
Albert lebih mendekatkan lagi, dan menarik tubuh istrinya dan terasa engap untuk bernapas.
"Lepaskan aku, aku tidak bisa bernapas." Ucap Anaya dengan perasaan takut, dirinya sama sekali tidak berani untuk menatapnya.
Tangan kirinya Albert meraih dagu milik istrinya, dan keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini banyak diam? apakah aku mencurigakan?" tanya Albert dengan tatapan yang terlihat menakutkan bagi Anaya.
Anaya menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. A-a-aku hanya penasaran saja." Jawab Anaya dengan gemetaran.
"Penasaran, kenapa?" Albert kembali bertanya.
"Tidak. Aku salah ucap." Jawab Anaya dan mengalihkan pandangannya ke lain arah.
__ADS_1
"Salah ucap kamu bilang? yakin? sebenarnya ada apa dengan diri kamu, Anaya?"
"Lepaskan aku. Aku tidak bisa bernapas. Aku mohon, lepaskan." Pinta Anaya dengan perasaan takut, bicara pun sambil menunduk.
"Katakan dengan jujur, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku, Anaya?"
"Tidak ada. Aku hanya penasaran dengan luka yang ada di punggung kamu, hanya itu saja." Jawab Anaya yang akhirnya berani mengatakannya.
"Oh. Jadi, luka ini yang membuatmu penasaran?"
"Maaf. Bukan maksud aku untuk menuduh mu, aku hanya teringat dengan masa lalu saja."
Seketika, Anaya sangat terkejut mendengarnya. Siapa orangnya yang tidak terkejut, jika apa yang tengah dipikirkannya bisa ditebak oleh Albert.
'Jadi benar, dia ini orang yang ikut andil memb_unuh orang tuaku. Tidak! kenapa bisa dia?' batin Anaya bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tahu tentang kematian ayahku? jangan-jangan, kau lah orangnya yang sudah ikut andil memb_unuh ayahku."
"Tentu saja aku tahu, karena aku mempunyai bukti yang akurat daripada kamu. Kalau iya aku yang memb_unuh ayahmu, kenapa? apakah kamu mau menjadikanku adalah musuh mu?"
Dengan sengaja, Albert mengelabuhi istrinya, karena memang ingin mengetahui sejauh mana istrinya percaya dan ingat siapa pelakunya.
Lagi-lagi Anaya kembali teringat dengan isi didalam buku diary miliknya.
'Kata-kata itu, itu yang aku tulis di buku diary milikku yang hilang. Siapa sebenarnya lelaki ini? kenapa begitu misterius. Lalu, siapa Aaric? juga, kenapa luka dan wajah begitu bertentangan?' batin Anaya yang dibuatnya semakin bingung. Juga, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
"Cepat kamu olesi punggungku, abaikan luka yang kamu lihat. Tidak perlu kamu pikirkan aku, yaitu soal kematian ayahmu. Sekalipun kamu akan menuduhku pelakunya, aku sama sekali tidak peduli." Ucap Albert yang kini sudah membelakangi Anaya.
'Aku harus menyelidiki Aaric, maka aku akan tahu jawabannya. Tapi, wajah Aaric tidak asing dalam ingatan. Semoga saja benar, memang Aaric lah pelakunya.' Batin Anaya sambil melamun.
"Cepat! kau olesi punggung ku." Perintah Albert yang langsung membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
Tanpa menjawab sama sekali, Anaya langsung mengolesi punggung suaminya. Rasa sakit hati dan penuh kecewa, Anaya seolah tengah mengobati seseorang yang sudah menghilangkan nyawa ayahnya. Sungguh sangat menyakitkan jika ternyata suaminya lah yang ikut andil dalam pembunuhan orang tuanya.
Anaya terus melamun, ingatannya kembali di waktu dirinya di sekap di sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Jarak antara penyekapan dengan jalan raya begitu jauh, membuatnya ketakutan saat melarikan diri demi keselamatan dirinya.