Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Kekesalan yang didapatkan


__ADS_3

Albert terasa muak untuk masuk kedalam rumah orang tuanya sendiri, sudah sekian lamanya sejak lulus sekolah, Albert sudah meninggalkan rumah. Hanya seorang diri, Albert menghidupi dirinya sendiri, yakni dengan bekerja ilegal, dan tidak peduli dengan rintangan yang harus dihadapinya.


Lika-liku kehidupannya di masa mudanya, tak sebanding dengan usia yang sebayanya. Albert bekerja keras, menolak mentah-mentah pemberian dari orang tuanya sendiri.


Kasih sayang yang diharapkan akan berlimpah untuknya, justru diberikan sepenuhnya kepada Aaric. Bahkan ibunya sendiri harus memberi perhatian kepada Aaric ketimbang dirinya yang jelas-jelas putranya.


Tuan Adhiwan yang sudah dibutakan mata hatinya hanya karena perempuan, tega membenci darah dagingnya sendiri.


Bahkan, Albert sempat frustrasi karena tidak mendapat kasih sayang yang adil, juga selalu diabaikan. Begitu pahit perjalanan hidupnya ketika masih kecil hingga tumbuh menjadi remaja.


Sampai detik ini juga, usia yang sudah matang, Albert dan ayahnya bagai air dengan minyak, sulit untuk disatukan, sama-sama keras kepala.


Tidak mau berlama-lama berdiri di depan rumah, Albert bergegas masuk ke dalam rumah. Ketika masuk, dilihatnya sosok Aaric yang diketahui adalah anak kandung ayahnya dari istri kedua, kini sedang duduk bersantai sambil menyibukkan diri dengan laptopnya.


Keduanya tidak ada yang saling menyapa, terlihat seperti dengan musuh sendiri. Albert terus berjalan menuju ke ruang keluarga. Sedangkan Aaric kembali ke kamarnya yang hendak mengambil sesuatu.


Albert segera menemui ayahnya.

__ADS_1


"Selamat datang, Tuan." Sapa salah seorang asisten rumah dengan hormat ketika Albert datang.


"Dimana Tuan mu?" tanya Albert tanpa menoleh ke asistennya.


"Tuan Adhiwan ada di ruang sebelah, Tuan. Silakan." Jawabnya sesuai yang diperintahkan oleh majikannya.


Albert tidak lagi bicara, ia langsung masuk kedalam ruangan terbuka.


"Akhirnya datang juga kamu. Duduklah." Ucap Tuan Adhiwan yang sama sekali tidak menyambut putranya dengan hangat, melainkan sudah seperti lawan bisnisnya.


"Ada perlu apa, Papa memintaku untuk datang kemari? sedang tidak melakukan negoisasi, 'kan?" tanya Albert pada pokok intinya.


"Berarti benar. Kedatanganku kemari hanya untuk dijadikan alat tukar. Sangat menjijikkan." Kata Albert dengan seringainya.


"Itupun kalau kamu. Kalau kamu tidak mau, jangan salahkan Papa jika kamu tidak bisa mendapatkan apa-apa. Kamu akan berakhir dibalik jeruji besi, dan istrimu tidak terselamatkan." Ucap sang ayah dengan entengnya.


Albert memajukan badannya sedikit membungkuk di hadapan ayahnya. Tidak lepas juga dengan seringainya, Albert memainkan ibu jari sambil digigit.

__ADS_1


"Apa aku gak salah dengar permintaan darimu, si Tuan bangka. Cuih!"


Ucap Albert dan meludah ke sembarang arah. Tidak layak baginya untuk memberi hormat kepada orang tua yang isi otaknya sudah tidak dapat berpikir dengan akal sehatnya.


"Jaga mulutmu! Albert. Kau sama saja seperti ibumu, keras kepala dan sulit untuk di atur."


Bukannya tersenyum, justru tertawa mendengar ucapan dari ayahnya.


"Keras kepala. Justru itu, keras kepalaku ini menurun dari otak busuk mu itu, Tuan Bangka."


BRAK!


Tuan Adhiwan menggebrak meja dengan sangat kuat.


"Kamu tidak perlu menutupi rahasia tentang istrimu. Papa minta sama kamu, jauhkan Anaya, atau Papa yang akan membu_nuhnya."


Sangat benar praduga yang ditebak, bahwa status Anaya sudah diketahui oleh ayahnya. Albert yang mendengarnya, pun tersenyum sinis.

__ADS_1


"Jadi benar, ini tujuannya." Ucapnya penuh geram.


__ADS_2