
Sesuai permintaan dari Tuan Adhiwan, yakni ayah kandung Albert sendiri, kini tengah bersiap-siap untuk datang ke rumahnya.
Namun, sebelum berangkat, Albert menyimpan sesuatu keganjalan di rumah ayahnya sendiri, yakni menyimpan rasa penasaran.
'Aku rasa berjaga-jaga itu penting dari pada bersantai ataupun menggampangkan sesuatu.' Batinnya saat berdiri di depan cermin sambil menatap wajahnya sendiri.
Tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Albert masuk ke ruang privasinya. Kemudian, ia menutupnya karena tidak ingin ada yang masuk ke ruangan privasinya.
Kemudian, Albert membuka lemari yang terdapat kotak rahasia. Apa lagi isinya kalau bukan sebuah pis_tol. Albert menyelipkan di bagian yang sulit untuk dijangkau. Setelah itu, ia mengenakan jaketnya.
"Kau memang ayahku, tapi bisa saja kau bisa berubah menjadi senjata api untukku." Ucapnya sambil merapikan jaketnya, dan mengibaskan di bagian dadanya seperti menyingkirkan sesuatu.
Takut istrinya curiga, dan menunggu lama, segera keluar dan berangkat ke rumah orang tuanya. Sedangkan ibunya di tinggal di rumah.
"Sudah siap?" tanya Albert yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang istrinya.
Tentu saja, Anaya kaget dan langsung menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Aku duluan saja, nanti kamu menyusul." Ucapnya dengan santai.
"Gak bareng berangkatnya?"
Anaya pun dibuatnya heran.
"Tidak. Nanti kamu menyusul sama Yusan. Aku berangkatnya bareng Arsen. Jadi, kamu tidak perlu buru-buru. Satu lagi, kamu tidak perlu mencurigai ku. Aku hanya ada perlu dengan Arsen."
Anaya yang tidak bisa apa-apa, pun pasrah.
"Iya, gak apa-apa. Duluan aja, nanti aku nyusul." Jawab Anaya pasrah.
"Ada kabar apa soal lelaki tua itu? apakah ada sesuatu yang terbongkar?" tanya Albert disela-sela Arsen tengah fokus menyetir mobil.
"Tidak ada, Tuan. Tapi, apa yakin kalau Tuan Adhiwan tidak mencurigai Nona Anaya? Saya rasa sih, Tuan Adhiwan bukan orang bodoh. Jangankan Nona Anaya, pembantu tukang kebun saja, Tuan Adhiwan begitu mendetail ketika menyelidiki. Apalagi Nona Anaya, saya rasa Tuan Adhiwan sudah menyelidiki asal usul dari Nona." Jawab Arsen sambil menyetir.
Albert sendiri mencoba untuk memahami dan mencerna omongan dari Arsen.
__ADS_1
"Mungkin saja sudah mengetahuinya. Jangan-jangan? Papa memintaku datang itu, tidak lain membahas Anaya." Ucap Albert tersadar akan keteledorannya.
"Bisa jadi. Terus, Nona Anaya gimana, Tuan? apakah jadi ikut?"
"Jadi, Anaya berangkatnya bareng Yusan." Jawabnya yang kini mulai memikirkan sesuatu.
Pastinya memikirkan keselamatan istrinya, yang justru tidak bersamanya. Takut ada apa-apanya dengan sang istri yang tengah bersama Yusan, segera menghubungi Yusan untuk berhati-hati.
Sebenarnya memang sengaja si Albert mengajak istrinya dengan tidak satu mobil, yakni tidak berangkat bersamaan, takutnya tidak bisa berbicara dengan ayahnya dengan leluasa. Namun, pikirannya kini mulai kacau. Justru Albert tengah khawatir dengan keselamatan istrinya.
Tidak berpikir panjang, Albert langsung menghubungi Yusan. Setelah memberi perintah, tetap ada kekhawatiran.
"Tuan tenang saja, Yusan dapat diandalkan. Saya jamin, Nona akan baik-baik saja." Ucap Arsen meyakinkan majikannya.
"Ya, aku tahu soal Yusan. Tetap aja, aku khawatir." Jawab Albert yang masih dihantui perasaan cemas, was-was, dan gelisah.
"Kamu percepat lagi jalannya. Biar ada waktu panjang untukku berbicara dengan si tua bangka itu." Kata Albert yang begitu benci terhadap ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
Arsen hanya nurut, dan menambahkan kecepatannya. Tidak terasa juga, akhirnya sampai di depan rumah Tuan Adhiwan.
Albert membuang napasnya dengan kasar saat baru keluar dari mobil.