
Selama perjalanan pulang, Albert dan Anaya sama-sama diamnya. Keduanya tidak ada yang bersuara sama sekali hingga sampai di depan rumah.
Albert yang merasa tidak nyaman karena habis kehujanan, ia segera turun dan menyerahkan kunci mobilnya kepada salah satu penjaga rumah.
Sedangkan Anaya sendiri tengah hati-hati ketika berjalan, lantaran sakit di bagian pergelangan kakinya masih sedikit terasa.
"Kaki Nona kenapa?" tanya salah satu asisten laki-laki di rumahnya Albert.
Albert yang hendak masuk kedalam rumah, langsung menoleh ke belakang dan melihat Anaya yang terlihat hati-hati ketika berjalan, dirinya langsung memutarbalikkan badannya dan menghampiri Anaya.
"Sini, biar aku gendong." Ucap Albert yang langsung mengangkat tubuhnya Anaya.
Dengan reflek, Anaya melingkarkan kedua tangannya tepat di bagian tengkuk lehernya karena takut terjatuh.
"Tut-Tuan, turunkan aku." Kata Anaya yang tidak mau merepotkan.
Albert sama sekali tidak menanggapinya, dan langsung berjalan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Bi Ratna, Bi!" panggil Albert sambil menggendong Anaya.
"Ya, Tuan." Sahut Bi Ratna.
"Buatkan minuman untuk penghangat tubuh, sekalian buatkan sup tulang iga. Kalau sudah matang, antar ke kamarnya Anaya." Perintah Albert kepada asisten rumahnya.
"Baik, Tuan." Jawab Bi Ratna dan bergegas pergi ke dapur.
Albert sendiri segera masuk ke kamar tamu, yakni kamar yang ditempati oleh Anaya.
"Terima kasih banyak, Tuan. Maaf, sudah merepotkan."
"Kalau badan kamu terasa risih atau lainnya, segeralah mandi dengan air hangat. Aku keluar." Ucap Albert yang langsung keluar dari kamar yang ditempati oleh Anaya.
Anaya yang mendapati sikap aneh dari Albert, pun menjadi tanda tanya besar didalam pikirannya.
"Dia kenapa? dari tadi sejak pulang dari rumah orang tuanya, sikapnya menjadi aneh. Bahkan, tidak memarahi aku." Gumamnya yang bertanya-tanya mengenai Albert.
__ADS_1
Karena tidak ingin kesehatannya menurun dan jatuh sakit, Anaya memilih untuk segera membersihkan diri. Dengan hati-hati ketika berjalan, sebisa mungkin untuk tidak jatuh.
Begitu juga dengan Albert, dirinya tengah duduk di sofa, tepatnya didalam kamarnya. Ingatannya kembali tertuju dengan apa yang sudah ia ketahui.
Seketika, Albert teringat dengan buku diary yang ia temukan di puncak gunung. Rasa penasaran yang mengganggu pikirannya, Albert mengambilnya. Kemudian, ia membuka dan mengeceknya lagi. Selama ini Albert tidak begitu tertarik dengan isi dalam buku tersebut, lantaran hanya buku curahan hati seorang gadis kecil.
Karena penasaran dan ingin membaca isi dalam buku diary tersebut, Albert memberanikan diri untuk membukanya sampai ke halaman terakhir.
Dengan seksama, Albert membacanya dari awal pembuka buku diary hingga sampai pertengahan. Namun, tiba-tiba ia mulai terkejut dengan isinya. Rasa penasaran semakin kuat, Albert membacanya hingga sampai halaman yang hampir saja halaman terakhir.
Kedua matanya mendadak melotot ketika membaca tulisan sang pemilik buku diary tersebut.
"Aku tidak akan memberi ampun kepada dua orang yang sudah tega memb_unuh ayahku. Aku akan membalaskan dendam ku di kemudian hari. Jikalau sampai aku temui orangnya, maka bagian keluarganya adalah musuhku." Ucap Albert yang langsung tidak berdaya.
Masih menyimpan rasa penasaran, Albert kembali melanjutkan membaca tulisan di halaman selanjutnya. Kini, bukan lagi soal pembu_nuhan ayahnya, melainkan dirinya yang tidak bertanggung jawab atas insiden tergelincir saat menolongnya.
Sebenarnya ingin tersenyum ketika membacanya, namun senyumnya itu langsung hilang begitu saja, lantaran teringat akan kejahatan orang tuanya dan adiknya. Motif yang dilakukan olehnya, pun ingin segera diketahuinya.
__ADS_1