
Dengan perasaan takut, Anaya sebisa mungkin untuk melakukannya. Meski ada rasa takut, Anaya sama sekali tidak bisa menolaknya.
Anaya yang tengah membersihkan lukanya terlebih dahulu, rasanya benar-benar takut. Seumur hidupnya baru kali ini membantu orang mengobati luka yang cukup mengerikan.
Bagaimana tidak mengerikan, luka tembak yang mengenai lengannya cukup ngeri untuk dilihat. Belum lagi luka yang ada di kaki, yakni masih menyisakan peluru didalamnya.
Dengan penuh hati-hati dan pelan-pelan saat mengobati lukanya. Albert yang sudah tidak sabar, pun ikut membantunya saat memasang perbannya.
Sekilas saat Anaya memasang perban, Albert memperhatikan Anaya yang begitu telaten. Awalnya memang ketakutan, namun dengan keterpaksaannya, Anaya berhasil mengobati luka yang ada di lengannya Albert.
Setelah itu, Albert menunjukkan luka yang ada di kaki sebelah kiri.
"Lepas pengikat kainnya, ambil pelurunya yang masih tertinggal di dalam. Kemudian, kamu bersihkan darahnya, lalu kamu obati." Perintah Albert kepada Anaya.
Lagi-lagi Anaya melotot ketika mendengar perintah dari Albert, yakni soal mengambil peluru yang masih tertinggal di bagian kakinya.
__ADS_1
"A-a-aku tidak berani, jaj-jaj-jangan aku. Sekali lagi aku mohon, jangan aku yang mengambil pelurunya, cukup hanya mengobati saja." Jawab Anaya dengan tubuh yang gemetaran saat mendapat perintah dari Albert.
Albert yang lagi-lagi mendapat penolakan dari Anaya, langsung menatapnya dengan tajam layaknya musuh hendak menerkam. Kemudian, Albert langsung meraih dagunya, dan mendongakkan.
Dengan perasaan kesalnya yang tengah mengeras bagian rahangnya saat mendapat penolakan dari Anaya, Albert langsung menekan kuat bagian rahang miliknya Anaya.
"Kau bilang apa tadi? ha! tidak mau kau bilang? apa perlu aku melakukan kekerasan padamu, jawab."
Albert kembali menekan kuat hingga membuat Anaya meringis kesakitan.
Albert yang mendengar jawaban dari Anaya, pun menyeringai. Kemudian, ia mendorong Anaya hingga terjungkal ke belakang. Sungguh, Albert begitu hina memperlakukan Anaya dengan kasar. Bahkan, rasa belas kasihan saja tak nampak pada diri Albert.
Yusan dan Arsen yang melihat Anaya yang diperlakukan buruk oleh bosnya, ada perasaan kasihan.
"Ini gara-gara dokter Auno tidak datang, Nona Anaya yang harus menjadi sasarannya." Gumam Arsen merasa tidak tega melihat Anaya yang tengah diperlukan dengan kasar oleh bosnya.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo kita pergi. Percaya saja denganku, Nona Anaya akan baik-baik saja." Sahut Yusan yang tengah mendengarnya, meski tidak begitu jelas.
Arsen dan Yusan yang tidak tega melihat Anaya yang mendapatkan sikap buruk dari bosnya, hanya bisa mendoakannya saja.
Anaya yang tengah kesulitan karena baru pertama kalinya harus mendadak seperti layaknya dokter bedah, dirinya hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang sudah diperintahkan oleh Albert.
"Tuan, bagaimana ini? apakah Tuan tidak sakit?" tanya Anaya ketika hendak mengambil peluru yang bercampur darah segar.
"Lebih sakit dijadikan budak oleh orang tua sendiri daripada dengan luka ini, kau paham? cepat selesaikan tugas kamu."
Anaya yang mendengarnya, pun merasa tersindir, lantaran dirinya telah dijual oleh ibu tirinya. Entah apa yang menjadi tujuannya, hingga tega menjual anak tiri kepada orang lain demi uang, pikir Anaya sambil mengambil peluru yang bercampur dengan darah segar.
Albert yang tengah menahan sakit, sebisa mungkin untuk tidak meringis kesakitan, dan tetap menunjukkan sikap tenangnya yang seolah-olah bahwa dirinya baik-baik saja di hadapan siapapun.
Setelah berhasil mengambil pelurunya, Anaya bernapas lega. Namun, tetap saja terasa ngilu ketika melihat lukanya yang cukup ngeri. Mau bagaimana lagi, Anaya harus mengobatinya meski dengan perasaan takut.
__ADS_1