
Albert yang tengah dalam perjalanan pulang, ia memikirkan ibunya.
'Ada apa dengan Mama? apakah Papa sudah bosan hidup bersama Mama? dan langsung mengusir Mama begitu saja. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Papa dan Aaric harus aku singkirkan. Mereka berdua begitu kejam, begitu sadis dan tega membunuh orang didepan seorang anak kecil. Sekejam kejamnya diriku, membu_nuh tidak di hadapan anak kecil. Tapi Papa, aku tidak akan memaafkannya.' Batin Alber sambil menatap luar sambil melihat jalanan yang ia lewati.
Albert yang emosinya sudah memuncak di ubun-ubun, rasanya sudah tidak sabar untuk memenjarakan ayahnya dan adiknya.
Selama perjalanan menuju rumah, Albert tidak berhenti untuk mencari cara dan idenya.
"Arsen." Panggil Albert yang kini tengah menatap lurus ke depan.
"Ya, Tuan." Jawab Arsen yang tengah fokus dengan setir mobil.
"Yusan bicara apa saja sama kamu soal kedatangan Nyonya? apakah ada hal yang lainnya?"
"Tidak ada, Tuan. Yusan hanya menyampaikan pesan, jika Nyonya datang dengan membawa koper. Soal kenapa, Yusan tidak mengetahuinya, Tuan." Jawab Arsen dengan fokus pandangannya lurus ke depan.
"Kamu tambahkan kecepatannya, aku tidak mau lama-lama di perjalanan." Perintah Albert yang sudah tidak sabar ingin segera pulang, dan menginterogasi ibunya.
Benar saja, tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di rumah. Albert bergegas turun dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sepi.
Tiba-tiba rumah terlihat sepi, dan seperti tidak ada siapa-siapa. Albert segera mencari keberadaan asisten rumah sekaligus keberadaan ibunya serta Anaya.
Sedangkan di belakang rumah, Anaya tengah menemani ibunya Albert.
"Jadi, kamu dijual oleh ibu tiri kamu? malang sekali nasibmu. Tapi tidak apa-apa, itu tidak menjadi masalah. Justru Ibu sangat senang dengan kehadiran kamu di rumah ini. Setidaknya putra Ibu tidak terus-menerus memikirkan masa lalunya." Ucap ibunya Albert.
"Saya pasrah saja, Bu. Soalnya saya seperti tidak mempunyai hak apapun terhadap diri saya sendiri." Jawab Anaya dengan perasaan sedih.
"Jangan bicara seperti itu. Albert anak yang baik, dia mandiri dan dia juga seorang pekerja keras. Kamu tidak akan salah menikah dengannya. Sikap angkuh dan kasarnya itu, semua ada alasannya. Jadi, kamu tidak perlu kaget. Ibu yakin kalau kamu mampu mengubah sosok Albert menjadi lebih baik lagi." Ucap ibunya Albert dan meraih tangannya Anaya.
"Jangan pernah tinggalkan putranya Ibu ya, Nak. Biarkan dia lelah sendiri, pasti dia akan berubah. Ibu tidak ingin hidupnya penuh dendam dan menyiksa diri, karena Ibu gagal memberinya cinta dan kasih sayang untuknya." Ucap ibunya Albert yang tiba-tiba meneteskan air matanya.
Anaya yang sama sekali belum mengerti yang diucapkan oleh ibunya Albert, bingung harus bagaimana.
"Memangnya apa yang membuat Ibu gagal memberi cinta untuk Tuan Albert, Bu?" tanya Anaya penasaran, meski pernah mendengar cerita dari Bi Ratna, tetap saja ingin mendengar langsung dari ibunya.
"Cukup! sudahi obrolannya. Kamu, kembali ke kamar mu. Jangan banyak bicara dengan ibuku, masuk ke kamar mu sekarang juga."
__ADS_1
Albert yang sudah mendengar ucapan dari ibunya, langsung menyuruh Anaya untuk pergi ke kamarnya.
Anaya yang tidak bisa membantah ataupun menolak, hanya bisa pasrah dan nurut dengan perintah dari Albert. Ibunya pun tidak bisa menahannya.
Setelah Anaya masuk kedalam rumah, kini tinggal Albert bersama ibunya.
"Mama ada masalah apa dengan Papa? kenapa Mama sampai membawa koper segala, apakah Papa sudah mengusir Mama? katakan saja, biar aku akan temui Papa sekarang juga."
Ibunya menggelengkan kepalanya.
"Keinginan Mama sendiri yang pergi dari rumah."
Albert langsung bengong mendengarnya.
"Apa? Mama pergi atas kemauannya Mama sendiri? kenapa, Ma?" tanya Albert yang menyimpan rasa penasaran.
"Mama ingin hidup bersama kamu. Selama ini Mama sudah banyak mengorbankan segalanya, hingga kamu terabaikan sampai saat ini. Izinkan Mama untuk mendekati kamu, Nak. Mama ingin hidup bersamamu di penghujung usia Mama." Jawab ibunya dan meraih tangan milik putranya.
Albert menghela napasnya.
__ADS_1