
Acara resepsi pun akan segera selesai, Tuan Adhiwan Baldomero selaku ayah kandungnya belum juga datang di acara pernikahan putranya.
Albert yang tengah ditemani oleh dokter Auno, keduanya tengah mengobrol di tempat lain, lantaran para tamu undangan yang hanya tinggal segelintir orang saja. Jadi, ibunya Albert yang menemani Anaya berada di pelaminan.
Tidak lama kemudahan, rupanya Tuan Adhiwan telah datang dan di sambut dengan hangat.
Kemudian, Albert dipanggil Arsen untuk menemui ayahnya.
"Permisi, Tuan. Bahwa Tuan Adhiwan sudah datang bersama Tuan Aaric, kini baru saja masuk." Ucap Arsen menyampaikan pesan kepada bosnya.
"Baiklah, aku akan segera menemuinya. Ingat, pastikan semuanya aman." Jawab Albert yang tidak lupa memberi perintah kepada Arsen.
"Baik, Tuan. Saya akan memberi pengawasan yang ketat untuk Tuan Adhiwan dan Tuan Aaric." Ucap Arsen mengiyakan atas perintah dari bosnya.
Albert yang ingin tahu maksud kedatangan ayahnya, pun segera menemuinya. Yakni, cepat-cepat untuk berada di samping istrinya.
Dengan langkah kakinya yang begitu gesit, rupanya sudah berdiri di sebelah istrinya yang ditemani oleh ibunya sendiri.
Sedangkan Tuan Adhiwan segera naik ke atas panggung pelaminan, yakni untuk memberi ucapan selamat kepada anak dan menantunya.
__ADS_1
"Anakku, selamat ya, atas pernikahan kalian. Maafkan Papa yang datang terlambat, bahagia selalu untuk kalian berdua." Ucap Tuan Adhiwan kepada putranya, lalu memeluknya.
Anaya langsung terkejut ketika melihat ayah mertuanya memeluk istrinya, yakni bukti yang ada di leher milik lelaki tua yang ditakuti itu, yang tidak lain lelaki tua itu sekarang telah menjadi ayah mertuanya sendiri.
Seketika, ingatannya Anaya kembali dimasa lalunya, sungguh bagai mendapat sengatan listrik di tubuhnya. Juga, ia cukup lama melamun, hingga tidak menyadari jika ayah mertuanya sudah menghadap pada dirinya.
Albert yang menyadari akan hal itu, ia langsung menyenggol istrinya.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Albert membuyarkan lamunannya.
Anaya langsung terkesiap.
"Terima kasih banyak, Pa. Maaf, tadi Anaya sedang melamun." Jawab Anaya masih dengan perasaan takut.
Kenangan di masa lalunya masih menjadi trauma baginya, sungguh rasa takut itu masih menghantui dipikirannya.
Albert tidak salah lagi, jika istrinya adalah putri dari seorang lelaki yang telah dibun_uh oleh ayahnya sendiri bersama Aaric.
Kemudian, setelah itu dilanjut oleh adik iparnya.
__ADS_1
"Selamat atas pernikahannya Kakak ipar. Semoga bahagia selalu dengan Kak Albert. Maaf, jika kami datang terlambat." Ucap Aaric yang juga ikut memberi ucapan selamat kepada Anaya.
Terasa enggan untuk menerima uluran tangan dari adik iparnya, ingatannya juga masih terngiang di masa lalunya.
Setelah ayah mertua dan adik iparnya tidak lagi berada di hadapannya, Anaya kembali bengong. Albert memperhatikan istrinya dengan rasa penasaran atas reaksi kehadiran ayahnya bersama adiknya.
'Apakah Anaya sudah mengetahui siapa pelakunya? kalaupun iya, sikap seperti apa yang akan ditunjukkan kepadaku? apakah akan membenciku? atau ... entah lah. Semoga saja dia tidak membenciku. Jika membenciku, aku harus melakukan apa? tapi, ayah dan Aaric terlihat begitu berbeda ketika menatap Anaya. Mungkinkah mereka berdua sudah mengetahui kalau Anaya adalah putrinya? atau hanya perasaanku saja yang tidak tenang.' Batin Albert yang juga ikutan melamun.
"Albert. Anaya. Kalian berdua kenapa melamun, ada masalah?"
Ibunya Albert yang merasa heran dengan anak dan menantunya, langsung mengagetkan mereka berdua.
"Mama."
"Ibu. Em- maaf, tadi Anaya hanya teringat sama mendiang Mama dan Papa yang tidak lagi bisa menemani Anaya di sini." Jawab Anaya beralasan.
Ibu mertuanya pun langsung memeluk menantunya, ia tahu sesedih apa ketika menikah hanya seorang diri tanpa ada keluarga. Bahkan, Anaya harus kehilangan kedua orang tuanya yang telah meninggal secara bru_tal. Tentu saja, kenangan yang menyakitkan itu terus menghantui pikirannya selama belum menemukan siapa dalang selama ini.
"Kamu masih ada Ibu, kamu tidak perlu panggil Ibu, panggil saja Mama. Kamu tidak sendirian, kamu ada Albert dan juga Mama Mikeyla." Ucap Ibu mertuanya menenangkannya.
__ADS_1