Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Masih saja penasaran


__ADS_3

Anaya yang ketiduran saat dirinya berbaring di atas tempat tidur, akhirnya terbangun dari tidurnya karena terdengar suara ketukan pintu kamarnya.


Terkesiap, Anaya langsung bangun dengan detak jantungnya yang tidak karuan.


"Astaga!"


Anaya bergegas membuka pintu kamar bercampur rasa takut mendapat marah dari Albert.


"Bibi, kirain Tuan Albert. Eh tapi, Tuan Albert sudah pulang ya, Bi?"


Anaya yang ketakutan, napasnya pun seolah terasa sesak seperti dikejar-kejar.


Bi Ratna justru tersenyum.


"Tuan Albert tidak pulang, Nona. Siang ini Nona tidak perlu sibuk menyiapkan makan siang untuk Tuan, tapi Nona sendiri yang diminta untuk makan siang."


"Memangnya Tuan Albert pergi kemana, Bi?" tanya Anaya penasaran.


"Tuan sedang ada keperluan, dan pulangnya nanti sore kalau gak jam tujuh malam, Nona. Jadi, Nona bisa santai untuk hari ini."

__ADS_1


"Bukannya nanti malam Tuan Albert diminta untuk datang ke rumah orang tuanya ya, Bi?"


"Itu urusan Tuan dengan Nona, Bibi tidak tahu kalau belum mendapatkan perintah dari Tuan. Lebih baik sekarang Nona makan siang dulu, Bibi sudah menyiapkan makan siang untuk Nona." Jawab Bi Ratna.


"Oh, begitu ya Bi. Eh, Bibi udah masak? yah! saya gak bantuin Bibi masak, dong. Maafin saya ya, Bi, tadi ketiduran." Ucap Anaya yang tiba-tiba teringat tidak membantu Bi Ratna masak.


"Tuan melarang Nona untuk masak, meski untuk diri Nona sendiri. Ya udah ya, Nona, Bibi mau ke dapur. Nona buruan makan siangnya, takutnya nanti Tuan menelpon dan menanyakan Nona." Jawab Bi Ratna.


"Makasih banyak ya, Bi, udah masakin buat saya." Ucap Anaya merasa tidak enak hati.


"Sama-sama, Nona. Ya uda ya, Non, Bibi mau ke dapur."


Bi Ratna mengiyakan dan segera kembali ke dapur. Sedangkan Anaya kembali menutup pintunya. Takut, jika tiba-tiba ada yang masuk tanpa permisi, pikirnya.


Setelah mencuci muka dan lainnya, Anaya segera keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


Saat sudah berada di ruang makan, Anaya merasa tidak enak hati ketika dirinya tinggal makan tanpa harus memasak. Kemudian, Anaya menemui Bi Ratna yang ada di dapur sebelum makan.


"Bi Ratna," panggil Anaya saat berada di dapur.

__ADS_1


"Ya, Nona."


"Temani saya maka yuk, Bi. Saya sendirian soalnya, Bibi belum makan juga 'kan Bi?"


"Bibi sudah makan, Nona. Maaf, Bibi tidak bisa menemani, Tuan melarang Bibi untuk menemani makan. Jadi, Nona makan sendiri saja." Jawab Bi Ratna sesuai perintah dari Tuannya.


"Dih! jahat banget sih Bi, majikannya Bibi itu, si Tuan Albert. Pelit banget lah, menemani saja gak boleh." Ucap Anaya dengan kesal.


"Tuan tidak pelit, dan juga bukannya gak boleh. Hanya saja, Bibi masih banyak pekerjaan. Setiap majikan mempunyai aturan masing-masing. Jadi, Nona harus menghargai aturan yang ada di rumah ini. Bibi merasa nyaman kok, dan tidak merasa di abaikan. Bibi sudah lama bekerja dengan Tuan Albert, tentu saja Bibi lebih paham dari pada Nona. Suatu saat nanti, Nona bakal mengerti."


"Benar-benar ya, majikannya Bibi itu misterius banget. Bahkan, sangat sulit untuk ditebak. Entahlah, sampai kapan saya akan bersabar, Bi." Ucap Anaya bingung harus berkomentar apa.


"Ya udah ya, Non, Bibi mau lanjutin kerjaan Bibi. Lebih baik sekarang Nona makan siang dulu, nanti Nona akan di antar ke salon dan ke butik sama Yusan. Jadi, siapkan diri Nona dari sekarang."


"Ke salon dan ke butik? Bibi sama saja kek majikannya, misterius."


Anaya yang merasa geram, ia langsung ke ruang makan. Bi Ratna sendiri tersenyum ketika melihat ekspresi dari Anaya.


"Semoga saja Nona Anaya yang akan menjadi istrinya Tuan Albert yang sesungguhnya. Dilihat dari sikapnya Nona, sepertinya Tuan akan mempertahankan Nona Anaya untuk menjadi istrinya. Semoga pintu hatinya Tuan Albert terbuka untuk Nona Anaya, semoga saja." Gumam Bi Ratna penuh harap, tak lupa mendoakannya.

__ADS_1


__ADS_2