
Dengan hati-hati karena lukanya cukup serius, dokter Auno tengah fokus mengobati lukanya.
"Aku tidak bisa datang ke rumahmu untuk saat ini, pekerjaan ku numpuk. Jadi, datang saja ke rumah untuk melakukan pengobatan tangan kamu dan kaki kamu ini. Luka yang ada di kaki kamu ini cukup serius. Jadi, jangan kamu abaikan." Ucap dokter Auno.
"Ya, nanti setiap harinya aku akan datang ke rumah kamu untuk berobat." Jawab Albert sambil menahan rasa sakit dan juga perih.
"Aku ada waktu hanya sore hari, datanglah di sore hari. Kalau malam, aku tidak ada di rumah. Istriku juga sedang di luar negri, pendidikannya belum selesai. Jadi, tidak ada yang bisa menggantikan aku." Ucap dokter Auno.
"Tidak apa-apa, aku bisa memaklumi. Karena cuma kamu yang aku butuhkan, dan tidak mungkin juga aku berobat di rumah sakit."
"Semoga lekas sembuh, jaga pola makannya. Oh ya, jangan lupa kalau menikah kabari aku. Siapa tahu aja, aku ada waktu."
"Ya ya ya, nanti akan aku undang, kalau aku ingat."
"Sialan, sudah menjadi kebiasaan kamu yang mendadak amnesia ketika ada acara."
Albert tertawa kecil saat bersenda gurau dengan dokter Auno. Meski Albert mempunyai pekerjaan yang salah, dirinya tidak pernah memutuskan hubungan pertemanan. Teman tetap lah teman, urusan pribadi hak masing-masing individu.
Setelah selesai mengobati, akhirnya dokter Auno dapat bernapas lega.
"Sudah selesai, semoga luka di kaki dan ditangan mu cepat kering, juga sembuh. Oh ya, pulangnya nanti aja bagaimana? sekalian makan siang di rumahku. Kebetulan hari ini aku libur kerja, dan bisa menikmati makan siang bersamamu. Kapan lagi coba, mumpung aku ada waktu."
__ADS_1
"Boleh, lagi pula aku tidak ada kesibukan di rumah atau di luar rumah."
"Ya udah, kalau gitu kita pindah tempat. Kita duduk bersantai di ruang biasa kita ngobrol, ajak juga orang kepercayaan kamu itu, si Arsen. Kita bisa mengobrol santai, agar otak kita tidak melulu tegang."
"Ngeledek nih, hem."
"Bukan begitu, memang iya sih."
"Awas kamu."
"Sudah lah, ayo kita pindah ke ruangan untuk bersantai." Ajak dokter Auno.
Di lain sisi, Anaya yang merasa cukup saat bersantai di taman belakang rumah, ia kembali masuk ke rumah.
"Bi, udah mau siang nih. Tuan Albert pulang enggak ya, Bi? maksudnya kita disuruh menyiapkan makan siang atau enggak, Bi?"
"Nanti juga bakal di kasih tau kalau Tuan Albert mau pulang, Nona tidak perlu cemas. Ada Yusan yang siap siaga soal Tuan Albert, karena Yusan memegang kendali soal asisten di rumah ini. Semua atas persetujuan dari Tuan Albert lewat Yusan." Jawab Bi Ratna.
"Oh, gitu ya Bi. Kalau gitu saya mau ke kamar ya, Bi." Ucap Anaya berpamitan.
Bi Ratna mengangguk.
__ADS_1
"Baik, Nona, silakan." Jawab Bi Ratna.
Setelah berpamitan dan meminta izin untuk kembali ke kamar, Anaya merasa lega dan bergegas masuk ke kamar.
Saat sudah berada didalam kamar, Anaya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kemudian, ia menatap langit-langit kamarnya sambil mengingat masa lalunya.
"Andai saja aku masih mempunyai kedua orang tua, mungkin nasibku tak 'kan seperti ini. Sekarang entah akan seperti apa soal perjalanan hidupku nanti. Akankah aku bisa temukan bahagiaku? itu sangat mustahil. Sekarang saja aku sudah seperti burung dalam sangkar emas, benar-benar panas dan ingin rasanya pergi dari rumah ini. Tapi ... kasihan juga sama Tuan Albert, yang ternyata hidupnya tak sebahagia seperti yang aku lihat." Gumam Anaya sambil mengingat penjelasan yang sudah didengarkannya.
Rasa kantuk yang tengah menguasai dirinya, ternyata tidak dapat untuk dihindari, dan akhirnya Anaya tertidur dengan posisi berbaring.
Sedangkan Albert yang tengah menikmati kebersamaan dengan dokter Auno, tidak terasa sudah siang dan waktunya untuk makan siang.
Saat itu juga, dokter Auno meminta asisten rumahnya untuk menyiapkan makan siang. Albert yang lupa belum menghubungi Yusan, ia meminta Arsen untuk menghubunginya dan mengatakan bahwa dirinya tidak ada jadwal makan siang.
Namun, dirinya tiba-tiba teringat dengan Anaya.
"Katakan pada Yusan, sampaikan kepada Bi Ratna untuk menyiapkan makan siang untuk Anaya." Ucap Albert kepada Arsen.
"Baik, Tuan." Jawab Arsen mengiyakan.
Setelah itu, Arsen segera menghubungi Yusan seperti yang diperintahkan oleh bosnya.
__ADS_1