Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Dibuat terkejut


__ADS_3

Karena tidak memungkinkan untuk mengenakan pakaian yang sudah basah, Albert kepikiran dan takut Anaya jatuh sakit.


"Kamu jangan kemana-mana dulu, aku keluar sebentar. Tetap berada di ruangan ini, jangan pernah kabur."


Ucap Albert yang ingin mencarikan pakaian ganti untuk Anaya maupun untuk dirinya, karena tidak mungkin juga meminta anak buahnya untuk mengantarkan pakaian, lantaran cuaca yang semakin buruk.


Anaya mengangguk sambil menahan rasa sakit di bagian pergelangan kakinya. Albert sendiri mengunci pintunya, takut ada seseorang yang berniat jahat. Jadi, jalan satu-satunya mengunci pintu dari luar.


Setelah itu, Albert pergi dari tempat yang satu ke tempat yang satunya lagi, dan berharap ada yang menjual pakaian.


Benar saja, rupanya ada ibu-ibu paruh baya tengah menjajakan dagangannya dengan suara yang cukup keras.


"Bu! tunggu." Panggil Albert mengejarnya.


"Ya, Tuan, ada apa?"


"Ibu menjual pakaian?"


Albert bukannya menjawab, justru balik bertanya.


"Benar, Tuan. Saya menjual pakaian, Tuan mau beli? untuk perempuan atau laki-laki?"


"Dua duanya, Bu. Tapi tidak ada celana untuk laki-laki, adanya untuk perempuan kami ada satu paket untuk perempuan, itupun tinggal satu. Soalnya dagang di sini sepi, semua pengunjung dari kalangan orang kaya kaya, jadi jarang ada yang mau beli. Jugaan kualitasnya tidak bagus, hanya merek dibawah standar. Biasanya orang beli disini kalau musim hujan seperti ini, Tuan."


"Ya udah Bu, saya ambil yang satu paket untuk perempuan, kalau untuk laki-laki baju saja tidak apa-apa."

__ADS_1


"Baik, Tuan. Sebentar, saya akan ambilkan dulu barangnya." Ucapnya dan mengambilkannya barang tersebut.


Albert yang merasa beruntung karena masih ada sisa, langsung membelinya. Kemudian, Albert kembali ke tempat yang sudah ia sewa untuk berteduh sekaligus untuk istirahat.


Takut terjadi sesuatu pada Anaya, Albert segera kembali. Akhirnya sampai juga.


"Maaf, jika sudah membuatmu menunggu lama. Ini, kamu ganti dulu bajumu." Ucapnya dan memberikan satu paket pakaian lengkap kepada Anaya.


"Terus, kamu?"


"Aku ada celana di dalam mobil, aku mau ambil dulu, sekalian aku mau menggantinya di dalam mobil. Terpaksa aku harus mengunci pintunya lagi."


"Terima kasih. Maaf, sudah merepotkan kamu." Ucap Anaya sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya.


Albert tidak menanggapinya, dan langsung bergegas keluar. Anaya sendiri yang sudah terbiasa menghadapi sikap Albert yang semaunya, pun tidak mau memikirkannya.


Karena tidak ingin mengganggu Anaya yang takutnya sedang mengganti baju, Albert mengetuk pintunya terlebih dulu sebelum masuk ke dalam.


Anaya yang baru saja selesai mengganti pakaiannya, hampir saja jantungnya mau copot karena kaget ketika mendengar ketukan pintu dari luar.


"Masuk." Sahut Anaya ketika membalas suara ketukan pintu.


Albert yang mendengar jawaban dari Anaya, dirinya segera membuka pintunya dan masuk kedalam. Tidak lupa juga untuk menutup kembali pintunya.


Anaya sendiri tengah memegangi pergelangan kakinya yang terasa sakit akibat terpeleset dan jatuh.

__ADS_1


"Mana yang sakit, aku akan mengurutnya." Ucap Albert yang posisinya sudah duduk di lantai.


"Gak usaha. Takutnya nanti kamu salah urut, aku gak mau bertambah sakit." Jawab Anaya sedikit ada rasa takut, jika Albert salah mengurut kakinya.


"Jangan bandel, nurut saja denganku."


"Tapi, kamu mau urut kaki aku dengan apa? kalau tidak menggunakan bahan untuk mengurut, yang ada kaki aku tambah sakit."


Albert celingukan di sekitarnya, berharap ada yang bisa dijadikan untuk mengurut kakinya Anaya. Rupanya, ternyata ada lotion body di sudut ruangan. Tidak peduli miliknya siapa, Albert mengambilnya untuk mengurut.


"Mana kakinya yang sakit, aku mau lihat, aku akan mengurut kakimu." Ucap Albert yang sudah duduk di dekat Anaya.


Dengan hati-hati karena takut kesenggol, Anaya menunjukkan kakinya yang sakit. Sedangkan Albert sedang fokus dengan lotion body yang ada ditangannya.


"Ini kakiku yang sakit," jawab Anaya sambil menunjukkan pergelangan kakinya.


Albert langsung meraih kakinya Anaya dan dipeganginya bagian yang sakit.


"Aw!" pekik Anaya ketika pergelangan kakinya yang tengah dipegang Albert.


"Tahan dulu, cuma sebentar." Ucap Albert.


"Nanti luka di tanganmu bertambah sakit, gimana? bukankah luka yang ada di tanganmu dan di bagian kakimu terluka?"


"Diam lah, jangan banyak bicara. Sakit yang ada pada diriku, belum seberapa dengan kekesalanku." Jawab Albert yang terus mengurut kakinya Anaya.

__ADS_1


Anaya yang dilarang berkomentar, langsung diam sambil menahan rasa sakit. Dengan hati-hati, Albert mengurut pergelangan kakinya Anaya. Kemudian, ia sedikit naik ke atas pergelangan kakinya. Seketika, tiba-tiba Albert dibuatnya tercengang saat memegangi bekas luka yang ada di atas pergelangan kakinya Anaya, langsung gemetaran.


__ADS_2