
Sambil menikmati makan siang tanpa ada yang menemaninya, Anaya serasa hambar ketika mengunyah makanan.
'Benarkah nanti malam aku akan dibawa ke rumah orang tuanya Tuan Albert? kalau iya, aku harus bagaimana? sedangkan aku sendiri bukan wanita berkelas. Aih! kenapa mesti pusing mikirin hal begituan, toh aku ini sudah dibeli. Ngapain juga mikirin yang gak penting. Kalaupun aku harus pergi jauh, tentu saja sangat menguntungkan aku, dan aku bisa lepas dari rumah terk_utuk ini.' Batin Anaya sambil mengunyah makanan, juga tengah memikirkan soal ajakan ke rumah orang tua bosnya.
Cukup lama menikmati makan siang hanya seorang diri, tidak terasa sudah menghabiskan satu porsi dalam piring.
"Nona, apakah sudah selesai makan siangnya?"
Yusan pun mengagetkan Anaya yang tengah melamun. Seketika, Anaya langsung menoleh ke sumber suara.
"Kamu, ngagetin aku aja. Baru aja aku selesai makan, memangnya ada apa?"
Akhirnya Anaya beranikan diri untuk bertanya karena penasaran tentunya.
"Kalau Nona sudah selesai, silakan untuk bersiap-siap. Setelah ini saya akan mengantarkan Nona pergi ke salon dan ke butik. Jadi, Nona silakan bersiap-siap." Jawab Yusan yang tak lupa menyampaikan pesan dari bosnya.
__ADS_1
"Ke salon sama ke butik?" tanya Anaya untuk memastikannya.
"Benar, Nona. Malam nanti Nona akan diminta untuk menemani Tuan Albert datang ke rumah utama. Jadi, sebaik mungkin, Nona diminta untuk merubah penampilan. Maka dari itu, Tuan menyuruh saya untuk mengantarkan Nona pergi ke butik dan ke salon." Jawab Yusan yang akhirnya berterus terang.
"O ... gitu ya, terserah kamu saja deh kalau gitu. Aku tidak mempunyai hak apapun untuk menolak, juga aku tidak ingin kamu kena marah sama Tuan Albert." Ucap Anaya yang tidak ingin Yusan kena marah, pikirnya.
"Kalau begitu, Nona silakan bersiap-siap. Saya akan tunggu di depan rumah." Kata Yusan yang tidak ingin waktunya terbuang sia-sia.
Anaya yang memang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya segera pergi ke kamar dan bersiap-siap. Setelah mengganti pakaian, Anaya bergegas menemui Yusan di depan rumah.
"Tentu saja, Nona. Mari silakan masuk." Jawab Yusan
Anaya sendiri bergegas masuk ke dalam mobil, dan duduk bersebelahan. Cukup lama menempuh perjalanan yang cukup jauh, ternyata tidak lama sudah sampai di tempat tujuan.
Yusan memikirkan mobilnya. Kemudian, mempersilakan Anaya untuk turun ketika pintu mobil dibukakan.
__ADS_1
Anaya yang sudah sekian lama tidak pernah pergi ke butik, kini seperti mimpi ketika dirinya hendak memasuki butik mewah.
"Mari, Nona." Ucap Yusan mempersilakan Anaya untuk masuk ke dalam butik.
"Kamu serius, aku di suruh masuk?" tanya Anaya yang masih seperti tidak percaya.
"Benar, Nona. Tuan Albert yang menyuruh saya untuk merubah penampilan Nona." Jawab Yusan.
"Ya udah, terserah kamu aja." Ucap Anaya, dan bergegas masuk ke dalam butik mewah.
Saat sudah berada didalam, Anaya di sambutnya dengan hangat. Bahkan, langsung diajak ke ruang ganti untuk mencoba pakaian satu persatu dan pilih yang paling cocok.
"Mbak, keknya ini terlalu mencolok warnanya dwb. Bisa gak Mbak, warna yang kalem." Ucap Anaya protes.
"Baik, Nona. Saya akan mengambilnya." Jawabnya dan segera memilih warna yang kiranya bagus dan juga cocok untuk Anaya.
__ADS_1
Setelah menemukan warna yang pas dan juga cocok, kembali menemui Anaya.