Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Terima nasib


__ADS_3

Masih dengan perasaan takut dan juga gugup, Anaya tengah berdiri di depan pintu antara mau ketuk pintu atau tekan tombol.


"Bagaimana ini, kalau aku mendapatkan marah lagi, aku harus gimana?" gumamnya saat dirinya kembali dihantui dengan perasaan yang tidak karuan.


Tidak ada pilihan lain selain terpaksa mengetuk pintunya.


Nahas, pintu sudah dibuka lebih dulu sebelum mengetuknya.


"Masuk, ngapain masih berdiri di depan pintu. Apakah kamu mau jadi satpam ku? ha!"


Anaya langsung menunduk, dirinya sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mendongakkan pandangan dan menatap wajah Albert.


"Bab-baik, Tuan." Jawab Anaya sedikit terbata-bata.


Albert yang tidak mau banyak bicara, ia segera memutarbalikkan badan menuju tempat tidur. Anaya sendiri langsung ikut masuk ke dalam kamar, gugup dan takut itu sudah pasti tengah dirasakannya.


"Tutup pintunya." Perintah Albert.


Seketika, Anaya langsung melotot saat dirinya diminta untuk menutup kembali pintunya. Tentu saja, pikirannya mengarah kemana-mana tidak karuan.


"Tuan, ini minuman jahenya mau di taruh dimana?" tanya Anaya penuh dengan hati-hati di setiap kalimat yang ia ucapkan.


"Berikan padaku, dan duduklah di sebelah ku." Jawab Albert dan memberi perintah kepada Anaya.

__ADS_1


Langsung saja melotot ketika Albert meminta dirinya untuk duduk disebelahnya. Detak jantungnya saja seperti tidak terkontrol.


Diam dan bengong, itu yang tengah Anaya lakukan.


"Kenapa bengong? duduk lah. Kamu tak perlu takut, aku tidak punya selera dengan perempuan kumel sepertimu. Ayo! Cepetan duduk."


"I-iya, Tuan." Jawab Anaya dengan gugup dan takut pastinya. Kemudian, satu gelas minuman jahe diberikannya kepada Albert.


Karena sudah lewat larut malam, Albert yang fisiknya terasa gak karuan, segera minum wedang jahenya.


"Siapa yang membuat wedang jahe ini?" tanya Albert yang baru saja meminumnya, ia pun menoleh ke Anaya.


"Em- saya, Tuan." Jawab Anaya sambil menunduk.


Albert sambil menye_sap wedang jahe yang terasa panas, masih terus memperhatikan Anaya yang tengah menunduk.


Saat itu juga, Albert langsung menyambar tengkuk leher miliknya Anaya dan mencengkram dengan kuat, hingga Anaya menahan rasa sakit.


"Bub-bukan saya, Tuan. Maaf, saya meminta maaf. Saya mohon, saya mohon jangan memberi hukuman lagi kepada saya." Ucap Anaya dengan gemetaran, takut hal yang serupa akan dilakukan oleh Albert.


Albert langsung menc_ium bibir Anaya dan memaksakannya untuk membuka mulutnya dan kembali melakukan hal yang sama seperti di waktu makan malam.


Dengan terpaksa, Anaya harus menelan wedang jahe dari Albert, sungguh benar-benar sangat menjijikkan, pikir Anaya.

__ADS_1


"Katakan padaku, siapa yang membuat minuman ini? ha!"


"Asisten rumah, Tuan. Bibi siapa saya tidak tahu, saya belum mengetahui namanya. Maaf, Tuan, saya cuma nurut saran darinya, serius." Jawab Anaya dengan perasaan takut.


Kemudian, Albert melepaskan tangannya, dan beralih mengangkat dagunya.


"Apakah kamu ini terlalu bodoh? sampai-sampai kamu tidak bisa membuatkan minuman untukku, ha! aku maunya kamu yang membuat, bukan Bi Ratna, paham."


Saat itu juga, Albert langsung menyiram wedang jahenya ke muka Anaya, panas itu sudah pasti.


Anaya bisa apa? hanya bisa memejamkan matanya saat mendapat perlakuan kasar dari seorang laki-laki yang sudah membelinya.


"Cepat! kau buatkan lagi minumannya, buruan." Bentak Albert yang sudah memuncak emosinya.


Anaya yang tidak ada pilihan lain, langsung bergegas keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk membuatkan wedang jahe sesuai yang diminta.


Bi Ratna yang melihat Anaya wajah dan sebagian rambutnya basah, juga bajunya, langsung menghampirinya.


"Nona, maafkan Bibi. Maafkan soal tadi, Bibi menyesal. Gara-gara Bibi yang mengajari Nona berbohong, Tuan Albert marah besar kepada Nona." Ucap Bi Ratna merasa bersalah besar terhadap Anaya.


"Tidak apa-apa, Bi. Saya harus membuatkannya untuk Tuan." Jawab Anaya yang langsung membuatkan wedang jahe yang udah diajari oleh Bi Ratna.


Bi Ratna yang melihatnya, pun merasa bersalah besar. Namun mau bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur.

__ADS_1


__ADS_2