
Seketika, Tuan Adhiwan ingat saat Tuan Dovan meminta pertanggungjawaban, yakni soal tuduhan ibunya Albert yang harus bertanggung jawab atas kematian ibunya Aaric.
"Padahal, istrimu tidak tahu apa-apa soal itu. kematian ibunya Aaric memang murni adanya, dan kau! adalah kunci dendam ku yang selama ini sudah merebut istri pertama mu."
DEG!
Tuan Adhiwan akhirnya baru menyadari segala masa lalunya saat masih muda, tidak menyangkal jika hal sepele menjadi besar permasalahannya. Bahkan, berimbas dalam rumah tangganya.
Rumah tangga hancur, anak pun tidak mendapatkan kasih sayang darinya.
"Be_debah! kau Dovan!"
Umpat Tuan Adhiwan dengan suara yang keras.
DOR!
DOR!
DOR!
Suara tem_bak langsung mengenai tangan Tuan Dovan memegang pistol yang menempel di bagian pelipis miliknya Anaya. Juga suara tembak mengenai tangan kanannya.
Tuan Dovan kalah telak saat mau membalasnya, karena Albert lebih lihai dan mampu melayangkan pe_luru tepat pada tangan yang satunya miliknya Tuan Dovan.
Anaya langsung berganti posisi yang kini tengah mencekal Tuan Dovan seperti halnya yang dilakukan olehnya terhadap dirinya.
DOR!
Nahas, saat Aaric hendak melayangkan sebuah peluru untuk mengenai sasaran, rupanya lengannya mendapatkan tem_bakan dari Anggota polisi.
Kemudian, keduanya tengah di ringkus untuk diproses perbuatannya, termasuk Albert, Tuan Adhiwan, dan juga Anaya sendiri.
Semuanya tengah dilarikan ke rumah sakit untuk ditangani lukanya yang cukup serius.
__ADS_1