
Selesai mengobati kakinya, Anaya akhirnya dapat bernapas lega setelah ketakutannya tidak terus menghantuinya.
"Buatkan minuman yang bisa menghangatkan tubuhku, cepat!"
Anaya yang mendapat perintah dari Albert, langsung bangkit dan pergi ke dapur. Sedangkan Albert masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba Arsen dan Yusan menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya, Bos? apa perlu kita hubungi dokter Auno?"
"Kamu ini gimana sih, San. Bukankah tadi dokter Auno mengatakannya sendiri, malam ini sedang bertugas di daerah pelosok. Jadi, mana bisa datang ke sini, ada ada saja kamu ini." Timpal Arsen yang ikut berkomentar.
"Ah ya, lupa akunya." Jawab Yusan yang baru saja ingat.
"Aih! kalian berdua ini, minggir, aku mau istirahat." Ucap Albert yang langsung pergi dari hadapan kedua anak buahnya.
Yusan maupun Arsen menggelengkan kepalanya ketika mendapati sikap dari bosnya.
__ADS_1
"Kasihan ya, Tuan Albert. Anak orang kaya, tapi hidupnya tidak bahagia. Anak maupun istri, hidupnya penuh tekanan. Padahal keturunan orang Jerman, tapi malah memilih menjadi pekerja kotor seperti kita. Eh, bukannya kita yang ikutan Tuan Albert kan, ya?"
Yusan yang tengah membicarakan bosnya, tersadar jika dirinya yang ikut ikutan bekerja dengan bosnya.
"Hem. Namanya kehidupan, kita tidak pernah tahu apa yang tengah dijalani oleh orang-orang kaya di luaran sana, termasuk Tuan Albert. Orang kaya, tajir, kebutuhan apa aja bisa terpenuhi, tapi tidak untuk sebuah keinginan, terkadang penuh tekanan, dan keputusan yang bisa saja itu sangat memaksa untuk dituruti." Kata Arsen ikut berkomentar.
"Ah sudahlah, ayo kita istirahat, obati luka kamu tuh, biar gak perih nantinya." Ucap Yusan sambil menunjuk bagian lengannya yang tergores sesuatu.
"Luka seperti ini mah belum seberapa dengan lukanya Tuan Albert. Jadi, biarkan aja lah. Ayo, kita tidur, dah malam." Jawab Arsen dan mengajaknya untuk istirahat.
Sedangkan Anaya tengah membuatkan minuman untuk Alber, namun bingung harus membuat minuman apa yang bisa menjadi penghangat tubuhnya.
Anaya yang dikagetkan oleh asisten rumah, pun langsung menoleh.
"Ini loh, Bi. Saya diminta untuk membuatkan minuman yang bisa menjadi penghangat tubuh, tadi Tuan Albert meminta saya untuk mengantarkannya ke kamar. Tapi, saya tidak bisa karena belum pernah membuatnya, Bi." Jawab Anaya dengan apa adanya.
__ADS_1
"Oh, disuruh membuatkan minuman penghangat tubuh untuk Tuan? kalau begitu tunggu sebentar ya, Non. Bibi akan mengambilkan bahannya dulu." Ucapnya, dan bergegas membantu Anaya membuatkan minuman untuk Albert.
"Sini, biar bibi ajarin Nona membuatkan minuman hangat untuk Tuan." Jawabnya dan segera menyiapkan bahan untuk membuatkannya.
Anaya yang memang belum pernah membuat minuman yang seperti diminta Albert, pun begitu serius memperhatikan asisten rumah yang tengah mengajarinya.
"Ini apaan, Bi?" tanya Anaya yang sama sakali tidak mengetahui bahan-bahan yang digunakan untuk membuat minuman penghangat tubuh.
"Ini namanya jahe, Tuan Albert sangat menyukainya. Cukup di sedu dengan air panas sudah cukup. Ini, berikan kepada Tuan. Bilang saja, kalau Nona yang membuatkannya. Kalau masih gak percaya, katakan saja kalau Bibi yang mengajari Nona." Jawabnya memberi alasan, tentu saja tidak ingin Anaya mendapatkan marah dari bosnya.
Melihatnya mendapatkan bentakan saja, pun merasa tidak tega. Apalagi terus menerus, tentunya merasa kasihan.
Anaya yang mendapat saran dari asisten rumah, mengiyakan.
"Baik, Bi. Kalau begitu saya mau mengantarkan minuman ini kepada Tuan Albert." Ucap Anaya.
__ADS_1
"Silakan, Nona." Jawabnya.
Anaya yang tidak ingin ditunggu lama, secepatnya segera mengantarkan minuman tersebut kepada Albert.