Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Kabar yang tidak disangka


__ADS_3

Albert yang lagi-lagi selalu mendapat nasehat dari dokter Auno, pun menghela napasnya.


"Ya. Aku akan sudahi pekerjaan ku itu. Sebenarnya aku memang memutus kerja sama. Sekarang aku mempunyai tujuan lain." Kata Albert setelah mendapat nasehat dadi temannya.


Dokter Auno yang mendengarnya, pun langsung mendongak.


"Tujuan lain, maksudnya apa?" tanya dokter Auno penasaran.


"Ternyata perempuan yang sudah menolongku itu, Anaya. Perempuan yang sudah aku buatkan luka di kakinya, dia perempuan yang aku beli dari seorang ibu tiri." Jawab Albert berhenti sejenak.


Dokter Auno kaget dibuatnya.


"Apa! perempuan yang kamu sebut gadis kecil yang bodoh itu, perempuan yang kamu beli?"


Albert mengangguk, rasa sakit di kakinya seolah tidak terasa ketika berterus terang kepada dokter Auno.


"Tidak hanya itu, fakta lain sangat mengejutkan." Ucap Albert.


"Fakta lain yang sangat mengejutkan, katamu. Memang fakta apa itu, Al?"


"Entahlah, aku belum mengorek dan menyelidikinya secara detail. Saat ini aku belum ada waktu untuk menyelidikinya. Aku mau fokus dengan pernikahanku."


"Katakan, fakta apa itu?" tanya dokter Auno.


"Ayahku dan Aaric adalah dalang pemb_unuhan ayahnya Anaya." Jawab Albert.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, ayahmu dan Aaric adalah dalang pemb_unuhan ayahnya Anaya?"


Albert kembali mengangguk.


"Benar sekali. Soal motif pembunuhan, aku belum mengetahuinya dengan detail. Waktu dulu itu, aku memergoki ayah dan Aaric, dan yang dibicarakan oleh mereka berdua, sama dengan yang diceritakan oleh Anaya." Jawab Albert sejenak berhenti.


"Terus."


"Saat aku ajak Anaya ke rumah ayah, dia seperti orang ketakutan ketika bertemu dengan Ayah dan Aaric. Tapi entah dengan mereka berdua, masih mengenal Anaya atau tidak. Usia yang matang dan usia masih kecil, itu berbeda perubahannya. Jika untuk anak kecil bisa berubah dan bisa tidak dikenali ketika dewasa. Tapi berbeda dengan orang yang sudah besar, jarang ditemukan perubahan yang drastis." Jawab Albert menjelaskan.


"Benar. Apalagi seorang perempuan, mudah berubah dari segi apapun. Tentu saja sulit untuk ditebak." Kata dokter Auno.


Albert masih diam, tentu saja tengah berpikir untuk mengatakan hal lainnya ke dokter Auno.


"Terus, tujuan kamu apa?"


"Hanya itukah tujuan kamu?" tanya dokter Auno.


Albert menggelengkan kepalanya.


"Dengan terpaksa, aku harus melapor ke polisi soal kejahatan ayahku dan Aaric. Mereka berdua harus menerima akibatnya."


"Kamu yakin tega memenjarakan ayah kamu?"


Albert mengangguk.

__ADS_1


"Terus, apakah penjahat seperti mereka berdua itu perlu dilindungi? enggak, Bro. Mereka sudah melakukan kejahatan. Yang pastinya siap menanggung segala resiko. Ini kesempatan emas ku untuk menjebloskan Aaric."


"Aku setuju denganmu. Tapi, ayahmu sudah tua. Apakah kamu tidak kasihan dengan beliau? kalau Aaric sih oke. Karena kamu pernah bilang, dia adalah musuh terbesar mu."


"Aku tidak peduli. Selama ini ayahku tidak pernah membagi cintanya dengan adil. Aku sangat membencinya, bahkan penjara lah tempatnya." Kata Albert yang kembali teringat masa lalunya yang selalu di abaikan oleh ayah kandungnya sendiri.


"Jangan begitu. Orang tempatnya salah. Mau bagaimanapun, dia ayah kandungmu."


"Pers_etan! dengannya. Ayah macam apa dia. Sosok ayah yang begitu egois dan kejam. Jangankan aku, ibuku saja hanya dijadikan alat untuknya." Ucap Albert.


Namun, tiba-tiba dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Dokter Auno sambil mengobati sambil mengobrol, pun akhirnya selesai juga. Kemudian, dokter Auno membuka pintunya.


"Arsen, ada apa?"


"Ada yang ingin saya sampaikan kepada Tuan Albert, Dok." Jawab Arsen.


Albert sendiri segera bangkit dan mendekati Arsen yang tengah berdiri di depan pintu.


"Tuan, Nyonya sudah ada di rumah." Ucap Arsen menyampaikan pesan dari temannya yang bernama Yusan.


"Kamu serius?"


"Ya, Nyonya membawa koper. Tadi Yusan yang menelpon saya dan meminta untuk menyampaikan pesan kepada Tuan."


"Baiklah, kita akan langsung pulang."

__ADS_1


Albert pun kaget saat ibunya datang ke rumahnya dengan membawa koper.


__ADS_2