
Cukup lama mengurut kakinya Anaya, Albert mulai berani mendongak kembali.
"Coba kamu gerakkan bagian pergelangan kakimu, bagaimana rasanya? katakan saja kalau masih sakit. Nanti aku akan mengantarkan kamu ke tukang urut."
Anaya yang mendapat perintah dari Albert, pun nurut dan mencoba untuk menggerakkan di bagian pergelangan kakinya.
Pelan-pelan Anaya menggerakkan pergelangan kakinya. Senyum sumringah tengah menghiasi kedua sudut bibirnya.
"Serius nih, kaki aku udah gak begitu sakit, Tuan." Anaya tersenyum senang, lalu mendongak dan menatap wajahnya Albert.
Saat itu juga, Albert tersenyum melihatnya.
"Terima kasih banyak ya, Tuan. Sudah mau mengurut kaki aku. Maaf juga, kalau aku udah banyak merepotkan." Sambungnya lagi.
"Gak perlu kamu bahas. Itu kaki kenapa kamu membiarkan lukanya seperti itu? apa kamu gak melakukan pengobatan yang bisa menghilangkan lukanya?"
Karena masih menyimpan rasa penasaran, akhirnya Albert membuka obrolan soal luka yang ada di kakinya Anaya.
"Saat itu ayahku meninggal, dan aku..."
__ADS_1
"Kenapa dengan kamu?" Albert kembali bertanya karena penasaran dengan Anaya yang berhenti bicara.
"Aku hanya tinggal dengan ibu tiri aku, dan aku mulai kekurangan perhatian darinya. Juga, segala fasilitas yang dimiliki ayahku, habis tidak tersisa oleh ibu tiri aku. Hingga detik itu, aku dijual oleh Tuan." Jawab Anaya.
"Ibu kandung kamu kemana?"
"Ibu kandung aku sudah meninggal lama, sejak aku masih sangat kecil." Jawab Anaya sambil tertunduk sedih.
"Terus, ayah kamu meninggal karena apa?" tanya Albert kembali, lantaran semakin tertarik dengan obrolan dari Anaya.
"Di bun_uh oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab." Jawab Anaya masih tertunduk sedih.
Albert semakin penasaran dengan cerita dari Anaya.
"Tentu saja aku tahu, karena aku bersama ayahku. Kami di sekap di sebuah gudang yang berada di hutan, ayahku diminta untuk menandatangani surat. Kalau ayah menolak, maka nyawaku yang akan melayang. Tapi, setelah ayahku menandatangani surat itu, nyawa ayah aku yang melayang." Jawab Anaya yang langsung menangis sesenggukan.
"Apa! ayah kamu sudah menandatangani surat, lalu ayah kamu dibunuh? terus, bagaimana ceritanya kamu bisa selamat?"
"Aku kabur, aku lari dengan sekuat tenagaku, dan aku pulang. Waktu itu aku masih kecil."
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Albert seolah tak berdaya ketika mendengar semua cerita dari Anaya. Bahkan, napasnya pun terasa berat.
'Jadi, orang yang dibunuh oleh Papa sama Aariic itu adalah ayahnya Anaya.' Batin Albert yang langsung memeluk erat tubuh Anaya secara reflek hingga kesulitan untuk bernapas.
"Tuan, Tuan, lepaskan. Tuan, aku tidak bisa bernapas." Panggil Anaya yang kesulitan bernapas karena Albert telah memeluknya dengan erat.
Albert yang tengah dikagetkan, langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku terbawa dengan kesedihan mu. Aku doakan, semoga kamu segera menemukan pelakunya. Kalau kamu butuh bantuan, katakan saja padaku." Jawab Albert yang mendadak perhatian.
Anaya sendiri merasa heran dengan sikap Albert yang tiba-tiba kelihatan aneh dan jauh sekali perbandingannya dengan sikap yang sebelumnya. Tentu saja Anaya seperti tidak percaya sama Albert.
"Terima kasih, Tuan." Ucap Anaya yang tidak tahu harus bicara apa, Albert mengangguk.
"Sepertinya hujannya udah reda, bagaimana kalau kita langsung pulang saja?"
"Baik, Tuan. Sekali lagi terimakasih sudah mengurut kaki saya yang sakit."
Albert tidak menjawab, dan memilih untuk bangkit dari posisinya.
__ADS_1