
Anaya yang baru saja selesai membuatkan minum untuk pemilik rumah, ia segera mengantarkan wedang jahe.
Saat sampai di depan pintu, rupanya pintu kamar terbuka.
"Cepetan masuk, dan tutup pintunya." Perintah Albert yang tengah duduk di atas tempat tidur sambil bersandar dengan kedua kakinya yang diluruskan.
Masih dengan perasaan gugup dan takut, juga penampilannya yang belum ia rapikan, tidak peduli jika harus mendapat amuk dari laki-laki yang sudah membelinya.
Albert mengamati penampilan Anaya yang sudah acak-acakan tidan karuan, dirinya pun merasa risih ketika melihatnya.
"Ini wedang jahenya, Tuan." Ucap Anaya setengah menunduk sambil menyodorkan satu gelas wedang jahe, takut akan mendapatkan amukan dari Albert.
Tanpa menjawab, Albert langsung menerimanya, dan juga meminumnya. Setelah itu, Albert mendongak dan memperhatikan Anaya yang masih terlihat setengah menunduk.
"Sudah malam, kembali ke kamarmu. Besok pagi-pagi kamu harus bangun lebih awal, jangan sampai aku yang membangunkan kamu, paham. Tugasmu, beresin isi ruangan ini, dan siapkan segala keperluanku untuk mandi. Juga, kamu yang harus membuatkan sarapan pagi untukku. Satu lagi, jangan pernah mau menerima bantuan siapapun saat aku menyuruhmu. Kamu boleh minta diajarin, tapi tidak untuk dibantu, paham." Ucap Albert yang baru saja minum wedang jahe buatan Anaya.
__ADS_1
"Bab-baik, Tuan." Jawab Anaya sambil menunduk.
"Cepat! kau segera keluar dari kamarku." Perintah Albert dengan suara yang cukup keras.
Anaya yang sudah ketakutan, langsung keluar dari kamar yang menurutnya sangatlah menakutkan. Bahkan, lebih horor dari pada hal mistis, pikir Anaya yang buru-buru keluar dari kamar.
Setelah keluar dari kamar, Anaya yang terasa haus, ia bergegas ke dapur untuk minum, sekalian untuk dibawa ke kamar.
"Nona, tunggu." Panggil Bi Ratna saat melihat Anaya hendak masuk ke dapur.
"Bibi minta maaf ya, Non. Bibi nyesel, gara-gara Bibi, Nona harus kena marah sama Tuan. Lain kali Bibi tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Bi Ratna yang masih dihantui perasaan menyesal.
Anaya tersenyum.
"Tidak apa-apa kok, Bi. Saya tidak marah, mungkin memang Tuan Albert lagi sensitif, jadi mudah marah. Ya udah ya, Bi, saya mau ke dapur, mau ambil minum, juga mau langsung istirahat." Jawab Anaya langsung pamit untuk istirahat.
__ADS_1
"Makasih ya, Non. Kalau Nona membutuhkan sesuatu, bilang aja sama Bibi." Ucap Bi Ratna, sedangkan Anaya mengangguk dan tersenyum.
"Ya, Bi, selamat malam." Jawab Anaya dan masuk ke dapur.
Setelah itu, Anaya kembali ke kamar untuk istirahat. Lain lagi dengan Albert, bukannya tidur malah bergadang di ruang privasinya.
"Sialan! kenapa juga aku tidak bisa tidur, ini semua gara-gara polisi-polisi tadi itu. Andai saja tidak ada masalah, pasti malam ini aku berhasil mengirimkan barang permintaan. Apa iya, aku harus ganti haluan. Apa mendingan menjadi hacker, jauh lebih untung dan tidak terus-menerus melakukan pengiriman barang. Duduk santai sambil beroperasi dalam rumah, intinya otakku tidak tidur." Ucapnya sendirian sambil memperhatikan layar komputer miliknya.
Merasa bosan dengan pekerjaannya yang harus menyita waktu, dan harus kejar-kejaran dengan anggota polisi, Albert ingin memutuskan untuk tidak bekerja di malam hari.
"Ya! aku harus berhenti mulai sekarang, dan aku putuskan untuk beralih dengan pekerjaanku yang baru." Ucapnya lagi sambil memikirkan keputusan yang akan ia ambil.
Ketika otak dan pikirannya sudah bulat dengan keputusan yang ia ambil, Albert bergegas untuk kembali ke kamar dan istirahat.
Dengan rasa sakit di bagian kaki dan tangan, tidak membuatnya menyerah. Justru, Albert ingin melakukan pekerjaan barunya.
__ADS_1
Tidak peduli apa yang didapatkan, dirinya merasa bangga ketika bisa menghasilkan uang tanpa menjadi penikmat harta warisan dari orang tuanya. Apa artinya harta warisan, jika hidupnya penuh tekanan dan peraturan, pikir Albert atas pendapat yang ia punya.