
Terasa penas ketika harus membahas soal ayahnya, Albert memilih untuk meninggalkan ibunya di ruangan miliknya.
"Aku pergi. Kalau Mama ingin istirahat, istirahatlah. Mama tak perlu khawatirkan aku. Satu lagi, aku tidak mengizinkan Mama untuk dekat dengan Anaya, apapun alasannya." Ucap Albert sebelum pergi memberi peringatan kepada ibunya.
"Kenapa tidak boleh dekat dengan Anaya? ada apa sebenarnya kamu ini, Al?"
"Aku belum bisa mengatakannya sekarang. Intinya aku melarang Mama untuk dekat dengannya. Kalau sampai Mama dekat, jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu pada Mama." Jawab Albert yang merasa belum siap untuk mengatakannya dengan jujur.
Albert yang tidak ingin ibunya dekat dengan Anaya, yaitu takut jika nantinya ibunya akan bercerita mengenai tentang dirinya soal masalah dengan ayahnya. Lalu bercerita juga dengan masa lalunya, dan semua akan terbongkar, termasuk kema_tian ayahnya dan lelaki yang sudah diselamatkan, pikir Albert yang memilih untuk berjaga-jaga. Dan yang lebih ditakutkan lagi, kedatangan ibunya adalah sandiwara dari ayahnya untuk menyelidiki Anaya.
Tidak ingin terjadi sesuatu pada diri Anaya, sebisa mungkin Albert berusaha untuk melindunginya dari ayahnya maupun adiknya.
Ibunya yang merasa ada yang aneh kepada putranya, pun ingin tahu kebenarannya.
"Tunggu. Mama ingin bertanya lagi denganmu."
Albert yang baru saja hendak membuka pintu, langsung berhenti. Kemudian, ia memutarbalikkan badan dan menghadap ibunya kembali.
"Ada apa lagi, Ma?" tanya Albert.
"Katakan sama Mama, ada masalah apa kamu dengan Anaya? sampai-sampai kamu melarang Mama untuk tidak dekat dengannya? apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"
Ibunya kembali bertanya, lantaran rasa penasaran yang ingin tahu jawaban dari putranya.
__ADS_1
"Mama benar-benar ingin tahu, iya kah?"
"Tentu saja Mama ingin tahu."
'Maafkan aku, Ma. Untuk saat ini aku masih menaruh curiga kepada Mama, dan juga Aaric bisa saja, ini semua akal-akalan Papa dan anak kesayangannya itu.' Batin Albert.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan dari ibunya, justru Albert langsung membuka pintu dan keluar begitu saja.
"Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan oleh anakku? kenapa tiba-tiba Albert melarang aku untuk dekat dengan Anaya? ada apa sebenarnya? mungkinkah ada sesuatu yang benar-benar sangat rahasia? aku menjadi penasaran." Gumamnya dan ikut bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Sedangkan Albert tengah menuju kamar yang ditempati oleh Anaya. Sampainya di depan pintu, Albert membuka pintu kamar tamu hanya menggunakan kode, pintu pun terbuka dengan sendirinya.
Alangkah terkejutnya Anaya saat Albert masuk ke kamar tanpa permisi.
"Tut-Tuan."
Saat itu juga, Anaya dengan reflek menyambar selimut yang ada di dekatnya, kemudian langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Perlahan dia mundur dan mentok pada kepala ranjang tempat tidur.
"Kamu kenapa? demam?" tanya Albert mendekati.
Anaya yang mendapat pertanyaan dari Albert, pikirannya langsung melanglang tidak karuan.
'Mampus aku. Apa yang akan dia lakukan terhadapnya diriku ini? akankah dia mau memp_erkosa aku? oh tidak. Aku tidak izinkan semua ini terjadi.' Batin Anaya penuh dengan ketakutan.
__ADS_1
Albert mengernyit, merasa aneh terhadap Anaya itu sudah pasti. Lebih lagi menutupi tubuhnya dengan selimut, tentu merasa aneh atas sikapnya.
Namun, tiba-tiba dirinya baru menyadarinya.
Bukannya mengatakan apa tujuannya masuk ke kamar. Justru Albert merasa senang untuk menakuti Anaya sekaligus mengerjainya.
"Jangan mendekatiku, pergi sana pergi."
Sebisa mungkin Anaya mengusir Albert agar keluar dari kamar.
Sedangkan Albert sendiri bukannya segera mengatakan apa tujuannya masuk ke kamar, namun justru dirinya semakin bersemangat untuk menakuti Anaya.
Albert sengaja duduk di dekatnya Anaya, dan duduk yang lebih dekat lagi. Anaya semakin ketakutan dibuatnya.
Kemudian, Albert dengan sengaja meraih dagunya dan diangkatnya tepat menatap dirinya.
Dengan berani, Albert mendekati wajah Anaya dan terlihat semakin dekat lagi jarak diantara keduanya. Albert memang sengaja sedikit menekan, namun tidak begitu kuat, yakni hanya ingin mengerjainya.
Kemudian, Albert mendorong dagunya.
"Siapa juga yang mau menci_um bibir kamu, pasti pahit rasanya. Hari ini aku mau memperingatkan kamu soal ibuku. Aku melarang keras kepadamu, yakni untuk tidak dekat dengan ibuku, apapun alasannya. Kalau sampai kamu melanggar, maka bersiap-siaplah untuk melayaniku kapanpun aku mau, ngerti kamu." Ucap Albert memberi ancaman terhadap Anaya.
Anaya hanya bisa nurut, meski sebenarnya justru dirinya menjadi penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Albert.
__ADS_1
"Hari ini aku akan keluar. Yusan yang akan mengawasi kamu dan ibuku. Jadi, kamu dan ibuku tidak akan bisa banyak mengobrol, paham." Ucap Albert, sedangkan Anaya sendiri hanya bisa mengangguk.
Albert yang sudah memberi ancaman dan peringatan kepada Anaya dan ibunya, ia segera pergi.