
Albert yang mendengar penuturan dari ibunya, ia pun duduk di kursi. Entah dirinya harus marah atau tidak. Kecewa itu sudah pasti, lantaran ibunya selalu membagi waktunya untuk saudaranya lain ibu.
Sosok ibu yang seharusnya memberi perhatian untuk anak kandungnya sendiri, justru diberikan kepada anak dari istri kedua suaminya. Sungguh menyakitkan bagi Albert. Namun, apa daya dirinya akan soal itu. Ibunya yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau harus patuh kepada suaminya.
Albert masih diam, hati dan pikirannya seolah tidak lagi sinkron.
"Jika kamu keberatan untuk menerima kehadiran Mama di rumahmu ini, Mama akan pergi. Mama menyadari atas ketidakadilan memberi cinta dan kasih sayangnya padamu. Maafkan Mama, selama ini telah mengabaikan kamu." Ucap ibunya yang telah menyadari akan kesalahannya dimasa lalu, yakni mengabaikan putranya sendiri.
Albert langsung berdiri.
"Aku sudah memaafkan Mama, dan Mama bisa tinggal di rumah ini. Sedangkan kata maaf untuk Papa, sama sekali tidak akan ku maafkan." Jawab Albert.
Ibunya pun tersenyum.
"Tapi, Albert ada satu permintaan kepada Mama, apakah Mama mau menjawabnya dengan jujur?" sambung Albert memberi sebuah permintaan.
"Permintaan, memangnya apa permintaan mu, Nak?"
Albert tidak hanya mengizinkan ibunya untuk tinggal di rumahnya, namun ia ambil kesempatan untuk mengorek kebenaran atas kematian ayahnya Anaya. Berharap, ibunya akan mengetahui akan hal itu.
"Apakah Mama mengetahui segala hal soal Papa?" tanya Albert karena penasaran.
__ADS_1
Ibunya yang mendapat pertanyaan dari putranya, pun tidak mengerti apa maksudnya.
"Ada apa kamu bertanya mengenai soal Papa, Al?"
Ibunya kini justru balik bertanya kepada Albert.
"Mama ikut aku sekarang juga." Ucap Albert meminta ibunya untuk pergi ke suatu ruangan privasinya.
Ibunya mengiyakan dan ikut Albert menuju ruang privasinya. Saat sudah berada di dalam, Albert mempersilakan ibunya duduk.
"Katakan sama Mama, ada apa kamu menanyakan soal Papa?" tanya ibunya yang penasaran dan tidak sabar untuk mendapat jawaban dari putranya.
Ibunya sangat terkejut mendengarnya, pun langsung terbelalak kedua matanya.
"Ada apa kamu menanyakan hal itu, Al?"
Ibunya kembali balik bertanya daripada harus menjawab pertanyaan dari putranya.
"Aku hanya ingin mengetahuinya saja, Ma. Apa motifnya Papa dan Aaric memb_unuh orang di depan putrinya?"
"Untuk apa kamu menanyakan hal itu, Al? itu sudah lama."
__ADS_1
"Ya, karena itu aku bertanya sama Mama untuk mendapatkan jawaban."
Ibunya Albert menatap ke sembarangan arah, dan mengatur napasnya.
"Namanya Fardan, dia adalah saingan bisnis Papa kamu. Karena keberhasilannya, Papa kamu merasa cemburu dan merasa tersaingi dan akhirnya melakukan pembu_nuhan bersama Aaric. Kamu ingin tahu siapa yang sudah meracuni otak Papa kamu, adalah pamannya Aaric, adik dari ibunya, Dovan." Jawab ibunya yang akhirnya mengatakannya dengan jujur.
Albert sangat terkejut mendengarnya, sungguh diluar dugaan.
"Apa! pamannya Aaric, Mama bilang?"
"Ya, itu yang Mama tahu. Soal apa tujuannya memb_unuh Tuan Fardan, Mama tidak mengetahuinya. Papa kamu sudah ada remot kontrolnya. Entah apa tujuannya, mungkin karena ibunya Aaric meninggal, atau dendam yang lainnya." Jawab ibunya.
Albert semakin bingung dibuatnya, mana yang harus menjadi pokok permasalahannya, sungguh dirinya sangat kesulitan untuk mendapat jawaban yang benar. Ia menarik napasnya panjang, dan membuangnya dengan kasar ke sembarangan arah.
"Kamu ada apa bertanya soal itu, Al? apakah ada seseorang yang sedang melakukan balas dendam kepada Papa kamu? atau ada hal lainnya?" tanya ibunya yang juga penasaran dengan putranya sendiri.
"Aku akan terus mencari tahu soal motif pembu_nuhan Tuan Fardan."
"Untuk apa, Al? jangan sampai kamu menjebloskan Papa kamu dalam penjara. Selama ini Papa kamu hanya di adu domba, percayalah sama Mama. Mau bagaimanapun, kamu adalah anak kandungnya. Apa kamu akan tega menjebloskan Papa kamu sendiri dalam penjara? pikirkan baik-baik. Semua sudah berlalu, lupakan dan biarkan. Sekarang kamu fokus dengan tujuanmu, menikah dan hidup bahagia."
Albert yang dilarang oleh ibunya, pun sama seperti nasehat dari dokter Auno, pikirnya.
__ADS_1